Konten dari Pengguna

Pariwisata vs Predator: Kajian Manajemen Risiko di Taman Nasional Komodo

Raihanah Khairunnisa Putri Maulana
Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia angkatan 2023
6 April 2025 8:58 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Raihanah Khairunnisa Putri Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: IHGMA
zoom-in-whitePerbesar
Foto: IHGMA

Latar Belakang

ADVERTISEMENT
Pulau Komodo dalam wilayah Taman Nasional Komodo merupakan satu-satunya habitat asli di dunia bagi hewan langka biawak komodo (Varanus komodoensis). Diacu dalam laman resmi Komodo National Park, TN Komodo ditunjuk sebagai Taman Nasional Indonesia Pertama pada 6 Maret 1980. Saat ini TN Komodo dikelola oleh Balai Taman Nasional Komodo, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
ADVERTISEMENT
Sejarah taman nasional ini dimulai sejak abad 19 saat masih masuk dalam wilayah Kesultanan Bima dan di bawah kendali Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Biawak komodo dikenalkan ke dunia pertama kali pada tahun 1910 oleh letnan kolonial Belanda, J. K. H. van Steyn van Hensbroek. Namun karena tekanan eksploitasi, Pemerintah Hindia Belanda meminta Kesultanan Bima dan Kerajaan Manggarai untuk menerbitkan surat keputusan mengenai perlindungan biawak komodo pada tahun 1926. Selanjutnya, pada tahun 1965 ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Pulau Komodo, serta ditunjuk sebagai Cagar Biosfer Komodo dalam program Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO pada tahun 1977 dan sebagai Taman Nasional Komodo pada tahun 1980. Pada tahun 1991, taman nasional ini kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO dan biawak komodo ditetapkan sebagai Satwa Nasional oleh Presiden Soeharto. Terakhir, TN Komodo ditetapkan sebagai salah satu New 7 Wonders oleh New 7 Wonders Foundation pada tahun 2013.
ADVERTISEMENT

Risiko-Risiko Utama

Seiring berkembangnya teknologi membuat destinasi wisata, termasuk TN Komodo menjadi lebih terkenal dan menarik perhatian banyak orang. Meningkatnya wisatawan yang berkunjung tak luput dari beberapa risiko yang dapat terjadi saat melakukan wisata terlebih wisata alam, seperti berikut.

1. Serangan komodo

Komodo merupakan hewan teritorial yang dapat menyerang jika merasa terganggu saat ada yang terlalu dekat atau melakukan gerakan mendadak. Berdasarkan data yang diperoleh oleh Moan (2015) dari BTNK, terdapat 12 kasus gigitan komodo pada tahun 2009–2014.

2. Medan alam ekstrem

Jalur trekking di TN Komodo yang panas, dan tidak merata juga berbatu dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan terjatuh.

3. Overcrowding dan tekanan ekologis

Jumlah wisatawan yang meningkat mengakibatkan perubahan pada perilaku alami komodo. Kepala BTNK dalam wawancara dengan CNN Indonesia (2022) menyebutkan, komodo yang sering berjumpa dan cenderung dekat dengan manusia membuat kewaspadaan mereka terhadap manusia menurun. Selain itu, karena sering diberi makan oleh petugas membuat naluri berburu mereka menurun sehingga ditakutkan mereka tidak dapat bertahan di alam liar.
ADVERTISEMENT

4. Minimnya pemahaman wisatawan

Berdasarkan laman IndonesiaJuara (2025), komodo dapat berlari hingga 20 km/jam dan memiliki indra penciuman yang sangat sensitif terhadap darah. Hal tersebut masih jarang diketahui oleh wisatawan, sehingga ditakutkan wisatawan bersikap ceroboh ataupun mengabaikan protokol keselamatan.

Praktik Manajemen Risiko

Menurut Sarjana et al. (2022), manajemen risiko merupakan proses organisasi dalam mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan berbagai ancaman dan tantangan terhadap pencapaian tujuan yang dapat bersumber dari ketidakpastian keuangan, kewajiban hukum, kesalahan dalam strategi manajemen, hingga kecelakaan ataupun bencana alam. Berikut hal-hal yang diterapkan sebagai manajemen risiko oleh BTNK selaku pemilik risiko.

1. Identifikasi

BTNK rutin memetakan titik-titik rawan di jalur wisata, termasuk zona kemunculan komodo dan rawan konflik hewan-manusia. Selain itu, terdapat daftar lengkap mengenai protokol kunjungan wisata alam di TN Komodo serta sanksi pelanggaran yang tertera di laman resmi BTNK.
ADVERTISEMENT

2. Sosialisasi dan edukasi

Terdapat papan informasi multibahasa dan infografis berisi briefing keselamatan sebagai prosedur standar sebelum memulai trekking.

3. Pencegahan

Kelompok wisatawan yang akan melakukan trekking dipandu dengan petugas atau ranger profesional dan berbekal tongkat bercabang (Moan, 2015) juga peluit untuk menghalau komodo yang mendekat. Wisatawan dilarang memberi makan komodo sejak diberlakukannya aturan penghentian pemberian makan pada tahun 2017 guna menjaga perilaku alami komodo. Selain itu, Wakil Menteri LHK, Alue Dohong dalam konferensi pers (2022) mengatakan TN Komodo memberlakukan pembatasan kunjungan wisatawan untuk menjaga kelestarian populasi komodo dan keamanan wisatawan.

4. Penanganan

Pihak BTNK dalam Moan (2015) dikatakan sudah menyediakan fasilitas standar P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan) untuk melakukan pertolongan pertama. Pada kasus gigitan komodo, para korban langsung dilarikan ke Puskesmas Labuan Bajo dan dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar untuk mendapatkan penanganan medis agar tidak mengakibatkan infeksi dari racun gigitan komodo.
ADVERTISEMENT

Kesimpulan dan Rekomendasi

TN Komodo dikenal menawarkan pengalaman berwisata tak biasa dengan bertemu dengan satwa endemik liar, namun hal tersebut juga menjadi pengingat mengenai risiko yang dapat terjadi dalam berwisata, terutama wisata alam liar. Kajian ilmiah ini menunjukkan bagaimana sikap BTNK dalam merancang sistem keamanan bagi kegiatan wisata maupun ekosistemnya.
Berdasarkan hasil kajian ilmiah ini, BTNK selaku pemilik risiko dapat menambahkan beberapa hal untuk meningkatkan manajemen risiko yang sudah diterapkan. Meski sudah menyediakan P3K, pihak BTNK belum pernah melakukan pelatihan terkait P3K maupun K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) kepada para petugas (Moan, 2015), sehingga perlu diadakannya pelatihan lintas disiplin untuk petugas terutama mengenai penanganan medis dasar, komunikasi risiko, dan konservasi. BTNK dapat mengembangkan aplikasi berbasis GPS untuk memantau zona aman dan bahaya secara real-time. Selain itu, dapat juga mengembangkan sistem yang mengintegrasikan edukasi, pemantauan satwa, dan respon darurat berupa Manajemen Keselamatan Wisata Berbasis Konservasi (MKWBK). Terakhir, diperlukannya penelitian kolaboratif oleh BTNK, universitas, dan lembaga konservasi untuk memantau perilaku komodo dan evaluasi risiko lebih lanjut. Dengan adanya kajian ilmiah ini dan rekomendasi yang diberikan, diharapkan Taman Nasional Komodo dapat menjadi destinasi wisata yang selamat dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

Referensi

Balai Taman Nasional Komodo. (2023, October 25). Sejarah Taman Nasional Komodo. Komodo National Park. https://komodonp.com/sejarah-taman-nasional-komodo/.
Balai Taman Nasional Komodo. (2024, October 29). Protokol Kunjungan Wisata Alam. Komodo National Park. https://komodonp.com/protokol-tnkomodo/.
CNN Indonesia. (2022, June 27). Kepala TN Komodo: Perilaku Komodo di Tempat Wisata Berubah. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220627172144-20-814132/kepala-tn-komodo-perilaku-komodo-di-tempat-wisata-berubah.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2022, June 27). Kajian Pembatasan Kuota Pengunjung TN Komodo Demi Kelestarian Satwa Komodo. PPID. https://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/6603/kajian-pembatasan-kuota-pengunjung-tn-komodo-demi-kelestarian-satwa-komodo.
Moan, F. A. C. W. (2015). Analisis Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Balai Taman Nasional Komodo (Studi Kasus Serangan Komodo pada Pekerja di Taman Nasional Komodo Flores Nusa Tenggara Timur) (thesis). Repository - UNAIR. Universitas Airlangga, Surabaya. Retrieved April 4, 2025, from https://repository.unair.ac.id/39628/.
ADVERTISEMENT
Rustyaningtyas, A. A. (2025, March 13). Mitos dan Fakta Komodo yang Wajib Diketahui!. IndonesiaJuara. https://indonesiajuara.asia/blog/mitos-dan-fakta-komodo/.
Sarjana, S., Nardo, R., Hartono, R., Siregar, Z. H., Irmal, Sohilauw, M. I., Wahyuni, S., Rasyid, A., Djaha, Z. A., & Badrianto, Y. (2022). Manajemen Risiko (H. F. Ningrum, Ed.). CV. 29 Media Sains Indonesia. https://repository.binawan.ac.id/3399/1/Buku%20Digital%20%20Manajemen%20Risiko.pdf.