Konten dari Pengguna

Chairil Anwar "Berontak" Bukan Cuma Lewat Makna, tapi Lewat Tata Bahasanya

Auliana Raina Putri

Auliana Raina Putri

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Auliana Raina Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ensiklopedia, Profile Chairil Anwar
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ensiklopedia, Profile Chairil Anwar

Setiap kali puisi "Aku" karya Chairil Anwar dibahas, hampir selalu arahnya sama, soal semangat pemberontakan, individualisme, atau posisinya sebagai simbol Angkatan '45 yang melawan romantisme Pujangga Baru. Pembahasan semacam itu tidak salah, tetapi ada satu sisi yang nyaris tidak pernah disentuh, yaitu bagaimana pemberontakan itu sebenarnya sudah tertanam bukan hanya pada makna kata-katanya, melainkan pada cara Chairil menyusun tata bahasanya sendiri. Dengan kata lain, sebelum pembaca sempat memaknai isi puisi ini, struktur gramatikalnya sendiri sudah lebih dulu "memberontak" terhadap kebiasaan berbahasa Indonesia formal pada masanya.

Ulasan ini mencoba membaca ulang "Aku" bukan sebagai manifesto eksistensial, melainkan sebagai objek linguistik, tempat setiap pilihan kata ganti, urutan kata, dan tanda baca ternyata punya fungsi yang jauh lebih strategis daripada sekadar hiasan estetis.

Bahasa Indonesia menyediakan banyak pilihan untuk menyebut diri sendiri, mulai dari "saya" yang formal, "aku" yang akrab, hingga bentuk terikat seperti proklitik "ku-" dan enklitik "-ku" yang biasanya menempel pada kata lain, misalnya pada kata kerja atau kata benda. Yang menarik dari puisi ini adalah bagaimana Chairil justru menempatkan kata ganti "aku" sebagai unit yang berdiri sendiri, bahkan dijadikan judul, bukan sekadar ditempelkan sebagai imbuhan pada kata lain seperti kebiasaan pemakaian sehari-hari.

Secara gramatikal, ini adalah pilihan yang cukup berani. Dalam pemakaian normal, proklitik "ku-" dan enklitik "-ku" cenderung membuat keberadaan "aku" tersembunyi di balik kata kerja atau kata benda yang menyertainya, seperti pada pola "kulihat" atau "rumahku", di mana fokus kalimat sebenarnya ada pada tindakan atau bendanya, bukan pada pelaku. Chairil membalik logika ini. Ia menjadikan kata ganti diri sebagai subjek yang berdiri sendiri dan ditonjolkan, sebuah pilihan morfologis yang secara halus sejalan dengan semangat individualisme yang ingin ia sampaikan. Pemberontakan terhadap norma sosial di sini terjadi bukan hanya lewat makna, tetapi sudah dimulai dari level tata bentuk kata.

Kekuatan berikutnya terletak pada pola sintaksis, khususnya urutan kata dalam larik-larik puisi ini. Bahasa Indonesia baku umumnya mengikuti pola subjek-predikat-objek yang cenderung netral secara emosi. Namun, di beberapa bagian puisi ini, Chairil menggunakan struktur yang menempatkan predikat atau keterangan sifat justru di depan, mendahului subjeknya, sebuah teknik yang dalam kajian sintaksis disebut sebagai inversi atau pembalikan urutan. Efeknya, elemen yang seharusnya berada di posisi akhir kalimat, yang biasanya kurang mendapat penekanan, justru menjadi bagian yang pertama kali menghantam pembaca.

Teknik pembalikan urutan semacam ini bukan sekadar gaya, melainkan strategi retoris yang secara sadar memanfaatkan kelenturan sintaksis bahasa Indonesia, yang memang lebih longgar dibandingkan bahasa dengan struktur kalimat yang lebih kaku. Chairil sepertinya memahami betul bahwa urutan kata bukan hanya soal tata bahasa yang benar, melainkan juga soal ke mana perhatian pembaca akan diarahkan lebih dulu.

Aspek lain yang sering dilewatkan dalam pembacaan puisi ini adalah peran tanda baca, khususnya penggunaan tanda titik dan jeda yang tidak mengikuti kebiasaan kalimat panjang bergaya sastra lama. Larik-larik dalam puisi ini cenderung pendek-pendek dan dipisahkan oleh jeda yang tegas, menciptakan ritme seperti embusan napas yang terputus-putus, bukan alunan kalimat panjang yang mengalir halus seperti gaya penulisan sebelumnya.

Dari sudut pandang kebahasaan, pola tanda baca semacam ini berfungsi sebagai penanda prosodi tertulis, yaitu cara penulis "menyutradarai" bagaimana pembaca seharusnya membaca dengan kecepatan dan penekanan tertentu, meski hanya lewat teks di atas kertas. Larik pendek yang dipenggal tegas menciptakan kesan tergesa, tegas, dan penuh determinasi, sebuah nada yang sangat berbeda dari iramanya yang landai seperti pembacaan puisi lama yang lebih menekankan keteraturan rima.

Membaca "Aku" lewat kacamata kebahasaan menunjukkan sesuatu yang penting, yaitu bahwa perlawanan dalam karya sastra tidak selalu harus dicari lewat makna kata secara harfiah. Kadang, perlawanan itu justru bersembunyi di tempat yang jauh lebih mendasar, di level bagaimana kata disusun, bagaimana kata ganti diposisikan, dan bagaimana jeda diatur. Chairil Anwar, dalam hal ini, tidak hanya menulis tentang pemberontakan, ia benar-benar mempraktikkan pemberontakan itu lewat cara ia memperlakukan tata bahasa Indonesia sendiri, membengkokkannya dari kebiasaan lama menuju sesuatu yang jauh lebih personal dan lugas.

Inilah yang membuat pembacaan ulang secara linguistik terhadap karya-karya kanon seperti ini tetap relevan untuk terus dilakukan. Sebuah puisi yang sudah dibahas ribuan kali dari sisi makna, ternyata masih bisa menyimpan kejutan baru ketika dibaca dari sisi yang selama ini jarang dilirik, yaitu dari cara ia disusun secara gramatikal.