Konten dari Pengguna

Jawaban Tugas 3 Bahasa Indonesia UT Sebagai Referensi

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi  tugas 3 Bahasa Indonesia UT. Sumber : Pixabay/Deltaworks
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tugas 3 Bahasa Indonesia UT. Sumber : Pixabay/Deltaworks

Universitas Terbuka adalah Perguruan Tinggi Negeri yang mengusung pembelajaran non tatap muka atau melalui internet. Jawaban tugas 3 Bahasa Indonesia UT dapat menjadi bahan referensi bagi para mahasiswa.

Dikutip dari buku Spektrum Pembelajaran Bahasa di Era Merdeka Belajar, Ida Zulaeha (2024 : 5) fungsi utama dari bahasa adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi, oleh karena itu tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia agar peserta didik menjadi terampil dalam berkomunikasi.

Jawaban Tugas 3 Bahasa Indonesia UT untuk Bahan Referensi Bagi Mahasiswa

llustrasi tugas 3 Bahasa Indonesia UT. Sumber : Pixabay/Pexels

Universitas Terbuka merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diakui pemerintah dan memiliki kualitas pendidikan yang diakui secara nasional dan internasional. Ijazah UT dapat digunakan untuk mendaftar CPNS, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan bekerja di berbagai perusahaan.

Berikut ini adalah jawaban tugas 3 Bahasa Indonesia UT yang dapat dijadikan referensi oleh mahasiswa.

Soal : Perbaikilah beberapa kesalahan tulisan yang ada pada teks di atas dengan mengacu pada tanda koreksi dan fungsinya sesuai dengan modul MKWU 4108 bahasa Indonesia halaman 8.37 s.d. 8.38.

Jawaban :

Di saat kondisi perekonomian global yang tengah krisis, torehan pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan hasil yang positif. Jika dibandingkan, pada triwulan kedua tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi Indonesia meningkat kurang lebih 6,4 persen. Pertumbuhan ini tetap masih terpusat di Pulau Jawa dengan peningkatan sebesar 57,5%. Apabila di akumulasikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I tahun 2012 lebih baik dibandingkan dengan semester I tahun 2011 yang tumbuh sekitar 6,3%. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai mengalami bias atau anomali. Hal ini dikatakan oleh Salamuddin Daeng, pengamat ekonomi Indonesia For global Justice. Ia berpendapat, pertumbuhan ekonomi ini tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya itu, Daeng juga memaparkan, sekurang- kurangnya ada empat faktor yang membuat ekonomi Indonesia mengalami bias. Pertama, perekonomian Indonesia lebih banyak ditengarai oleh utang asing yang nilainya terus meningkat. "Utang Indonesia mencapai Rp. 2.865 triliun. Utang asing pemerintah meningkat setiap tahunnya. Utang ini menjadi sumber penghasilan utama pemerintah dan menjadi pendorong tumbuhnya ekonomi Indonesia," ujar Daeng. Kedua, peningkatan konsumsi masyarakat dinilai ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi masyarakat yang meningkat bersumber dari harga sandang pangan yang mengalami kenaikan, serta disokong oleh pertumbuhan kredit terutama kredit konsumsi. Ketiga, ekonomi Indonesia pertumbuhannya didorong oleh ekspor bahan mentah, contohnya hasil perkebunan, hutan, migas dan bahan tambang, sehingga kurang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Faktor terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh penanaman asing yang menjadikan sumber daya alam Indonesia makin di kuasai asing. Di lain pihak, A Tony Prasetiantono, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di topang oleh sektor domestik. Menurutnya, dampak krisis global melalui defisit neraca perdagangan dan penurunan ekspor baru akan terasa pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini. Ia menilai kontribusi ekspor terhadap PDB tidak besar. Selaras dengan itu, ekonom Mirza Adityaswara berpendapat bahwa sejumlah sektor ekonomi dalam negeri tumbuh karena didorong oleh suku bunga rendah. Hal ini tampak dari peningkatan kredit yang mencapai 26-28% sekaligus didukung oleh harga BBM yang rendah sebab masih disubsidi oleh pemerintah. Lebih lanjut Mirza menyampaikan, sektor yang berorientasi dalam negeri mengalami pertumbuhan tinggi, misalnya otomotif, manufaktur, transportasi, komunikasi, dan perdagangan. Dampaknya pertumbuhan sektor yang berorientasi dalam ngeri memiliki kecenderungan defisit neraca perdagangan yang semakin besar. Menurut A Tony Prasetiantono, belanja pemerintah yang lebih cepat dan besar juga sangat membantu pertumbuhan. Seiring dengan hal itu, tingkat inflasi yang berada di bawah 5 % cukup membantu, walaupun hal tersebut ada dampaknya, yakni nilai subsidi energi yang terus membengkak yang sebetulnya tidak sehat.

Demikianlah jawaban tugas 3 Bahasa Indonesia UT yang dapat dijadikan bahan referensi oleh mahasiswa. (EA)

Baca juga : Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 4 Semester 2