Depresi, Luka, Lapar, dan Alasan untuk Bertahan

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahiel Khadija Purnomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Novel tentang Orang yang Luka, Lapar, dan Alasan untuk Bertahan
Dari judulnya saja, novel ini sudah bikin penasaran. Seporsi mie ayam, lalu mati. Dua hal yang rasanya tidak pantas disebut dalam satu kalimat. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna terbit pada 2022 dan mengambil situasi yang gelap, tetapi cara bercerita di dalamnya tidak sepenuhnya suram. Ada bagian yang getir, ada bagian yang membuat saya tersenyum sendiri, dan di tengah-tengahnya ada seorang pria yang sebenarnya hanya ingin diperlakukan sebagai manusia.
Pria itu bernama Ale. Umurnya 37 tahun, badannya besar dengan tinggi 189 cm dan bobot 138 kg, berkulit gelap, serta sering bermasalah dengan bau badan. Hidupnya sejak kecil tidak ramah. Keluarganya tidak mendukung, ia tidak punya sahabat, dan di sekolah ia jadi bahan perundungan. Saat dewasa, psikiater mendiagnosisnya dengan depresi akut. Yang membuat ceritanya terasa menyesakkan, Ale sebenarnya sudah berusaha. Ia peduli pada dirinya sendiri dan mencoba berbagai cara agar bisa diterima dalam pergaulan, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidup, dan ia melakukannya dengan sangat tertib. Apartemennya dibereskan, ia makan makanan mahal yang selama ini tidak pernah dibelinya, lalu menyanyi sepuasnya di tempat karaoke. Tepat ketika semuanya siap, perutnya berbunyi dan ia memutuskan makan dulu, seporsi mie ayam. Dari situ cerita berjalan. Bagaimana kelanjutannya sengaja tidak saya ceritakan, karena sayang kalau dibocorkan.
Untuk membedah tokoh Ale, saya memakai teori fakta-fakta cerita dari Robert Stanton. Menurut Stanton, karakter, alur, dan latar adalah catatan kejadian imajinatif dalam sebuah cerita, dan ketiganya dirangkum sebagai struktur faktual. Dari ketiga unsur itu, saya memilih karakter. Stanton memakai kata "karakter" dalam dua arti. Arti pertama adalah individu-individu yang muncul dalam cerita, seperti ketika orang bertanya ada berapa karakter dalam sebuah novel. Arti kedua adalah campuran kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral yang dimiliki individu-individu itu. Setelah membaca ulang novelnya dengan dua arti ini, saya merasa Ale cocok sekali dibedah dari kedua sisi.
Dari arti yang pertama, Ale memang pusat cerita, tetapi ia tidak sendirian. Ada keluarga yang abai, ada perundung di sekolah, ada psikiater, dan belakangan ada lingkungan baru yang menjadi lawan main penting bagi Ale. Orang-orang inilah yang membentuk Ale seperti sekarang. Sebuah penelitian psikologi sastra menelusuri luka Ale sampai ke masa kecilnya, ketika keluarga mengabaikannya secara emosional dan tidak melindunginya. Penelitian yang sama juga mencatat bahwa lingkungan sosial baru membuat Ale bisa memaafkan masa lalu dan menerima dirinya. Jadi tokoh-tokoh pendamping di novel ini bukan sekadar pelengkap. Mereka yang menyebabkan luka sekaligus yang kelak ikut menyembuhkannya.
Arti kedua dari karakter menurut Stanton, yaitu campuran keinginan, emosi, dan prinsip moral, justru yang paling membuat Ale terasa hidup. Keinginannya sederhana: diterima. Itu sebabnya kegagalannya terasa sakit, karena ia bukan orang yang pasrah sejak awal. Emosinya juga tidak tunggal. Ada kesepian, ada luka, dan sesekali ada amarah yang meledak. Satu kajian bahkan menyimpulkan bahwa Ale menanggapi traumanya dengan tiga cara yang bertolak belakang: kadang mendekati orang lain sambil mengorbankan dirinya, kadang menjauh dan mengurung diri, dan kadang melawan lewat kemarahan. Orang yang terluka memang jarang konsisten, dan novel ini jujur soal itu.
Prinsip moralnya yang paling bikin saya tertegun. Ale merencanakan kematiannya supaya tidak terlalu merepotkan orang lain. Bayangkan, orang yang merasa tidak dianggap itu masih sempat memikirkan kenyamanan orang lain di hari terakhirnya. Ironi ini membuat pembaca sulit menghakimi Ale. Ia bukan tokoh yang dibuat jahat atau sempurna. Ia hanya manusia yang terlalu lama menanggung sendiri.
Yang menarik, Ale tidak berhenti sebagai korban. Penelitian lain dengan kacamata eksistensialisme menyebut Ale berubah: ia menyadari kebebasannya di tengah kenyataan hidup, mulai membangun hubungan dengan orang lain, dan mau bertanggung jawab atas pilihannya. Dalam bahasa sehari-hari, Ale itu tokoh yang berkembang. Ia di akhir cerita tidak sama dengan Ale di halaman pertama, dan perubahan itu terasa masuk akal karena dibangun pelan-pelan. Mie ayam pun akhirnya terasa lebih dari sekadar makanan. Seorang peneliti membacanya sebagai simbol keinginan yang lahir dari trauma masa lalu sekaligus pilihan yang tulus dalam menghadapi hidup yang absurd.
Menurut saya, kekuatan terbesar novel ini ada pada karakternya. Ale terasa nyata karena ia tidak heroik dan tidak ideal. Ia punya kekurangan, punya luka, dan punya sisi baik yang diam-diam. Pembaca yang pernah merasa tidak diterima kemungkinan besar akan menemukan dirinya di sana. Satu catatan: novel ini membahas depresi dan keinginan bunuh diri, jadi bacalah dengan hati-hati. Kalau kamu atau orang di sekitarmu sedang merasa sangat berat, jangan disimpan sendiri. Ceritakan pada orang yang dipercaya, atau temui psikolog atau psikiater.
Daftar Pustaka:
Stanton, R. (2007). Teori fiksi (Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad, Penerj.). Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan 1965).
Khrisna, Brian. 2025. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Jakarta: Grasindo.
