Kafein Berlebih Bikin Tidur Kacau dan Makin Cemas? Mahasiswa, Be Careful, Ya!

Saya adalah Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rahma Nida An Khofiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Segelas kopi atau minuman berenergi sudah menjadi teman setia banyak mahasiswa saat begadang mengejar deadline tugas, laporan praktikum, atau revisi skripsi. Efeknya memang terasa instan: rasa kantuk hilang, konsentrasi meningkat, dan tugas terasa lebih cepat selesai. Namun di balik manfaat sesaat itu, konsumsi kafein yang berlebihan dan tidak terkontrol menyimpan risiko serius bagi kualitas tidur maupun kondisi psikologis mahasiswa.
Tekanan akademik yang tinggi membuat kopi, teh, hingga minuman berenergi menjadi “solusi cepat” untuk menahan kantuk saat mengerjakan tugas hingga larut malam. Kebiasaan ini juga diperkuat oleh budaya kampus yang cenderung menormalkan begadang sebagai bentuk dedikasi akademik.
Riset dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya bahkan mencatat tren peningkatan konsumsi kopi sebagai sumber kafein mendekati dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir di Indonesia, dengan lonjakan signifikan pada kelompok usia mahasiswa. Kondisi ini membuat pola konsumsi kafein yang tidak terkendali menjadi persoalan yang layak mendapat perhatian, bukan sekadar kebiasaan biasa yang dianggap remeh.
Mengganggu Kualitas Tidur
Secara ilmiah, kafein bekerja dengan menghambat reseptor adenosin di otak, senyawa yang seharusnya membuat tubuh merasa mengantuk. Saat reseptor ini “diblokir,” otak tetap terjaga meski tubuh sebenarnya sudah lelah. Efek inilah yang membuat kafein efektif menahan kantuk, namun juga berisiko mengacaukan jam biologis tubuh apabila dikonsumsi menjelang malam.
Beberapa dampak kafein terhadap tidur yang banyak dilaporkan dalam berbagai kajian kesehatan mahasiswa di antaranya memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk bisa tertidur, mengurangi total durasi dan efisiensi tidur, serta menurunkan kualitas tidur dalam sehingga tubuh dan otak tidak benar-benar beristirahat meski sudah “tidur.” Efek ini bisa bertahan hingga malam hari, terutama bila kafein dikonsumsi di sore atau menjelang malam.
Sejumlah penelitian pada mahasiswa kedokteran dan kesehatan di berbagai kampus di Indonesia turut menemukan bahwa mayoritas mahasiswa dengan pola konsumsi kopi berisiko tinggi juga melaporkan kualitas tidur yang buruk, meski hubungan statistiknya tidak selalu signifikan di setiap studi. Artinya, kafein bukan satu-satunya faktor, tetapi tetap menjadi salah satu pemicu penting gangguan tidur di kalangan mahasiswa.
Memicu Kecemasan
Selain mengganggu tidur, konsumsi kafein berlebihan juga berkontribusi memunculkan rasa cemas, jantung berdebar, hingga gelisah, terutama bila dosisnya melampaui batas wajar konsumsi harian orang dewasa, yaitu sekitar 200–400 miligram per hari atau setara dua hingga tiga cangkir kopi. Kondisi ini kemudian bisa membentuk lingkaran yang saling memperburuk: kurang tidur meningkatkan kecemasan, sementara kecemasan yang tinggi membuat mahasiswa semakin sulit tidur nyenyak, sehingga esoknya mereka kembali “mengandalkan” kafein untuk tetap terjaga.
Di sisi lain, penghentian konsumsi kafein secara mendadak juga bisa memicu gejala tersendiri, seperti sakit kepala, tubuh terasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan suasana hati yang terganggu. Fenomena ini banyak ditemukan pada mahasiswa dengan frekuensi dan jumlah konsumsi kafein yang tinggi.
Tips Mengatasinya di Tengah Tugas yang Menumpuk
Bukan berarti mahasiswa harus berhenti total mengonsumsi kafein. Yang lebih penting adalah mengelola pola konsumsinya secara bijak agar tugas tetap bisa diselesaikan tanpa mengorbankan kualitas tidur dan kesehatan mental. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Kafein memang bisa menjadi bantuan sesaat di tengah deadline yang mepet, tetapi mengandalkannya secara berlebihan justru berisiko menciptakan siklus baru: tidur terganggu, kecemasan meningkat, dan performa akademik ikut menurun. Mengelola pola konsumsi kafein secara sadar, dibarengi manajemen waktu dan kebiasaan tidur yang sehat menjadi kunci agar mahasiswa tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.
