Konten dari Pengguna

Fenomena Viral "Anak Favorit": Benarkah Orang Tua Selalu Punya Anak Kesayangan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmawati Mahardhika Hariaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak favorit orang tua. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak favorit orang tua. Foto: Freepik

Fenomena anak favorit belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Kalimat seperti "Mama lebih sayang adik" semakin sering muncul di TikTok, Threads, hingga Instagram. Banyak orang membagikan pengalaman merasa lebih sering disalahkan, dibandingkan dengan saudara kandung, atau merasa tidak pernah menjadi pilihan utama di rumah. Ribuan komentar bermunculan dengan cerita yang serupa. Tidak sedikit pula yang mengaku baru menyadari pengalaman tersebut setelah dewasa.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Yang berubah adalah cara masyarakat memandangnya. Dulu banyak orang menganggap dinamika keluarga sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Kalaupun merasa diperlakukan berbeda, respons yang sering muncul adalah, "namanya juga orang tua". Kini situasinya mulai berubah. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat sehingga orang mulai berani mempertanyakan pengalaman masa kecilnya dan mencari tahu apakah pengalaman tersebut masih memengaruhi dirinya hingga sekarang.

Perubahan ini patut diapresiasi. Semakin banyak orang memahami bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Datang ke psikolog atau mencari informasi mengenai pola asuh pun tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu. Kesadaran seperti inilah yang menjadi langkah awal agar seseorang lebih mengenal dirinya sendiri.

Mengapa Fenomena Anak Favorit Begitu Relate?

Meski demikian, meningkatnya kesadaran juga membawa tantangan baru. Media sosial memang membantu banyak orang merasa tidak sendirian, tetapi potongan informasi yang singkat sering kali membuat persoalan yang sebenarnya kompleks terlihat sangat sederhana. Ketika menemukan cerita yang terasa relate, seseorang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa dirinya pasti menjadi korban pilih kasih orang tua. Padahal pengalaman yang mirip belum tentu memiliki penjelasan yang sama.

Di sinilah pentingnya membedakan antara awareness dan self-diagnosis. Kesadaran (awareness) membuat seseorang terdorong untuk mengenali dirinya dan mencari pemahaman yang lebih utuh. Sebaliknya self-diagnosis sering kali membuat seseorang terlalu cepat memberi label pada dirinya atau orang lain berdasarkan informasi yang belum lengkap. Padahal dalam ilmu psikologi, memahami sebuah pengalaman membutuhkan konteks yang jauh lebih luas daripada sekadar potongan cerita di media sosial.

Apa yang Sebenarnya Dikatakan Psikologi?

Psikologi keluarga sebenarnya sudah lama menjelaskan fenomena ini melalui konsep Parental Differential Treatment (PDT), yaitu perlakuan orang tua yang berbeda kepada setiap anak. Perbedaan tersebut dapat berupa perhatian, aturan, dukungan, maupun kedekatan emosional. Namun perlakuan yang berbeda belum tentu berarti kasih sayang yang berbeda. Orang tua dapat menyesuaikan pola pengasuhan berdasarkan usia, karakter, atau kebutuhan masing-masing anak (Iftikhar & Sajjad, 2023).

Misalnya seorang kakak lebih difasilitasi mengikuti olimpiade karena memiliki minat di bidang akademik, sedangkan adiknya didukung mengikuti sekolah sepak bola karena lebih berbakat di bidang olahraga. Perbedaan seperti ini bukan berarti orang tua lebih menyayangi salah satu anak. Sebaliknya, yang perlu diwaspadai adalah ketika perbedaan tersebut menyangkut hak dasar anak, seperti kasih sayang, penghargaan, perhatian, atau rasa aman dalam keluarga.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa persepsi diperlakukan tidak adil oleh orang tua berkaitan dengan meningkatnya konflik antarsaudara, menurunnya kualitas hubungan dengan orang tua, hingga rendahnya psychological well-being (kesejahteraan psikologis) pada masa dewasa (Russell & Limke-McLean, 2023; Eckert et al., 2026; Hou & Suitor, 2023).

Temuan serupa juga ditemukan di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap parental favoritism berkaitan dengan meningkatnya sibling rivalry pada usia dewasa (Hariaji et al., 2025). Artinya fenomena "anak favorit" memang layak mendapat perhatian, tetapi tidak dapat disimpulkan hanya dari satu pengalaman atau satu konten yang lewat di media sosial.

Kesadaran Adalah Awal, Bukan Akhir

Hal yang paling penting setelah menyadari pengalaman masa kecil bukanlah mencari siapa yang paling bersalah, melainkan memahami apa yang dapat diperbaiki. Memahami penyebab luka bukan berarti terus menyalahkan orang tua. Sebaliknya, pemahaman membantu seseorang mengenali akar masalah agar tidak mengulang pola yang sama kepada generasi berikutnya.

Di sisi lain, orang tua juga tidak selalu menyadari bahwa mereka memperlakukan anak-anaknya secara berbeda. Sebagian besar mengasuh dengan cara yang dulu mereka terima dari orang tuanya. Niat baik pun tidak selalu menghasilkan pengalaman yang baik bagi anak. Karena itu, belajar menjadi orang tua seharusnya tidak berhenti ketika anak lahir. Mendengarkan anak, memperbarui pengetahuan tentang pengasuhan, bahkan berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses tersebut.

Fenomena viral "anak favorit" pada akhirnya dapat menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dalam keluarga. Namun, kesadaran saja tidak cukup. Informasi seharusnya membantu kita memahami diri, bukan sekadar menentukan siapa yang harus disalahkan. Sebab tujuan memahami masa lalu bukan untuk terus hidup di dalamnya, melainkan agar kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan tidak mewariskan luka yang sama kepada generasi berikutnya.