Newcastle, Klub Kaya Baru, dan Financial Fair Play

Mahasiswa Magister Program Studi Imunologi Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rahmat Tri Prawira Agara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak awal bulan Oktober ini, Newcastle United menjadi klub yang paling banyak dibicarakan oleh penggemar sepakbola di seluruh dunia. Sebabnya, Public Investment Fund (PIF), sebuah perusahaan konsorsium Investasi yang dimiliki oleh pangeran Arab Saudi, Muhammad Bin Salman, resmi mengakuisisi Newcastle United.
PIF secara resmi membeli 80% kepemilikan saham salah satu klub peserta liga Inggris tersebut dengan nilai transaksi sebesar 300 juta pounds. Tak pelak, berita ini kemudian disambut dengan gembira, terutama oleh para fans Newcastle United.
Terjadinya akuisisi oleh pemilik kaya bukanlah fenomena baru dalam dunia sepakbola. Sebelumnya, kita melihat bagaimana Paris Saint-Germain dan Manchester City, dua klub yang juga diakuisisi oleh pemilik dari timur tengah, mengalami transformasi setelah berpindah kepemilikan.
Manchester City pasca diakuisisi oleh Syaikh Mansour pada tahun 2008, berhasil memenangi trofi liga Inggris kembali pada musim 2011/2012. Setelah terakhir juara pada musim 1967/1968. Diikuti dengan 4 trofi liga Inggris pada musim-musim berikutnya.
Paris Saint-Germain yang dibeli oleh Nasser Al-Khelaifi pada tahun 2013 pun tidak berbeda jauh. Mereka menjadi klub yang menguasai liga Prancis dengan memenangi 7 dari 10 trofi juara liga dalam kurun 10 tahun gelaran liga terakhir.
Dengan total kekayaan aset PIF sebesar 320 miliar euro, yang jumlahnya 10 kali lipat dari kekayaan Syeikh Mansour & Nasser Al-Khelaifi, banyak kemudian yang menggadang-gadang kalau Newcastle United akan menjadi klub kaya baru dan mendominasi liga Inggris di masa depan.
Dengan mengikuti pola klub-klub kaya baru sebelumnya. Newcastle bisa memanfaatkan kekayaan pemilik klub untuk membeli pemain-pemain mahal serta mendatangkan pelatih top untuk melatih klub mereka. Yang pada akhirnya, akan menambah peluang untuk memenangkan trofi di berbagai kompetisi yang diikuti oleh klub.
Namun, berbeda dengan saat proses akuisisi Paris Saint-Germain dan Manchester City. Ada sedikit perubahan pola yang terjadi dalam aturan manajemen keuangan klub saat ini yang mungkin jarang diketahui oleh banyak orang. Yaitu, dengan diberlakukannya regulasi Financial Fair Play (FFP) yang ditetapkan oleh FIFA.
Dalam aturan FFP ini, klub tidak boleh mengalami kerugian keuangan lebih besar daripada keuntungan yang mereka dapat pada musim tersebut.
Sebagai contoh, bilamana pada awal musim Manchester City menghabiskan uang 100 juta untuk keperluan membeli pemain dan membayar gaji pegawai klub. Maka pada akhir musim, pendapatan yang diperoleh klub dari penjualan merchandise, sponsor, tiket, dan sumber-sumber lain. Jumlahnya minimal harus sama besar dengan pengeluaran di awal musim. Dengan toleransi batas maksimal kerugian sebesar 30 juta.
Sebagai konsekuensi dari aturan ini, pemilik klub tidak lagi dapat mengeluarkan uang pribadinya secara terus menerus untuk mendanai keperluan belanja klub. Dan hanya bisa mengcover batas kerugian maksimal yang telah ditetapkan oleh FIFA.
Tujuan dari dibuatnya aturan ini adalah untuk mendorong klub agar memiliki pendanaan yang mandiri dan berkelanjutan tanpa harus selalu bergantung pada uang pemilik klub. Sekaligus sebagai sarana pencegahan agar klub tidak terjebak kerugian atau utang yang berpotensi merugikan dalam jangka panjang
Selain itu, aturan ini juga dimaksudkan agar iklim kompetisi antar klub tetap terjaga dan tidak berat sebelah. Dengan mengurangi perbedaan pengeluaran belanja pemain antara klub besar dengan klub kecil. Seiring mulai banyaknya pemilik klub dengan kekayaan melimpah yang mulai berinvestasi di dunia sepakbola.
Bilamana pada akhir musim klub mencatatkan kerugian melebihi dari batas maksimal yang sudah ditetapkan, maka klub tersebut dapat dikenai sanksi sesuai dengan derajat pelanggarannya.
Ada sanksi ringan dalam bentuk berupa denda dan larangan melakukan belanja pemain pada bursa transfer di musim depan. Hingga sanksi berat berupa larangan mengikuti liga, pengurangan poin, sampai pembatalan status juara pada kompetisi tertentu.
Dalam kondisi pandemi seperti sekarang yang mempengaruhi keuangan banyak klub, salah satu cara adaptasi paling mudah yang banyak dilakukan adalah dengan menjual pemain atau mengurangi gaji mereka.
Inilah mengapa di awal musim, Barcelona tidak memperpanjang kontrak Lionel Messi. Karena bila kontrak tersebut diperpanjang, akumulasi pengeluaran Barcelona akan melebihi batas yang ditetapkan oleh FFP. Yang pada akhirnya akan membuat Barcelona tidak dapat mendaftarkan pemain baru serta berpotensi membuat klub terkena sanksi transfer di musim depan.
Semenjak diterapkan secara efektif pada awal musim 2011/2012, aturan FFP ini terus mengalami modifikasi dengan semakin ketatnya batas toleransi pelanggaran yang dapat dilakukan oleh klub.
Dari awal mula batasan defisit yang diperbolehkan sebesar 50 juta dalam tiga musim. Hingga kini menjadi sebesar 30 juta dalam satu musim. Bahkan saat ini, muncul wacana untuk menerapkan rasio pendapat
Kembali pada kasus Newcastle, untungnya pemilik sebelumnya, Mike Ashley, merupakan klub dengan laporan keuangan yang cukup baik di liga Inggris. Tercatat, dalam tiga musim terakhir, Newcastle mampu meraih surplus rata-rata sebesar 30 juta dalam semusim.
Artinya, mereka memenuhi persyaratan ambang batas FFP dan mampu berbelanja pada bursa pemain di musim panas nanti.
Tapi tentu tidak dengan jor-joran, namun dengan perhitungan yang cermat sesuai dengan kalkulasi kerugian dan keuntungan yang mungkin mereka dapat pada musim ini.
Karena kalau laporan keuangan mereka mendapat catatan merah pada saat tutup buku di akhir musim, sanksi FFP akan menanti mereka. Begitupun dengan klub-klub lain, baik klub besar maupun klub kecil.
Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, meskipun pemilik mereka adalah orang yang paling kaya dunia...
