Konten dari Pengguna

Apakah yang Dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3):67?

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Sumber: Pexels/EmreAtesoglu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Sumber: Pexels/EmreAtesoglu

Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Dalam membaca dan memahami Al-Quran, umat Islam sering kali menemui istilah yang membutuhkan penjelasan lebih detail.

Untuk memahami makna sebenarnya, umat Islam perlu menelusuri konteks sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya. Pemahaman yang tepat sangat penting agar bisa dipahami sesuai maksud aslinya.

Apakah yang Dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Ini Penjelasannya

Ilustrasi Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Sumber: Pexels/PokRie

QS. Ali Imran ayat 67 berbunyi:

مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya:

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri (muslim). Dia bukan pula termasuk (golongan) orang-orang musyrik."

Lantas, Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Menurut buku Nutrisi Jiwa karya Parastuti, Nina Nin, dan Hanna Nadzira (2021), kata “hanif” mengandung makna seseorang yang taat kepada Allah Swt. atau jauh dari kemusyrikan.

Allah Swt. menegaskan kepada pihak-pihak yang memperdebatkan siapa sebenarnya Nabi Ibrahim. Kaum Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agamanya. Namun, klaim tersebut tidak didasarkan pada bukti yang sahih, melainkan hanya asumsi.

Kebenaran sejatinya datang dari wahyu Allah Swt., yang diyakini oleh umat Islam. Dalam Islam, Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang berpegang teguh pada tauhid dan mengajarkan nilai-nilai yang juga menjadi dasar ajaran Islam.

Maka jelas bahwa Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan hamba Allah yang taat, selalu mengikuti petunjuk-Nya, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.

QS. Ali Imran ayat 67 menunjukkan bahwa meskipun banyak golongan mengklaim Nabi Ibrahim sebagai bagian dari kepercayaannya, tidak ada satu pun golongannya yang mengikuti ajaran beliau secara benar.

Selain itu, Nabi Ibrahim juga tidak mengikuti ajaran orang-orang kafir Quraisy dan beberapa suku Arab lainnya. Nabi Ibrahim adalah seorang Muslim sejati, yang mengesakan Allah dan tidak pernah menyekutukan-Nya sedikit pun.

Apakah yang dimaksud dengan Al-Hanafiyyat pada QS. Ali Imran (3): 67? Kata “hanif” mengandung makna seseorang yang bertauhid atau taat kepada Allah Swt. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah Nabi Ibrahim yang jauh dari kemusyrikan. (ALF)

Baca juga: Pengertian Iman Kepada Allah menurut Surah Al-A'raf Ayat 179 dalam Islam