Konten dari Pengguna

Pesan Moral dari Cerita Si Pahit Lidah, Cerita Rakyat asal Sumatra Selatan

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pesan Moral dari Cerita Si Pahit Lidah. Sumber: Unsplash/IanaDmytrenko
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pesan Moral dari Cerita Si Pahit Lidah. Sumber: Unsplash/IanaDmytrenko

Cerita rakyat merupakan warisan budaya dari setiap daerah yang mengandung banyak nilai kehidupan. Salah satu cerita rakyat asal Sumatra Selatan yang terkenal adalah pesan moral dari cerita Si Pahit Lidah.

Si Pahit Lidah diketahui sebagai sosok yang memiliki lidah sakti, setiap perkataannya akan menjadi kenyataan. Dalam cerita tersebut, diajarkan tentang pentingnya menjaga ucapan agar tidak membawa malapetaka kepada diri sendiri.

Ringkasan dan Pesan Moral dari Cerita Si Pahit Lidah

Ilustrasi Pesan Moral dari Cerita Si Pahit Lidah. Sumber: Unsplash/JonathanBorba

Sebelum membahas tentang pesan moral dari cerita Si Pahit Lidah, perlu juga untuk menyimak kisahnya secara singkat. Hal ini bertujuan agar pembaca memahami alur ceritanya.

Menurut buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler: Legenda, Mitos, Fabel, Dongeng, dan Epos, Lia Nuralia dan Iim Imadudin (2009:35), berikut ringkasan ceritanya.

Seorang pangeran keturunan raksasa dari Sumidang bernama Serunting selalu merasa iri hati, bahkan terhadap adik iparnya, Aria Tebing. Pada suatu hari, keduanya bertengkar karena cendawan di ladang Aria Tebing berubah menjadi emas. Berkebalikan dengan ladang Serunting yang hanya tumbuh tanaman tidak berguna.

Kondisi tersebut membuat Serunting menuduh Aria Tebing menggunakan ilmu gaib, dan perkelahian sengit pun terjadi. Namun, Aria Tebing berhasil melukai Serunting setelah mengetahui rahasia kesaktiannya. Padahal hanya dari istri Serunting yang tahu akan hal itu.

Merasa dikhianati oleh istrinya, Serunting memutuskan pergi bertapa di Gunung Siguntang. Di sana, Serunting diberikan kekuatan gaib oleh Hyang Mahameru. Lidahnya mampu mengubah sesuatu menjadi apa pun yang diinginkannya. Kemudian Serunting memutuskan untuk kembali ke kampungnya.

Dalam perjalanannya, Serunting menguji kesaktiannya dengan mengubah banyak hal menjadi batu, termasuk manusia yang ditemuinya. Sejak saat itu, Serunting mendapat julukan Si Pahit Lidah. Penduduk sangat membencinya karena terlalu sombong akan kesaktiannya yang sering kali menyusahkan orang lain.

Setelah sadar akan kesalahannya, Serunting menebus dosanya dengan mengubah Bukit Serut yang gersang menjadi subur. Penduduk setempat pun senang karena dapat menikmati hasil hutan yang melimpah. Meskipun telah berbuat kebaikan, Serunting tetap dikenal sebagai Si Pahit Lidah sampai akhir hayatnya.

Setelah membaca cerita Si Pahit Lidah, diharapkan pembaca dapat lebih bijaksana dalam berucap kata agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jadi, pesan moral dari cerita Si Pahit Lidah adalah setiap orang yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan, harus digunakan untuk kebaikan. Dengan demikian, orang lain akan merasa terbantu, bukan malah sebaliknya. (ALF)

Baca juga: 3 Contoh Dongeng Sunda Singkat dan Penuh Pesan Moral