Konten dari Pengguna

Bagaimana Pola Hubungan Antar Pusat Pendidikan Dalam Sekolah? Ini Penjelasannya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagaimana Pola Hubungan Antar Pusat Pendidikan Dalam Konteks Sekolah Bapak/Ibu? Sumber: Pexels/CDC
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagaimana Pola Hubungan Antar Pusat Pendidikan Dalam Konteks Sekolah Bapak/Ibu? Sumber: Pexels/CDC

Ki Hajar Dewantara memiliki salah satu sistem pendidikan yang saat ini mulai digunakan kembali, yaitu mengenai pola hubungan antar pusat pendidikan atau Trisentra. Penggunaan sistem ini tentu memunculkan banyak pertanyaan, salah satunya bagaimana pola hubungan antar pusat pendidikan dalam konteks sekolah bapak/ibu?

Sistem Trisentra (Tri Pusat Pendidikan) Ki Hajar Dewantara adalah konsep pendidikan holistik yang menekankan sinergi tiga lingkungan utama dalam membentuk manusia seutuhnya. Ketiga lingkungan tersebut adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ketahui Bagaimana Pola Hubungan Antar Pusat Pendidikan dalam Konteks Sekolah Bapak/Ibu

Ilustrasi Bagaimana Pola Hubungan Antar Pusat Pendidikan Dalam Konteks Sekolah Bapak/Ibu? Sumber: Pexels/RDNE Stock Project

Mengutip Buku Ajar Pendidikan Karakter Anak SD/MI, Prio Utomo (2021:68), Tri Pusat Pendidikan merupakan sarana yang tepat dalam menanamkan dan membentuk karakter siswa. Lalu, bagaimana pola hubungan antar pusat pendidikan dalam konteks sekolah bapak/ibu?

Pola hubungan antar pusat pendidikan dalam Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara idealnya bersifat kolaboratif, ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat saling berinteraksi. Berikut ini penjelasan lebih lengkap mengenai pola hubungan antar pusat pendidikan dalam sekolah yang penting untuk diketahui.

1. Hubungan Keluarga dan Sekolah

Keluarga adalah pusat pendidikan paling pertama dan utama, tempat terbentuknya nilai-nilai moral, agama, dan perilaku sosial anak secara alami melalui interaksi sehari-hari. Dalam konteks sekolah, idealnya terdapat komunikasi sinergis antara orang tua dan guru, bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga perkembangan karakter anak.

Misalnya, melalui pertemuan rutin, kelas kunjung, dan workbook refleksi anak, orang tua tidak hanya menyerap laporan, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam membimbing dan melanjutkan pendidikan di rumah. Dengan demikian, nilai yang dibangun di keluarga diperkuat dan diperkaya oleh lingkungan sekolah.

2. Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Sekolah merupakan lembaga kualitas formal yang berfungsi sebagai balai wiyata, mengembangkan kecerdasan, budi pekerti, dan keterampilan siswa.

Namun, pembelajaran tidak berhenti di gedung sekolah; masyarakat menyediakan ruang aktualisasi lewat budaya lokal, kegiatan sosial, dan aktivitas kepemudaan, sehingga siswa menerapkan ilmu dan nilai dalam konteks nyata.

Contohnya adalah program bakti sosial, kerajinan lokal, atau lomba budaya desa, yang mendorong siswa menjadi agen perubahan dalam masyarakatnya, sekaligus belajar bertanggung jawab dan menghargai tradisi.

3. Hubungan Keluarga dan Masyarakat

Keluarga dan masyarakat berada pada poros pendidikan informal bersama-sama. Keluarga mengajak anak untuk mengenal dan menghargai norma, ritual, dan budaya komunitas. Misalnya, melalui tradisi lintas generasi, gotong royong, atau keagamaan lokal.

Jika hubungan ini harmonis, anak akan tumbuh sebagai individu yang peka terhadap keanekaragaman, mampu bergaul dan beradaptasi dalam kelompok, serta menghormati perbedaan. Peran aktif orang tua sebagai peserta dalam komunitas memperkuat nilai-nilai yang ditanam sejak di rumah, dan menyatu dalam realitas sosial yang lebih luas.

Jadi, bagaimana pola hubungan antar pusat pendidikan dalam konteks sekolah bapak/ibu? Pola hubungan antar pusat pendidikan dalam Trisentra menegaskan bahwa pendidikan yang utuh terjadi saat keluarga, sekolah, dan masyarakat saling terhubung, bukan berdiri sendiri. Setiap pusat berkontribusi sesuai fungsinya dengan hubungan yang harmonis dan kolaboratif. (BAI)

Baca Juga: Materi Pendidikan Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara