Konten dari Pengguna

Bolehkah Beras Zakat Dizakatkan Lagi? Ini Penjelasannya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bolehkah beras zakat dizakatkan lagi. Sumber: Pixabay/allybally4b
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bolehkah beras zakat dizakatkan lagi. Sumber: Pixabay/allybally4b

Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap umat Islam yang mampu. Seorang dinilai mampu ketika dirinya memiliki sisa makanan pokok untuknya dan keluarganya di hari Raya Idulfitri. Namun, bolehkah beras zakat dizakatkan lagi?

Dikutip dalam buku Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf oleh Dr. Qodariah Barkah, M.H.I., dkk (2020:4) zakat bermakna mengeluarkan sebagian harta yang telah diwajibkan oleh Allah swt untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Salah satu harta yang bisa dibayarkan untuk zakat yaitu hasil pertanian berupa beras.

Bolehkah Beras Zakat Dizakatkan Lagi?

Ilustrasi bolehkah beras zakat dizakatkan lagi. Sumber: Pixabay/aieed

Bagi setiap muslim yang memiliki kelebihan makanan pokok baik laki-laki, maupun perempuan, wajib untuk membayar zakat fitrah untuknya dan orang-orang yang menjadi tanggungan nafkahnya. Zakat tersebut merupakan bentuk santunan kepada fakir miskin.

Jumlah zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah satu sha' dari makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Dalam kondisi saat ini, satu sha' setara dengan 2,5-3 kg beras. Setelah terkumpul, zakat akan dibagikan kepada fakir miskin, amil zakat, dan golongan lainnya.

Jika seseorang mendapatkan beras dari zakat fitrah dan dirinya ingin menunaikan kewajibannya berzakat, bolehkah beras zakat dizakatkan lagi? Hukumnya boleh dan dianggap sah, karena zakat yang telah diberikan sudah menjadi hak milik sepenuhnya.

Hukum tersebut memiliki arti, penerima zakat boleh menggunakan beras itu untuk keperluan apa pun. Dibarter boleh, dijual boleh, atau digunakan membayar zakat untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungan nafkahnya juga boleh.

Namun, dengan syarat yang bersangkutan tetap tercukupi kebutuhannya dan keluarganya pada siang dan malam hari Raya Idulfitri. Jika tidak memiliki makanan sisa atau bahkan kurang, maka tidak wajib melakukan zakat fitrah.

Hal tersebut sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahhab bi Syarh al-Manhaj at-Thullab:

ـ (ولا فطرة على معسروهو من لم يفضل عن قوته وقوت ممونه يومه وليلته و) عن (ما يليق بهما من ملبس ومسكن وخادم يحتاجها ابتداءا وعن دينه ما يخرجه) في الفطرة، بخلاف من فضل عنه ذلك

Artinya:

Tidak wajib zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, yakni orang yang tidak memiliki harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dirinya dan orang yang wajib ia nafkahi pada saat malam id dan hari raya id,

dan untuk memiliki pakaian dan rumah yang layak untuknya serta pelayan yang ia butuhkan dan (melunasi) hutang yang ia miliki, (tidak memiliki harta yang lebih) untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Berbeda ketika orang tersebut memiliki harta yang lebih untuk zakat fitrah setelah tercukupi kebutuhan di atas (maka wajib baginya zakat fitrah). (Syekh Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab bi Syarh al-Manhaj at-Thullab, juz 1 hal. 200)

Kesimpulannya bolehkah beras zakat dizakatkan lagi? Boleh dan dianggap sah, dengan ketentuan yang bersangkutan tetap tercukupi kebutuhannya dan keluarganya pada siang dan malam hari Raya Idulfitri. (MRZ)

Baca juga: Tata Cara Pembagian Zakat Fitrah ke Penerima Zakat