Unsur Sampiran dan Isi pada Pantun Syair

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu jenis karya sastra Indonesia yang tersohor pada masanya adalah syair. Unsur sampiran dan isi pada pantun syair sangat berbeda dengan pantun biasa. Syair memiliki struktur dan aturan sendiri yang membuatnya unik dan mudah untuk diidentifikasi sebagai syair.
Adapun hal paling mencolok yang terdapat pada syair yaitu pola rimanya yang berbunyi a-a-a-a. Semua syair pada bagian akhir katanya memiliki bunyi vokal (huruf a, i, u, e, o) atau konsonan (huruf selain vokal) yang sama.
Unsur Sampiran dan Isi pada Pantun Syair dan Ciri-cirinya
Unsur sampiran dan isi pada pantun syair begitu unik. Mengutip dari buku Mengenal Sastra Lama oleh Eko Sugianto (2015:50), Menurut L.F. Brakel, semua baris dalam syair adalah isi karena di dalamnya tidak ada sampiran.
Dulu, syair Indonesia merupakan karya yang bercorak keagamaan, khususnya pengaruh kesusasteraan sufi. Seiring perkembangan zaman, isi syair bukan hanya tentang aspek agama melainkan aspek kehidupan lainnya yang lebih luas.
Pada abad ke-18, syair menjadi karya sastra yang booming dan digemari oleh masyarakat. Dalam kesusasteraan Indonesia, syair digunakan untuk mengungkapkan suatu kisah hingga media dakwah.
Adapun ciri-ciri syair dalam sastra Indonesia adalah sebagai berikut.
Syair memiliki empat baris dalam setiap bait: Ada empat baris yang dihitung sebagai satu bait dalam syair. Contohnya jika ada 8 baris berarti ada 2 bait pada syair tersebut.
Masing-masing bait memberi arti sebagai satu kesatuan: Satu bait berarti satu kesatuan dan isinya harus sinkron
Tidak memiliki sampiran: Semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran).
Bunyi akhir kalimat selalu sama: Rimanya a-a-a-a sehingga sajak akhir tiap baris selalu sama bunyinya.
Jumlah suku kata dibatasi: setiap baris memiliki jumlah suku kata yang hampir sama (biasanya 8-12 suku kata).
Makna di dalam syair: Di dalam syair berisi petuah, nasihat, cerita, hingga dongeng, cerita.
Setelah membaca penjelasan di atas, diketahui bahwa unsur sampiran dan isi pada pantun syair berbeda dengan pantun biasa. Hal itu dikarenakan syair tidak memiliki sampiran dan keseluruhan baris di dalam baitnya dianggap sebagai isi. (IMA)
Baca juga: Mengenal Unsur yang Membangun Karya Sastra dari Dalam dan Jenis-jenisnya
