Pathokan Tembang Pangkur Bahasa Jawa

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pathokan tembang pangkur merupakan paugeran atau aturan yang diterapkan dalam tembang pangkur. Tembang adalah lagu dalam bahasa Jawa. Sedangkan pangkur adalah salah satu dari 11 tembang macapat yang diajarkan pada masa kanak-kanak di Jawa.
Sebenarnya, macapat bukanlah tembang anak-anak. Tembang ini diperkenalkan Walisongo, terutama Sunan Kalijaga, sebagai pendekatan ke masyarakat untuk penyebaran agama Islam.
Mengenal Pathokan Tembang Pangkur
Pathokan digunakan sebagai karakteristik pembeda antara tembang dalam bahasa Jawa satu dengan yang lainnya. Pathokan terdiri dari 3 macam, yaitu guru gatra, guru wilayangan dan guru lagu. Tiap tembang macapat memiliki kombinasi jumlah guru yang berbeda.
Untuk mengetahui pathokan tembang pangkur, berikut adalah penjelasannya, yang dikutip dari Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga, Jhoni Hadi Saputra (2018:121).
1. Contoh Tembang Pangkur
Berikut adalah salah satu contoh tembang pangkur:
Sekar pangkur kan winarna
lelabuhan kanggo wong urip
ala lan becik puniku
prayoga kawruhana
adat waton punika dipun kadulu
miwa ingkang tatakrama
den keesthi siyang ratri.
2. Cara Menghitung Pathokan
Dari contoh tembang pangkur di atas, dapat kita hitung pathokan-nya sebagai berikut:
Guru Gatra
Arti guru gatra adalah jumlah baris. Jika dihitung, seluruh tembang di atas terdiri dari 7 baris. Maka guru gatra tembang pangkur ada 7.
Guru Wilangan
Arti guru wilangan adalah jumlah suku kata tiap baris.
Contoh cara menghitungnya adalah: se (1) - kar (2) - pang (3) - kur (4) - kan (5) wi (6) - nar (7) - na (8).
Jadi, guru wilangan baris pertama adalah 8.
Jika diurutkan semua baris dari baris pertama hingga baris ke tujuh, maka guru wilangan tembang pangkur di atas adalah 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8.
Guru Lagu
Arti guru lagu adalah huruf vokal terakhir di tiap baris.
Contohnya, kata terakhir pada baris pertama adalah winarna. Dengan demikian guru lagu baris pertama adalah a.
Jika diurutkan semua baris dari baris pertama hingga baris ke tujuh, maka guru lagunya adalah a, i, u, a, u, a, i.
3. Cara Penulisan Pathokan
Umumnya penulisan pathokan hanya menggabungkan unsur guru wilayangan dan guru lagu karena kadang ada perbedaan syair sehingga ada perbedaan huruf vokal terakhir. Sedangkan guru gatra umumnya memang hanya ada 7.
Jadi, penulisan pathokan dari tembang pangkur di atas adalah 8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i.
Pathokan tembang pangkur merupakan cara untuk merawat pakem tembang tersebut. Tembang merupakan warisan budaya yang wajib dilestarikan. (lus)
Baca juga: 6 Contoh Tembang Gambuh dalam Bahasa Jawa
