Konten dari Pengguna

Bolehkah Setiap Sekolah Memiliki Alur Tujuan Pembelajaran yang Berbeda-beda?

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bolehkah Setiap Sekolah Memiliki Alur Tujuan Pembelajaran yang Berbeda-beda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Aaron
zoom-in-whitePerbesar
Bolehkah Setiap Sekolah Memiliki Alur Tujuan Pembelajaran yang Berbeda-beda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Aaron

Bolehkah setiap sekolah memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda-beda? Setiap sekolah dapat memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda-beda, terutama dalam konteks penerapan Kurikulum Merdeka.

Kurikulum ini memberikan fleksibilitas kepada sekolah untuk mengembangkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Namun, penting untuk memahami batasan dan pedoman yang tetap harus diikuti.

Bolehkah Setiap Sekolah Memiliki Alur Tujuan Pembelajaran yang Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

Bolehkah Setiap Sekolah Memiliki Alur Tujuan Pembelajaran yang Berbeda-beda. Foto hanya ilustrasi. Sumber foto: Unsplash/Debby

Kurikulum Merdeka yang diterapkan di Indonesia memberikan kebebasan lebih kepada sekolah dalam menyusun alur dan tujuan pembelajaran. Tujuannya adalah agar sekolah dapat menyesuaikan beberapa kondisi.

Mulai dari proses belajar-mengajar dengan karakteristik peserta didik, kondisi lingkungan, serta sumber daya yang tersedia. Artinya, sekolah dapat menyusun kurikulum yang tidak seragam.

Namun, tetap harus berada dalam koridor kebijakan nasional yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Bolehkah setiap sekolah memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda-beda?

Dikutip dari buku Dasar Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Fauzan dkk (2024: 215), alur tujuan pembelajaran yang fleksibel memungkinkan setiap sekolah untuk lebih kreatif. Setiap sekolah ini dapat menentukan metode dan pendekatan yang tepat.

Misalnya, sekolah di perkotaan dengan akses yang luas terhadap teknologi informasi mungkin lebih fokus pada pengembangan keterampilan digital. Sedangkan sekolah di daerah pedesaan dapat memprioritaskan pendekatan berbasis lingkungan lokal.

Hal ini membantu siswa memahami materi pelajaran dengan lebih relevan, kontekstual, dan bermakna. Meski fleksibilitas dalam alur tujuan pembelajaran bermanfaat, terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaannya.

Pertama, tidak semua sekolah memiliki kapasitas yang sama dalam mengembangkan kurikulum yang efektif. Sekolah dengan sumber daya terbatas.

Baik dari segi tenaga pendidik maupun fasilitas, mungkin kesulitan menyusun alur pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, guru perlu memiliki pemahaman mendalam mengenai pedagogi dan manajemen kurikulum.

Tujuannya agar alur pembelajaran yang disusun tetap efektif dan sesuai standar. Meskipun setiap sekolah dapat memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda, sekolah tetap harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).

SNP menetapkan kriteria minimal dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk kurikulum, proses pembelajaran, kompetensi lulusan, dan evaluasi hasil belajar. Sekolah yang tidak memperhatikan standar ini dapat berisiko menghasilkan siswa yang tidak siap akan tantangan.

Bolehkah setiap sekolah memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda-beda? Sekolah dapat memiliki alur tujuan pembelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan konteks dan kebutuhan siswa. Namun, fleksibilitas ini harus dilakukan. (Msr)

Baca juga: Contoh Rancangan Aktualisasi Latsar CPNS