Konten dari Pengguna

8 Contoh Wangsalan Padinan dalam Sastra Jawa

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh wangsalan padinan dalam sastra Jawa. Sumber foto: Pixabay/OlyaLole
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh wangsalan padinan dalam sastra Jawa. Sumber foto: Pixabay/OlyaLole

Contoh wangsalan padinan merupakan perumpamaan yang sering digunakan dalam lagu atau percakapan. Istilah wangsalan diartikan sebagai teka-teki yang dapat digunakan untuk menyampaikan nasihat atau makna dalam kalimat.

Ciri utama wangsalan ialah menggunakan petunjuk untuk menjawab batangan atau tebusan yang ada di dalam kalimat pernyataannya. Setiap wangsalan tidak dapat berdiri sendiri tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Pengertian Wangsalan

Ilustrasi pengertian wangsalan. Sumber foto: Pixabay/StockSnap

Wangsalan menjadi salah satu puisi lama yang terikat oleh persyaratan tertentu dalam penulisan atau pengucapannya. Mengutip dari buku Budaya Dermayu Nilai-Nilai Historis, Estetis dan Transendental oleh Supali Kasim (2012:164), wangsalan adalah kalimat yang mengungkapkan maksud atau kehendak dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud tertentu.

Wangsalan terdiri dari dua baris, yaitu baris pertama sampiran dan baris kedua merupakan isi yang berguna untuk menyampaikan pesan kepada pembaca atau pendengar.

Dalam penggunaannya wangsalan berfungsi sebagai teka-teki murni yang dapat digunakan untuk menyindir seseorang atau memberikan saran. Tentu saja ini selaras dengan masyarakat Jawa yang tidak ingin menyampaikan sesuatu secara langsung.

Dalam teka-teki atau wangsalan ini terdapat beberapa jenis, yakni wangsalan lamba, wangsalan rangkep, wangsalan memet, wangsalan edipeni, wangsalan ing sekar, dan wangsalan padinan.

Contoh Wangsalan Padinan

Ilustrasi contoh wangsalan padinan. Sumber foto: Unplash/Hümâ H. Yardım

Wangsalan padinan adalah teka-teki atau tebakan yang biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Isi dari jenis wangsalan ini lebih sederhana jika dibandingkan jenis wangsalan yang lain karena tidak perlu membedah isi di dalam teka-tekinya.

Hal ini disebabkan karena pendengar atau lawan bicara dianggap sudah memahami isi teka-teki yang ada di dalam kalimatnya. Berikut adalah beberapa contoh wangsalan padinan dalam bahasa Jawa.

  1. Wong kae sejatine wes krungu kandhaku, nanging njangan gori. (Jangan gori = gudheg —> budheg (tidak mendengar)).

  2. Yen durung ngerti mbok takon, ora mung ngembang duren. (Kembang duren = dlongop —> dlongap-dlongop).

  3. Mbok aja ngrokok cedhak. (Cedhak = neges-neges).

  4. Kowe iku, kok mung putra bebek (Putra bebek = meri (iri)).

  5. Wong mung guyon wae kok banjur mentil kacang. (Pentil kacang = besengut (marah)).

  6. Jenang gula mas. Welingku wingi! (Jenang gula = gulali —> ojo lali (jangan lupa)).

  7. We, kok banjur ngewoh kesambi. (Woh kesambi = kucacil).

  8. Nyaron bumbung, cengklungen anggonku ngenteni! (Cengklungen = angklung).

Itu tadi 8 contoh wangsalan padinan dalam bahasa Jawa. Semoga informasi di atas dapat menambah pengetahuan sehingga bisa menjadi referensi pembelajaran. (NTA)

Baca juga: 3 Contoh Wangsalan dan Jenisnya, Sebagai Bagian dari Sastra Jawa