Konten dari Pengguna

Tujuan Tradisi Sekaten dan Sejarah Singkatnya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tujuan tradisi Sekaten. Sumber: Pixabay/Dedi Timbul
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tujuan tradisi Sekaten. Sumber: Pixabay/Dedi Timbul

Ritual Sekaten rutin dilaksanakan secara sakral oleh keraton melalui serangkaian prosesi. Oleh karena itu, ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh para abdi dalem agar tradisi Sekaten dapat terlaksana dengan baik.

Dikutip dari buku Sajen dan Ritual Jawa, Wahyana Giri (2010:18), tradisi Sekaten dilakukan secara turun-temurun sejak zaman Kerajaan Demak, yang ditandai dengan ditabuhnya gamelan.

Tujuan Tradisi Sekaten dan Rangkaian Prosesinya

Ilustrasi tujuan tradisi Sekaten. Sumber: pixabay/Christoper

Upacara Sekaten adalah acara tahunan yang digelar oleh Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta. Tujuan tradisi Sekaten adalah untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Di Yogyakarta upacara sekaten diselenggarakan setiap tanggal 5 sampai 11 Rabi'ul Awal. Upacara sekaten ditutup 12 Rabi'ul Awal dengan grebegan.

Pada awalnya, sekaten diadakan setiap tahun oleh raja-raja di tanah Hindu, sebagai wujud selamatan atau sesaji kepada para leluhur. Namun dalam perkembangannya, sekaten digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam oleh Walisongo, khususnya di Jawa Tengah.

Kesenian gamelan digunakan sebagai media penyebaran agama Islam karena masyarakat pada waktu itu menggemari kesenian Jawa, berupa gamelan. Oleh karena itu, untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad saw tidak lagi menggunakan kesenian rebana, melainkan dengan kesenian gamelan.

Biasanya penyelenggaraan sekaten diikuti dengan kegiatan pasar malam selama sebulan penuh. Setelahnya akan diadakan Grebeg Maulud, yaitu berupa kirab gunungan sebagai puncak acara.

Pada Grebeg Maulud, acara dimulai dengan iring-iringan gunungan berupa tumpukan bahan pangan berupa sayuran, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya, yang diarak dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo.

Ada enam macam gunungan yang dibawa dan masing-masing memiliki maknanya tersendiri; Gunungan Kakung melambangkan pribadi baginda raja, Gunungan Putri melambangkan pribadi permaisuri baginda, Gunungan Dharat melambangkan para pangeran, Gunungan Gepak melambangkan para putri baginda raja, Gunungan Pawuhan melambangkan cucu baginda, dan Gunungan Picisan.

Pagelaran sekaten dilakukan dengan membunyikan gamelan yang diarak ke masjid hingga dikembalikan gamelan sebagai tanda berakhirnya sekaten.

Tujuan tradisi Sekaten yang dilaksanakan oleh Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. (EA)

Baca juga: Materi Maulid Nabi Singkat, Sejarah dan Tradisinya