Strategi Penerapan CASEL di Kelas yang Efektif Bagi Siswa

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Strategi penerapan CASEL di kelas menjadi topik hangat belakangan ini. Guru terus dituntut untuk tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas tapi juga kuat dalam mengelola emosi dan sosial.
CASEL sendiri merupakan strategi belajar yang didasari pada kemampuan emosi dan sosial siswa dalam menyelesaikan masalah yang dijumpai. Dalam buku INOVASI DAN TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI ERA 5.0, Anni Malihatul Hawa (2025:79), pembelajaran sosial emosional akan membantu siswa untuk mengembangkan empati dan hubungan interpersonal yang sehat.
Bagaimana Cara Penerapan CASEL yang Efektif? Ini Penjelasannya
Bagi pengajar, mengetahui cara dan strategi penerapan CASEL di kelas akan berefek besar untuk pembelajaran.
Proses penerapan CASEL sendiri umumnya dimulai dari sejak awal masuk kelas hingga selesai. Berikut beberapa tahapan strategi yang bisa dilakukan.
1. Check In Emosi atau Pengungkapan Perasaan
Proses CASEL biasanya dimulai sejak proses belajar berlangsung. Guru atau pengajar bisa memulai dengan melakukan check in emosi atau mengajak siswa untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.
Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan menggunakan simbol warna atau pertanyaan reflektif sederhana agar siswa menyadari kondisi emosinya di hari itu.
Misalnya, siswa yang sedang sedih akan menggunakan simbol warna kuning sementara siswa yang semangat menggunakan simbol hijau.
2. Morning Meeting atau Forum Diskusi Kelas
Setelah melakukan pengungkapan perasaan, guru akan semakin mudah untuk mengidentifikasi siswa dalam segi emosinya. Proses CASEL bisa dilanjutkan ke dalam morning meeting dengan basis diskusi ringan di dalam kelas.
Guru bisa mencoba beberapa topik tentang keadilan, keberagaman, dan empati dalam proses diskusi ini. Saat diskusi berlangsung, Guru juga bisa mengamati siswa apakah mengalami perubahan emosi yang signifikan atau tidak.
3. Journaling atau Menuliskan Pengalaman
Journaling atau menuliskan pengalaman dan perasaan menjadi proses ketiga. Ini penting untuk mengetahui apakah siswa mengalami perubahan dalam mengelola emosi atau tidak.
Penulisan jurnal ini sebaiknya dilakukan secara personal pada setiap siswa, sehingga mereka bisa lebih meluapkan isi perasaannya. Jika sudah, guru bisa menyiapkan strategi lain yang bisa membangun kekuatan emosi dari siswanya.
4. Integrasi Emosi - Akademik
Pengelolaan siswa yang baik juga bisa ditingkatkan dengan mengintegrasikan masalah emosi yang sedang dialami siswa dengan proses belajar mengajar di kelas.
Istilah untuk kegiatan ini yang cukup umum digunakan adalah role play atau bermain peran. Misalnya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diminta untuk menganalisa karakter peran yang diberikan pada beberapa siswa.
Setelah adegan peran selesai, setiap siswa bisa diminta untuk menulis dari sudut pandang masing-masing. Hal ini akan memberikan dampak besar pada pelatihan empati atau kesadaran sosial para siswa.
5. Keterampilan Resolusi Konflik
Pengembangan emosi juga bisa dikuatkan dengan melihat fenomena-fenomena yang sedang terjadi di sekitar siswa. Biasanya, siswa akan memiliki sudut pandang masing-masing dalam membahas fenomena yang ada.
Kemudian jika memang tidak ada fenomena menarik, guru juga bisa menciptakan kasus fiktif yang relevan dengan kehidupan para siswa.
Proses ini akan bisa memberikan pengalaman siswa untuk bisa lebih peduli pada lingkungan sosial di sekitarnya dan tentunya menuntun siswa mengambil keputusan secara baik.
Demikian tadi strategi penerapan CASEL di kelas yang efektif dan praktis untuk para guru. Semoga bermanfaat. (TS)
Baca Juga: Bagaimana Kita Memposisikan Murid dalam Proses Belajar? Ini Penjelasannya
