Apa itu Tradisi Sekaten? Inilah Sejarah dan Prosesinya

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu tradisi sekaten? Sekaten adalah tradisi yang diselenggarakan oleh umat Islam di beberapa kota di Jawa menjelang Maulid Nabi.
Di Yogyakarta, sekaten diselenggarakan oleh keraton dalam rangkaian garebeg selama sepekan. Tradisi ini juga menjadi atraksi wisata yang sangat ditunggu wisatawan dan masyarakat setempat.
Apa itu Tradisi Sekaten? Ini Penjelasannya
Apa itu tradisi sekaten? Sekaten adalah perpaduan antara kegiatan dakwah dan seni yang dilakukan menjelang Maulid Nabi Muhammad saw. Tradisi sekaten dimulai dari Kerajaan Demak, lalu menyebar ke keraton-keraton di Yogyakarta, Solo dan Cirebon.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang tradisi sekaten, berikut ini adalah sejarah dan prosesi sekatan.
1. Sejarah Sekaten
Ada pendapat yang mengatakan bahwa sekaten berasal dari Kerajaan Demak, yaitu pada masa pemerintahan Raden Patah sekitar abad ke-16. Pada saat itu pengaruh Walisanga di Kerajaan Demak sangat besar sehingga Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa.
Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu wali dari Walisanga menggunakan gamelan Kanjeng Kiai Sekati untuk menarik perhatian masyarakat dalam dakwah. Cara-cara tersebut digunakan Sunan Kalijaga ketika mengunjungi kerajaan-kerajaan lain di Jawa.
Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa sekaten berasal kata syahadatain, yang artinya dua kalimat syahadat.
2. Prosesi Sekaten
Salah satu kerajaan yang melaksanakan sekaten adalah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta menyelenggarakan 3 kali garebeg dalam setahun. Sekaten dilakukan pada saat Garebeg Mulud (Maulid).
Sekaten atau Garebeg Mulud diselenggarakan selama seminggu hingga tanggal 11 Rabiul Awal. Berikut ini adalah prosesi sekaten di Keraton Yogyakarta, yang dikutip dari www.kratonjogja.id.
Miyos Gangsa, yaitu keluarnya gamelan Kiai Gunturmadu dan Nagawilaga dari keraton untuk ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe.
Numplak Wajik, yaitu menempatkan penganan wajik di tengah Gunungan Wadon yang berada di Plataran Kemagangan.
Mbusanani Pusaka, mengganti kain pelindung pusaka di Gedhong Jene.
Bethak, yaitu prosesi menanak nasi di Bangsal Sekar Kedhaton.
Kundur Gangsa, yaitu kembalinya gamelan ke keraton yang menandai selesainya sekaten.
Meski sekaten sudah selesai, tapi garebeg belum selesai sehingga ada kelanjutannya hingga Maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal. Lanjutan rangkaian garebeg tersebut adalah Pasowanan Garebeg, Kundur Gunungan Bromo dan Bedhol Songsong.
Penjelasan tentang apa itu tradisi sekaten di atas sedikit berbeda dengan tradisi sekaten di Keraton Surakarta dan Keraton Kanoman Cirebon. Namun secara garis besar, tradisi sekaten merupakan tradisi yang berkaitan dengan Maulid Nabi. (lus)
Baca juga: Materi Maulid Nabi Singkat, Sejarah, Tradisi dan Amalannya
