Konten dari Pengguna

7 Karakteristik Teks Hikayat, Contoh dan Nilai yang Terkandung di Dalamnya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi karakteristik teks hikayat. sumber: www.unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi karakteristik teks hikayat. sumber: www.unsplash.com

Teks hikayat merupakan salah satu bentuk sastra lisan atau tertulis yang memiliki ciri khas tersendiri. Hikayat sering kali mengisahkan peristiwa-peristiwa heroik, keberanian, atau petualangan tokoh-tokoh utamanya. Ada beberapa karakteristik teks hikayat yang menjadikannya berbeda dengan teks lainnya.

Menurut buku Sastra Indonesia Untuk Siswa Madrasah Aliyah (MA), Cikawati (2020:4), hikayat merupakan karya sastra prosa lama yang mengisahkan ceritacerita kerajaan dan orang-orang yang memiliki kesaktian. Keanehan-keanehan yang diceritakan terkadang di luar nalar atau logika.

Karakteristik Teks Hikayat yang Perlu Diketahui

Ilustrasi karakteristik teks hikayat. sumber: www.unsplash.com

Hikayat termasuk ke dalam jenis cerita rakyat. Isi dari hikayat ini berupa cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat tersebut.

Selain itu, hikayat biasa dibaca untuk pelipur lara atau menghibur, pembangkit semangat juang, meramaikan pesta, atau sekadar menyampaikan nilai-nilai luhur. Berikut karakteristik teks hikayat untuk diketahui.

1. Kemustahilan

Karakteristik hikayat yang paling umum adalah kemustahilan, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Artinya, cerita yang disampaikan dalam bentuk hikayat tidak logis atau tidak bisa dinalar.

2. Kesaktian

Selain kemustahilan, sering kali dapat ditemukan kesaktian para tokoh dalam sebuah hikayat. Karakteristik jenis ini mudah ditemukan dalam hikayat yang mengisahkan raja-raja.

3. Anonim

Salah satu ciri hikayat adalah anonim atau tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarangnya. Hal tersebut disebabkan cerita disampaikan secara lisan.

Bahkan, dahulu masyarakat mempercayai bahwa cerita yang disampaikan adalah nyata dan tidak ada yang sengaja mengarang.

4. Latar Belakang Kehidupan Istana

Hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan. Selain itu, latar tempat dalam cerita tersebut adalah negeri yang dipimpin oleh raja dalam suatu kerajaan.

5. Disebarkan secara Lisan

Penyebaran hikayat dilakukan secara lisan yang membuatnya dapat tersampaikan dengan cepat dibandingkan dengan menggunakan media tulisan.

Selain itu, melalui budaya lisan, masyarakat juga mampu lebih intens memberikan nilai-nilai positif yang terdapat dalam cerita, sehingga pesan moralnya akan tersampaikan dengan cepat dan efektif.

6. Tradisional

Karakteristik hikayat lainnya adalah tradisional, yakni mempertahankan kebiasaan masyarakat zaman dulu atau adat istiadat. Hal ini menjadikan karya tersebut klise dalam susunan atau cara pengungkapannya.

7. Mendidik Moral atau Religius

Nilai moral merupakan unsur ekstrinsik yang mempengaruhi karya sastra. Umumnya, para penulis tidak menuliskan nilai tersebut secara eksplisit, melainkan tersirat dalam cerita.

Pembaca harus membaca karya tersebut secara tuntas terlebih dahulu agar nilai-nilai kehidupan dapat dirasakan.

Baca juga: Unsur Kebahasaan dalam Teks Biografi Bahasa Indonesia

Contoh dan Nilai yang Terkandung dalam Teks Hikayat

Ilustrasi karakteristik teks hikayat. sumber: www.unsplash.com

Agar lebih jelas memahami teks hikayat, berikut contoh yang dapat dicermati.

Contoh “Hikayat Abu Nawas dan Lalat”

Suatu hari Baginda Raja membongkar rumah dan tanah Abu Nawas begitu saja untuk menemukan emas dan permata. Namun, ternyata emas dan permata yang katanya berada di dalam tanah milik Abu Nawas hanyalah rumor. Setelah tidak menemukan emas dan permata, Baginda Raja bukannya meminta maaf dan mengganti kerugian, tetapi malah pergi begitu saja.

Abu Nawas pun marah dan ingin balas dendam. Saat sedang makan bersama istrinya, dia menemukan seekor lalat di meja makan dan dia pun tertawa karena menemukan ide untuk balas dendam. Kepada Baginda Raja, Abu Nawas mengaku hendak melaporkan perlakuan tamu tidak diundang.

“Siapakah tamu tidak diundang itu?” tanya Baginda.

“Lalat-lalat ini, Tuanku,” kata Abu Nawas yang membawa lalat di atas piring yang tertutup tudung saji.

Abu Nawas pun meminta izin untuk mengusir lalat-lalat itu. Baginda Raja yang sedang berkumpul bersama para menteri pun langsung memerintahkan Abu Nawas mengusir lalat itu.

Bermodalkan tongkat besi, Abu Nawas pun mengejar dan memukuli lalat itu hingga vas bunga, patung hias, dan perabotan istana hancur karenanya. Akhirnya Baginda Raja menyadari kekeliruannya. Abu Nawas yang puas memberikan pelajaran pada Baginda Raja pun meminta izin pulang.

Dalam hikayat ini, terkandung nilai pendidikan atau edukasi. Nilai pendidikan ini berhubungan dengan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang untuk mendewasakan manusia melalui pengajaran dan latihan.

Seperti hikayat Abu Nawas yang mendidik Baginda Raja untuk menyadari kekeliruan sikapnya.

Dengan karakteristik teks hikayat, hikayat tidak hanya menyajikan cerita yang menghibur, tetapi juga menyimpan nilai-nilai yang dapat memberikan inspirasi dan pemahaman lebih dalam terhadap kehidupan.

Oleh karena itu, membaca atau mendengarkan hikayat dapat menjadi pengalaman yang memuaskan dan memberi pengajaran yang berharga. (VAN)