Ringkasan Cerita Roro Jonggrang dan Pesan Moralnya

Ragam Info
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ringkasan cerita Roro Jonggrang sering ditemukan pada setiap bacaan atau bahkan dalam beberapa cerita rakyat singkat yang beredar di masyarakat. Legenda Roro Jonggrang, yang juga dikenal sebagai cerita Candi Sewu, mengandung nilai-nilai moral yang sangat dalam.
Cerita mengenai Roro Jonggrang ini menjadi salah satu cerita yang cukup populer dan biasa dijadikan sebuah contoh cerita atau bahan pembelajaran siswa di sekolah. Ceritanya yang cukup ringan membuat cerita rakyat ini mudah dimengerti berbagai kalangan.
Ringkasan Cerita Roro Jonggrang Beserta Pesan Moralnya
Ringkasan cerita Roro Jonggrang adalah salah satu bentuk legenda yang cukup populer di Jawa. Mengutip buku Be Smart Bahasa Indonesia karya Ismail Kusmayadi, dkk (2008:56) legenda adalah dongeng yang berhubungan dengan asal mula terjadinya suatu atau tempat.
Cerita ini pada akhirnya terus berkembang dan menjadi legenda Candi Sewu yang ada di kompleks Candi Prambanan di Jawa Tengah. Berikut ini adalah ringkasan dari cerita Roro Jonggrang beserta dengan pesan moral yang dapat diambil.
1. Ringkasan Cerita Roro Jonggrang
Ringkasan cerita Roro Jonggrang bermula dari cerita yang terjadi di Desa Prambanan, tepatnya di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Baka. Dikisahkan Prabu Baka memiliki seorang putri bernama Roro Jonggrang.
Suatu hari, Kerajaan Prambanan terlibat dalam pertempuran dengan Kerajaan Pengging. Singkat cerita, Kerajaan Prambanan kalah dalam pertempuran melawan Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Bandung Bondowoso, putra Raja Pengging.
Setelah berhasil membunuh Prabu Baka, Bandung Bondowoso kemudian mengambil alih Istana Prambanan. Di sana, Bandung Bondowoso berjumpa dengan Roro Jonggrang, putri Prabu Baka yang memiliki paras cantik. Bandung Bondowoso pun langsung jatuh cinta pada Roro Jonggrang dan segera menyatakan cintanya. Roro Jonggrang yang mengetahui kebenaran di balik kematian ayahnya tentu menolak perasaan Bandung Bondowoso.
Akan tetapi, Bandung Bondowoso yang dibutakan oleh cinta terus memaksa Roro Jonggrang hingga mengajukan pinangan. Dikarenakan sangat memaksa, akhirnya Roro Jonggrang mengajukan syarat untuk membangun seribu candi dalam sehari semalam.
Dengan bantuan jin dan roh halus, Bandung Bondowoso dipastikan bisa menyelesaikan seribu candi dalam semalam. Akan tetapi, Roro Jonggrang yang diselimuti rasa takut tak mau tinggal diam dan menyusun rencana untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso.
Dia berhasil memperdaya para roh halus dengan membakar jerami dan memukul lesung sehingga ayam berkokok. Pada situasi tersebut para jin dan roh halus pergi karena mengira fajar telah tiba. Akibatnya, hampir semua candi selesai, kecuali satu.
Akhir cerita Roro Jonggrang sendiri mengisahkan Bandung Bondowoso yang segera menyadari tipu muslihat yang dilakukan Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso lantas marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca ke-1000.
2. Pesan Moral
Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa tipu daya dan kecurangan tidak membawa kebahagiaan. Ketidakjujuran akan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, seperti yang dialami oleh Roro Jonggrang yang akhirnya dikutuk menjadi batu. Cerita ini juga mengajarkan bahwa balas dendam hanya akan membawa lebih banyak penderitaan.
Ringkasan cerita Roro Jonggrang ini dapat menjadi bahan bacaan atau bahkan bahan pembelajaran siswa yang sangat baik dan mudah dipahami. Cerita ini juga menggambarkan pentingnya kejujuran dan konsekuensi dari tindakan kita, serta memberikan wawasan tentang budaya dan kepercayaan lokal. (BAI)
Baca Juga: 4 Amanat Cerita Sangkuriang sebagai Cerita Rakyat
