Cara Menghitung Curah Hujan Menggunakan Rumus

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan yang turun di suatu wilayah ternyata dapat dihitung menggunakan rumus. Cara menghitung curah hujan perlu dipahami untuk mengetahui seberapa banyak air hujan yang turun ke bumi.
Perhitungannya menggunakan rumus tertentu dengan faktor yang perlu diketahui berupa luas wilayah dan waktu turunnya hujan. Biasanya, perhitungan curah hujan digunakan oleh BMKG untuk membandingkan curah hujan dari tahun ke tahun.
Cara Menghitung Curah Hujan
Menurut buku Penerapan Klimatologi dalam Pertanian 4, Bayu Dwi Apri Nugroho (2021:8), curah hujan atau presipitasi adalah banyaknya air hujan atau kristal es yang jatuh hingga permukaan bumi. Alat pengukur curah hujan berfungsi untuk mengukur jumlah hujan yang jatuh selama sehari di dalam suatu gelas ukur.
Sebenarnya cara menghitung curah hujan dapat dilakukan dengan alat pencatat hujan otomatis. Alat ini akan mencatat jumlah curah hujan pada kertas pencatat yang setiap beberapa waktu sekali akan diganti dengan kertas yang baru.
Misalnya, untuk menghitung curah hujan dalam kurun waktu satu bulan, maka caranya adalah dengan menjumlahkan data curah hujan yang diperoleh setiap harinya selama satu bulan tersebut.
Adapun rumus yang dapat dipakai untuk menghitung curah hujan berdasarkan luas lahan dapat dituliskan sebagai berikut.
1/t (chw x a)
Keterangan:
t = waktu 1 hari (detik)
chw = curah hujan wilayah (l/m²)
a = luas lahan (m²)
Untuk mencari angka chw atau curah hujan wilayah diperlukan konversi dari mm per hari ke liter per detik.
1 hari = 24 jam = 86.400 detik, 1 mm = 1 l/m²
Curah hujan perlu dihitung untuk mengetahui penyebab pasti dari banjir, apakah benar karena curah hujan yang meningkat atau karena faktor lain. Menghitung curah hujan juga bermanfaat untuk mengetahui kapasitas suatu wilayah dalam menampung air hujan.
Cara menghitung curah hujan tersebut akan sangat berguna untuk melihat seberapa banyaknya air yang turun ke bumi dalam kurun waktu tertentu. Data tersebut kemudian dapat disimpan sebagai pembanding untuk melihat perbedaan curah hujan pada tahun-tahun berikutnya. (IMA)
Baca juga: Jenis-jenis Hujan di Indonesia dan Ketahui Proses Terjadinya
