9 Contoh Kalimat Tembung Garba dalam Bahasa Jawa

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembung garba adalah istilah kata dalam bahasa Jawa yang dipakai dengan cara meringkas dua kata atau lebih dengan cara mengurangi suku katanya. Contoh tembung garba biasanya ditemukan pada tembang macapat untuk memenuhi syarat guru wilangan.
Dikutip dari buku Kamus Linguistik (Edisi Keempat), Harimurti Kridalaksa (2008:239), tembung garba adalah bahasa yang disatukan dengan memakai sandi sehingga menjadi satu kata.
Contoh Kalimat Tembung Garba
Tembung garba terkadang sulit dipahami artinya karena istilahnya yang menjadi agak asing karena jarang dipakai dalam pembicaraan sehari-hari. Untuk melatih diri memahaminya, berikut di bawah ini beberapa contoh kalimat tembung garba dalam bahasa Jawa.
1. Aneng
Aneng adalah tembung garba yang terkadang dipakai dalam dalam keseharian orang Jawa, meskipun jarang. Kata “aneng” berasal dari gabungan kata “ana” + “ing”. Kata “ana” bermakna “ada”, sedangkan “ing” berarti “di”.
Jadi, kata “aneng” memiliki arti “ada di”. Biasanya, kata ini dipakai untuk menyampaikan keberadaan seseorang maupun subjek tertentu. Adapun berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.
Rina aneng pasar lagi tuku sayur. (Rina ada di pasar membeli sayur.)
Pulpenku sing warna ungu aneng ngendi? (Pulpenku yang warna ungu ada di mana?)
Sekolah e Adikku aneng Surabaya (Sekolahnya adikku ada di Surabaya)
2. Sinom
Sinom adalah istilah yang tidak asing bagi orang-orang Jawa. Namun, terkadang beberapa dari mereka tidak tahu apa arti dari kata ini. Arti dari sinom adalah masih muda.
Sinom berasal dari kata “isih” yang bermakna masih dan “enom” yang berarti muda. Berikut di bawah ini contoh dari kalimat yang memakai kata sinom.
Ajeng lan Budi rabi pas sinom. (Ajeng dan Budi menikah saat masih muda)
Sapiku sinom, ojo dituku dhisik (Sapiku masih muda, jangan dibeli dulu).
Adikmu sinom, urung oleh nyetir mobil (Adikmu masih muda, belum boleh menyetir mobil).
3. Tankocap
Tankocap adalah kata yang jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Namun, terkadang kalimat ini dipakai dalam tembang macapat.
Tankocap berasal dari kata “tanpa” + “ucap” atau dapat diartikan tanpa ucapan. Berikut di bawah ini beberapa contoh pemakaiannya dalam kalimat.
Ibumu ngalih saka omah tankocap amarga nesu. (Ibumu pergi dari rumah tanpa ucapan karena marah)
Herman wis ditulungi karo Adi, nanging ngalih tankocap matursuwun. (Herman sudah dibantu oleh Adi, tapi pergi tanpa berucap terima kasih).
Aja dolan tankocap pamit karo bapak. (Jangan pergi main tanpa ucapan pamit pada bapak).
Baca Juga: 30 Contoh Tembung Entar dalam Bahasa Jawa dan Artinya
Demikian beberapa contoh kalimat tembung garba yang ada dalam bahasa Jawa. Tembung garba ini patut dilestarikan untuk mendukung keragaman bahasa daerah pada suku Jawa. (SLM)
