Konten dari Pengguna

Teori Belajar Behavioristik: Pengertian, Ciri-ciri dan Tokoh Pendukungnya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teori belajar behavioristik. Sumber: unsplash.com/FiqihAlfarish.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teori belajar behavioristik. Sumber: unsplash.com/FiqihAlfarish.

Teori belajar behavioristik merupakan salah satu teori yang digunakan para pendidik untuk menjalankan proses pembelajaran yang efektif. Jenis teori belajar dipilih berdasarkan kondisi siswa di tiap kelas.

Tiap siswa itu unik sehingga cara belajar siswa yang satu berbeda dengan siswa lain. Behavioristik sering dipilih karena adaptif dengan perubahan pada sikap siswa.

Mengenal Teori Belajar Behavioristik

Ilustrasi teori belajar behavioristik. Sumber: pexels.com/RomanOdintsov.

Pengertian teori belajar behavioristik adalah konsep yang berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku akibat interaksi antara stimulus dan respon. Teori ini menuntut kepekaan guru dalam melihat respon siswa.

Salah satu cara yang diterapkan dalam teori belajar ini adalah pemberian reward atau hadiah kepada siswa yang aktif. Dengan stimulus yang tepat, diharapkan siswa akan terbantu dalam mencapai target pembelajaran dengan lebih cepat.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang teori ini, berikut ini adalah ciri-cirinya dan tokoh yang mendukungnya, yang dikutip dari Belajar dan Pembelajaran di Era Milenial, Puji Sumarsono dan Kawan-kawan (2020:12).

1. Ciri-ciri

Ciri-ciri dari teori belajar ini adalah:

  1. Mementingkan faktor lingkungan.

  2. Perkembangan tingkah laku seseorang tergantung pada belajar.

  3. Menekankan tingkah laku yang tampak melalui penggunaan metode obyektif.

  4. Menekankan pada faktor bagian, bukan keseluruhan.

  5. Sifatnya mekanis, refleks dan kebiasaan-kebiasaan.

  6. Menggunakan tinjuan historis, yaitu tingkah laku yang terbentuk merupakan hasil pengalaman dan latihan.

2. Tokoh Pendukung

Tokoh pendukung teori tersebut cukup banyak, antara lain:

  1. Ivan Petrovich Pavlov, yang mengemukakan teori classical conditioning atau learned reflexes. Teori ini menyatakan bahwa aktivitas belajar terdiri dari 4 fase, yaitu akuisisi, eliminasi, generalisasi dan diskriminasi.

  2. Edward Lee Thorndike, yang mengemukakan teori koneksionisme bahwa belajar merupakan terbentuknya hubungan stimulus (S) dan respon (R). Melalui percobaan pada kucing, Thorndike menemukan beberapa hukum belajar.

  3. John B. Watson, yang mengembangkan teori Pavlov menjadi teori Sarbon (Stimulus and Response Bond Theory). Watson melihat belajar sama seperti ilmu eksak, sehingga perilakunya terukur dan dapat diobservasi.

  4. Clark Hull, yang berpatokan pada teori evolusi Charles Darwin bahwa semua fungsi tingkah laku bermanfaat untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.

  5. Edwin R. Guthrie, yang mengemukakan teori Contiguous Conditioning dengan menghubungkan variabel stimulus-respon dan pemenuhan biologi.

  6. B. F. Skinner, yang mengemukakan teori Operant Conditioning sebagai wujud ketidakpuasan terhadap teori Pavlov dan Thorndike. Skinner berpendapat hubungan stimulus-respons tidak sesederhana pendapat sebelumnya.

Teori belajar behavioristik terus diteliti dan menghasilkan kesimpulan baru. Manusia adalah makhluk pembelajar sehingga teori belajar akan terus disempurnakan. (lus)

Baca juga: Tes Stiffin: Pengertian, Manfaat dan Tipe Kepribadian