Argentina Lolos, Mesir Meradang: Ketika "Anak Emas FIFA" Jadi Bahan Perbincangan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rahmat tiandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dini hari tadi, jagat sepak bola dunia kembali riuh. Bukan cuma karena drama comeback, tapi juga karena satu nama yang lagi-lagi jadi sorotan: Francois Letexier, wasit asal Prancis yang memimpin laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Argentina menang dramatis 3-2 usai sempat tertinggal 0-2, tapi kemenangan itu datang dengan harga: tudingan bahwa kompetisi sepak bola terbesar sejagat ini "diarahkan" untuk menjaga sang juara bertahan tetap melaju.
Bagi yang belum sempat nonton, begini garis besarnya. Mesir tampil garang di babak pertama lewat gol Yasser Ibrahim, lalu memperbesar keunggulan lewat Mostafa Zico di menit 67. Sempat unggul dua gol, publik Mesir mulai berani bermimpi menembus perempat final untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Tapi Argentina, seperti biasa, punya cara sendiri untuk bikin jantung penonton copot. Tiga gol beruntun dari Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez di rentang menit 79 sampai injury time membalikkan keadaan jadi 3-2.
Drama sesungguhnya justru ada di luar lapangan, alias di ruang keputusan wasit. Ada tiga momen yang bikin kubu Mesir naik pitam:
Pertama, penalti untuk Argentina di menit 20 usai Nicolas Tagliafico dianggap dijatuhkan Haitham Hassan di kotak terlarang. Kontak yang terjadi dinilai banyak pihak minim, tapi Letexier tak ragu menunjuk titik putih. Untungnya buat Mesir, eksekusi Messi berhasil digagalkan kiper Mostafa Shobeir.
Kedua, gol kedua Mesir dari Mostafa Zico yang sempat disahkan lalu dianulir usai tinjauan VAR karena dianggap ada pelanggaran dalam proses build-up serangan.
Ketiga, dan ini yang paling bikin geram, insiden di masa injury time saat Mohamed Salah terjatuh usai duel dengan Julian Alvarez di kotak penalti Argentina. Tayangan ulang memperlihatkan kaki Alvarez sempat mengait kaki Salah, tapi wasit tetap melanjutkan permainan tanpa mengecek monitor VAR sama sekali.
Tiga keputusan itu berujung pada kekalahan Mesir sekaligus tersingkirnya mereka dari turnamen. Pelatih Hossam Hassan pun tak menahan kekecewaannya di depan media. Ia bahkan menyebut kompetisi ini "diarahkan" untuk mempertahankan sang juara bertahan tetap bermain, dengan menyinggung nama Messi secara eksplisit sebagai salah satu alasan di balik keberpihakan yang dia rasakan. Striker Mostafa Zico pun tak kalah pedas, menyebut trofi Piala Dunia kali ini seolah sudah "dipersembahkan" untuk Argentina.
Federasi Sepak Bola Mesir dikabarkan sudah melayangkan protes resmi ke FIFA, menuntut investigasi terhadap kepemimpinan Letexier di laga tersebut. Menariknya, ini bukan kali pertama nama Letexier jadi buah bibir publik Indonesia. Wasit yang sama pernah memimpin laga playoff Olimpiade Paris 2024 antara Timnas Indonesia U-23 melawan Guinea, di mana keputusannya memberikan dua penalti kontroversial sempat bikin publik Tanah Air geram, bahkan berujung kartu merah untuk pelatih Shin Tae-yong.
Di sinilah letak menariknya sepak bola sebagai fenomena sosial, bukan cuma pertandingan olahraga semata. Ketika keputusan wasit bersinggungan dengan nama besar seperti Messi, narasi "keberpihakan sistem" jadi jauh lebih mudah menyebar dan dipercaya publik, terlepas dari benar tidaknya tudingan tersebut secara teknis. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia olahraga global: ketika bintang besar terlibat, sorotan terhadap objektivitas wasit otomatis berlipat ganda, dan ruang untuk spekulasi pun makin terbuka lebar.
Terlepas dari pro-kontra ini, satu hal yang pasti: laga Argentina vs Mesir malam itu jadi salah satu pertandingan paling emosional di Piala Dunia 2026 sejauh ini. Bagi Argentina, ini adalah tiket ke perempat final. Bagi Mesir, ini adalah luka yang mungkin butuh waktu lama untuk sembuh, sekaligus bukti bahwa dalam sepak bola, keadilan kadang terasa lebih rumit ketimbang sekadar aturan di atas kertas.
Yang jelas, FIFA kini punya PR besar: menjawab tudingan publik dengan transparansi, bukan sekadar diam dan membiarkan spekulasi terus berkembang liar.
