Jawa Barat Me-RINDU, Katanya

Tulisan dari raja weleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jawa Barat me-RINDU. Itu bukan sekedar slogan tapi ungkapan perasaan dari sekian masyarakat yang sadar bahwa sebentar lagi hajatan politik di Jawa Barat bakal diselenggarakan. Mereka tentu saja me-RINDU-kan sosok pemimpin baru.
Tapi bahwa Kota Bandung – sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat yang tata kotanya indah dan warganya bahagia di bawah Ridwan Kamil – belakangan ini juga dihebohkan dengan kehadiran sosok Dilan dan Milea yang terkenal dengan permainan kata-kata RINDU-nya, mungkin hanya sebuah kebetulan saja.
Sebuah kebetulan yang baik: RINDU sebagai ungkapan perasaan Dilan kepada Milea atau sebaliknya. Juga RINDU sebagai akronim politik Ridwan-Uu. Dan RINDU masyarakat Jawa Barat memilih pemimpin baru yang kreatif, inovatif dan membahagiakan warganya. Itulah esensi politik bagi warga masyarakat.
Sebagai akronimi politik, RINDU dipilih oleh Ridwan Kamil karena itu dianggapnya sebagai kata yang paling akrab di masyarakat dan paling mudah diingat. RINDU tak akan pernah hilang di masyarakat dan akan terkenang selamanya. Ridwan Kamil memang sosok yang selalu muda jiwanya. Setidaknya dia mengerti psikologis kaum muda sehingga dia bisa berbaur dengan mereka dan mengerti tentang apa yang paling abadi di hati mereka.
Tak heran jika ia menjadi bagian dari cerita RINDU Dilan dan Milea meskipun hanya muncul sebentar sebagai seorang guru yang menempelkan papan pengumuman di sekolah.
Setidaknya kemudian kita tahu bahwa RINDU menjadi buah bibir di masyarakat. Dan RINDU selalu ditunggu-tunggu.
***
Pasangan ini mengenalkan dirinya dengan satu akronim yang begitu mudah diingat dan diucapkan: RINDU. Singkatan dari Ridwan dan Uu. Kang Emil, demikian sapaan Ridwan Kamil, menyebut bahwa akronim itu dipilih sebab mudah diterjemahkan dan memiliki arti yang luas (detikcom, 8/1/2018).
Kang Emil kemudian mencontohkan akronim itu semisal RINDU Jabar juara, RINDU Jabar dipimpin inovatif, RINDU Jabar agamis. Semua Jabar RINDU. Dan masih banyak lagi pengungkapan dari akronim RINDU tersebut.
Kang Emil benar. Kata ini memiliki kata yang luas. Dan lebih dari itu, bagi penulis, kata ini dikenal luas sebab ia merujuk pada suatu ungkapan rasa yang melekat akrab di dalam setiap orang. Utamanya kalangan muda, kata ini mustahil untuk tidak diketahui apalagi didukung dengan momentum belakangan ini dimana masyarakat di Jawa Barat dan sekitarnya – terutama kalangan kaum muda milenial – tengah dihebohkan oleh hadirnya film cinta Dilan dan Milea yang diangkat dari novelnya Pidi Baiq, Dilan: Dia Adalah Dilanku 1990. Kata RINDU menjadi bagian yang sering hadir dalam dialog di film itu. Salah satu yang tengah viral misalnya: “Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”.
Praktis remaja penyuka film ini tidak mungkin tidak mengenal dan tidak akrab dengan kata-kata ini. Rindu menjadi kata yang melekat di tutur dan ingatan mereka. Rindu menjadi bagian-bagian yang indah dari romansa percintaan mereka. Rindu menjadi bagian yang selalu membuat mereka tersenyum. Dan RINDU juga tak lain adalah sebuah akronim dari pasangan Ridwan-Uu.
Sekali lagi, strategi pemilihan akronim RINDU ini memungkinkan kian akrab dan dekatnya kaum muda – salah satu segmen pemilih di Jawa Barat yang jumlahnya begitu besar – dengan Ridwan-Uu. Rindu sebagai ungkapan rasa dan RINDU sebagai akronim Ridwan-Uu menjadi berjalinan.
Selain itu, Ridwan Kamil sendiri memang merupakan sosok yang dekat dengan kaum muda. Dia mampu berinteraksi dan berbaur dengan baik dengan mereka. Salah satu interaksi keduanya misalnya bisa dilihat di media sosial seperti instagram. Ridwan Kamil aktif menyapa mereka dengan postingan entah yang lucu atau yang serius. Banyak hal yang diperbincangkan: dari hal-hal remeh yang sekedar mengundang kelucuan, gelak tawa dan having fun lainnya hingga pada hal-hal lain yang lebih serius menyangkut capaian-capaian pembangunan selama RK menjabat sebagai wali kota di Bandung.
