Konten dari Pengguna

Penyebab Perang Padri dengan Tahapan Terjadinya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penyebab Perang Padri  Sumber www.unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penyebab Perang Padri Sumber www.unsplash.com

Penyebab Perang Padri adalah pertentangan paham keagamaan antara kaum Adat dan kaum Padri di Sumatera Barat. Kaum Padri ingin melakukan pemurnian praktik ajaran Islam.

Pertentangan antara kaum Padri dan kaum Adat dimanfaatkan oleh Belanda untuk menanamkan pengaruhnya dalam masyarakat Minangkabau.

Penyebab Perang Padri dan Tahapannya

Ilustrasi Penyebab Perang Padri Sumber www.unsplash.com

Perang Padri merupakan perang saudara antara para ulama berhadapan dengan kaum adat. Berdasarkan buku Top One SBMPTN Soshum yang disusun oleh Forum Tentor Indonesia (2018:193), berikut adalah penyebab Perang Padri dalam sejarah Indonesia.

  1. Berkembangnya paham wahabi (pemurnian Islam).

  2. Pertentangan Kaum Adat dengan Kaum Padri yang berpaham wahabi.

  3. Kebiasaan dan tradisi Kaum Adat yang bertentangan dengan hukum Islam.

  4. Pertentangan hukum adat matrilineal dan hukum Islam patrilineal.

  5. Campur tangan Belanda untuk menanamkan paham-pahamnya di Sumatera Barat.

Secara umum, Perang Padri di Sumatra Barat terbagi atas dua periode yang terpisah, yaitu periode 1821-1825 dan 1830-1837.

Berdasarkan buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI yang disusun oleh Abdurakhman, Arif Pradono (2019:32), inilah penjelasan dari tahapan periode Perang Padri.

Periode Pertama Perang Padri (Tahun 1821- 1825)

Kaum Padri mulai menyerang pos-pos Belanda dan melakukan pencegatan terhadap patroli-patroli mereka. Pada September 1821, pos-pos Belanda di Simawang menjadi sasaran penyerangan kaum Padri.

Peperangan ini menyebabkan banyak korban jiwa. Di pihak Tuanku Pasaman, 350 orang prajurit gugur. Pasukan Belanda pun banyak yang gugur.

Memasuki tahun 1825, Belanda bersedia mengadakan perjanjian damai dengan kaum Padri. Salah satu isi perjanjian damai tersebut adalah Belanda mengakui kekuasaan tuanku-tuanku di Lintau, IV Koto, Telawas, dan Agam.

Perdamaian antara kaum Padri dan Belanda ternyata mengecewakan kaum Adat. Mereka menilai Belanda tidak menepati janji dan lebih mengutamakan kepentingan sendiri.

Periode Kedua Perang Padri (Tahun 1830-1837)

Dengan adanya perjanjian damai tahun 1825, kaum Adat yang kecewa mulai melakukan perlawanan kepada Belanda.

Pada perang periode kedua ini, kaum Padri mendapatkan simpati dan dukungan dari kaum Adat. Kekuatan para pejuang di Sumatra Barat pun meningkat.

Selama tahun 1836, kekuatan kaum Padri masih belum dapat dikalahkan oleh Belanda. Di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, kaum Padri terus berjuang mempertahankan wilayah Minangkabau.

Namun dalam pertempuran pada Oktober 1837, Benteng Bonjol dikepung dan berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda. Untuk menjamin keselamatan kaum Padri yang lain. Tuanku Imam. Bonjol dan beberapa pejuang lainnya menyerah kepada Belanda pada 25 Oktober 1837.

Baca juga: Mengenal Sejarah Perang Padri yang Terjadi di Sumatera Barat.

Penyebab Perang Padri adalah perang saudara antara para ulama berhadapan dengan kaum adat. Setelah Belanda ikut campur, maka berubahlah perang itu menjadi perang kolonial.(DK)