Latar Tempat, Waktu, dan Suasana Pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengetahui latar tempat, waktu, dan suasana dapat memberikan gambaran jelas tentang peristiwa yang terjadi dalam suatu cerita. Lantas, dimanakah latar tempat latar waktu dan latar suasana yang tergambar dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk?
Pertanyaan tersebut merupakan satu di antara beberapa pertanyaan yang ada dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 12 dengan materi menganalisis novel berdasarkan unsur interistik.
Dimanakah Latar Tempat Latar Waktu dan Latar Suasana yang Tergambar dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk?
Dikutip dalam buku Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern oleh Maman S. Mahayana, dkk (2007:317), novel Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah novel ketiga karya Ahmad Tohari yang diterbitkan pada akhir tahun 1982. Novel ini mengandung imbauan terhadap tugas suci intelektual.
Novel ini telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa seperti bahasa Jawa, Belanda, Inggris, dan Prancis. Bahkan novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk ini telah di filmkan dengan judul Sang Penari yang telah rilis pada 10 November 2011 lalu.
Dimanakah latar tempat latar waktu dan latar suasana yang tergambar dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk? Jawabannya yaitu:
Latar tempat: Desa Dukuh Paruk (sesuia judul novel) dengan lebih rincinya di rumah nenek Rasus dan Sakarya, Pasar Dawuan, dan hutan.
Latar waktu: Tahun 1960-an mulai di waktu malam, pagi, siang, hingga sore.
Latar suasana:
- Menggambarkan suasana kesusahan pada saat menceritakan kemiskinan.
- Menggambarkan suasana senang pada saat mengisahkan cinta Srintil dan Rasus.
- Menggambarkan suasana kepanikan pada saat menceritakan suasana politik yang terus bergejolak.
Ringkasan Cerita Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Dikutip dalam buku Sastra & Pendidikan Sehimpun Esai Koran - Jejak Pustaka oleh Firima Zona Tanjung dan Inung Setyami (2021:94-95), Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tokoh Srintil pewaris tradisi ronggeng yang merupakan ciri khas Dukuh Paruk.
Pada awalnya Srintil bangga dengan statusnya sebagai ronggeng, namun dalam dirinya merasa ada sisi-sisi keperempuannya yang menolak keronggengan. Srintil harus menari dan melayani laki-laki, menjadi perempuan milik banyak laki-laki.
Pada akhirnya, dirinya pun menyalahi sisi-sisi keronggengannya yaitu jatuh cinta dengan seorang lelaki bernama Rasus. Perasaan jatuh cinta inilah yang membuat Srintil lengser dari dunia peronggengan.
Pada bagian epilog, ada yang mengejutkan karena Srintil (tokoh sentral) menjadi gila setelah sekian lama memperjuangkan nasibnya sebagai perempuan.
Dapat disimpulkan, dimanakah latar tempat latar waktu dan latar suasana yang tergambar dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk? Jawabannya di Desa Dukuh Paruk, tahun 1960-an, dengan suasana senang, sedih, takut, atau lelah. (MRZ)
Baca juga: Sudut Pandang Ronggeng Dukuh Paruk, Novel Karya Ahmad Tohari
