Konten dari Pengguna

Menipisnya Cermin Diri: Saat Manusia Tak Lagi Berkaca

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ramadhan Ichsan Adityaksa Sidharta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto adalah dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto adalah dokumentasi pribadi

Era modern, sebuah zaman dimana manusia dapat dengan mudah sekali mengeluarkan pendapat antara satu sama lain. Baik melalui lisan maupun batin, baik secara tatap muka maupun dunia maya, dan baik dengan cara yang halus maupun kasar, manusia menjadi mudah men-judge orang lain tanpa berkaca terlebih dahulu. Kemajuan teknologi dan globalisasi menjadi faktor penting menurunnya kesadaran masyarakat terhadap diri mereka sendiri dan lingkungan sekitar. Dan saat ini, hal tersebut terjadi di semua aspek kehidupan, dan di semua tingkatan di lingkungan saya.

1. Lingkup Media Sosial

Pada bulan Januari 2024 kemarin, tercatat bahwa pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 139 Juta pengguna, atau setara dengan 49,9% dari total populasi ( We are Social dan Kepios ). Ironisnya, di balik kemudahan konektivitas, banyak pengguna yang cenderung lebih fokus pada validasi virtual daripada refleksi diri.

Banyak dari mereka menganggap media sosial sebagai pelarian dari realita. Sebuah dunia terpisah dimana mereka dapat menjadi bebas melakukan apa yang mereka inginkan, dan berujung pada terkikisnya sikap sosial dan kemanusiaan antar satu sama lain. Salah satu caranya yaitu dengan adanya kesadaran diri bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak benar. Tanpa kesadaran diri, kebiasaan ini akan terus berlanjut selamanya.

Sikap refleksi adalah suatu hal yang langka di media sosial belakangan ini. Di tengah banjir komentar tanpa dasar yang menerjang, tidak jarang saya menemukan komentar murahan yang ditujukan demi like dan atensi. Salah satu yang mencolok yaitu seseorang menyerukan “Free Palestine” di kolom komentar suatu postingan orang lain. Namun, setelah saya telusuri lebih jauh, akun tersebut bahkan tidak mencerminkan seorang muslim yang taat.

Seolah – olah agama hanyalah aksesori digital, pemilik akun tersebut hanya berbicara di mulut saja sedangkan hati dan pikiran tidak digunakan. Ironisnya, kasus serupa seperti ini tidak saya temukan satu dua kali, dan tidak terbatas di lingkup agama saja. Apa yang orang sampaikan dan serukan berbanding terbalik dengan aksi yang dilakukan orang tersebut. Sungguh, media sosial kini dipenuhi dengan orang – orang bermuka dua.

Contoh lain datang dari sebuah komentar yang mengatakan bahwa islam adalah agama yang tidak kenal belas kasihan, dengan dalih membunuh perempuan dan anak – anak di timur tengah. Saya pun menjawab komentarnya dengan mengangkat suatu kasus serupa lainnya, dimana terjadi bom bunuh diri di sebuah masjid di Pakistan yang dilakukan oleh seorang non-muslim. Saya pun bertanya dengan tenang “Dengan adanya kasus tersebut, haruskah saya menuduh agama dan seluruh penganut agama pelaku bom bunuh diri tersebut hanya karena suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang individu?”. Pengomentar pun diam dan tidak membalas komentar saya hingga saat ini. Sebuah ketenangan yang mengalahkan lantangnya debat apapun.

2. Lingkup Dunia Politik

Dalam lingkup politik, jika kita berefleksi pada pemilu tahun lalu, yakni tepatnya pada 14 Februari 2024, tingkat partisipasi pada saat itu mencapai 82% dari total penduduk Indonesia ( KPU RI ). Sebuah pencapaian luar biasa dibandingkan dengan negara - negara penganut demokrasi lainnya. Para calon dan KUP sudah sangat cukup berhasil dalam menghimbau warganya untuk turut ambil suara. Namun apakah dalam prosesnya dilakukan dengan cara yang bersih?

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar yang selanjutnya tampak cukup jelas dalam dunia politik. Jika kita melihat dengan mata terbuka, kampanye bukan lagi suatu ajakan, melainkan hipnotis massal. Layaknya penggembala yang menggiring ternak, calon yang berhasil menyihir opini publik untuk sepemikiran dengannya adalah pemenangnya. Tak peduli apa isi visi dan misi yang dimiliki seorang calon, asalkan dia unggul berbicara di depan publik, tahu kapan waktu tersenyum, dan pandai melempar janji palsu, pada akhirnya dia akan menang.

Calon pun tak ragu menggunakan cara keji seperti money politic untuk menarik pengikut. Menurut data dari LIPI pada pemilu 2019 ( pusat edukasi antikorupsi ), sebanyak 47,4% responden membenarkan adanya money politic sedangkan 46,7% menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar. Tidak terpaku pada pemilu, hal yang sama juga terjadi di pilkada.

Tapi ya itu, anehnya kenapa masyarakat setuju – setuju saja walau pada akhirnya, masyarakat sendirilah yang akan tersiksa setelah memilih calon yang dusta, licik, dan tak bertanggung jawab? Masyarakat pun terjebak dalam lingkaran kepedihan yang mereka bangun sendiri. Kita seharusnya tetap memilih pemimpin bukan karena uang semata yang dasarnya hanyalah godaan sesaat, namun juga harus penuh kesadaran jangka panjang tentang apa dampaknya ke kita dan sekitar, demi mengurangi angka para tikus singgahsana.

3. Lingkup Keluarga

Minimnya kesadaran masyarakat terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya dapat juga ditemukan dalam lingkup terkecil kehidupan yaitu keluarga. Tidak sedikit orang tua jaman sekarang yang secara spotan memarahi anaknya ketika berbuat suatu kesalahan, padahal kesalahan serupa masih mereka lakukan sendiri.

Kasus ini terjadi pada teman saya yang mendapat perlakuan tidak adil di rumah sendiri. Orang tuanya selalu menuntut anaknya untuk pergi ke masjid secara rutin sementara orang tuanya sendiri bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melangkahkan kaki kesana. Keduanya sama – sama beragama islam, tetapi hanya 1 pihak yang mendapat tuntutan lebih berat.

Banyak sekali orang tua jaman sekarang yang kerap mencari alibi untuk membenarkan apa yang mereka perbuat. Hanya segelintir dari mereka yang bersedia menunduk sejenak dan berkata, "Saya juga salah."

4. Lingkup Jalan Raya

Aspek lain dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap diri sendiri dan lingkungan muncul saat berada di jalanan. Kesadaran diri pada sektor lalu lintar di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dengan pertumbuhan pesat jumlah kendaraan bermotor dari hari ke hari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS ) terbaru per Februari 2024, total jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 157 juta unit pada tahun 2023. Jika melihat total penduduk di Indonesia pada tahun itu sebanyak 278,69 juta jiwa ( BPS ), maka untuk setiap 100 orang terdapat 56,36 kendaraan bermotor. Anehnya, semakin padatnya jalanan d Indonesia, kesadaran diri pengguna jalan juga semakin menurun.

Pasti kita seringkali menemukan pengendara– terutama, mohon maaf, ibu – ibu yang selalu saja lupa mematikan lampu sein setelah berbelok. Tentu saja hal ini membuat bingung pengendara di belakang “Apakah dia akan berbelok atau tidak?”.

Yang lebih parah lagi adalah ketika saya menemui ada orang yang menyalakan lampu sein belok ke kanan tapi justru belok ke kiri dalam perjalanan pulang saya dari kampus Universitas Jember. Sebuah plot twist yang lebih mengejutkan dari film horror apapun. Dampak terburuknya? kecelakaan. Dan ketika ditegur? Bukannya meminta maaf mengakui kesalahan, justru balik marah seolah seluruh jalan dibuat untuknya. Muncul sebuah pertanyaan di pikiran saya “SIM itu didapat dari hasil ujian atau hasil undian?”.

5. Lingkup Bermasyarakat

Di ranah tradisi bermasyarakat, salah satu contoh kurangnya refleksi diri terdapat di tradisi tahlilan setelah kematian. Seorang tetangga dari teman saya, terpaksa untuk melaksanakan tahlilan dengan menggunakan uang dari hasil berhutang, demi tidak menjadi bahan omongan tetangga. Padahal menurut sejarah, tradisi tahlilan tidak pernah diajarkan oleh nabi, yang berarti tahlilan itu pada dasarnya tidak wajib.

Di samping itu, tahlilan yang tujuan utamanya mendoakan yang telah meninggal, tidak harus dilakukan secara berkumpul di satu tempat yang sangat membebani finansial orang. Mendoakan seseorang bisa dilakukan dengan mudah tanpa perlu mengeluarkan biaya apapun, semudah menengadahkan tangan dengan niat ikhlas. Sayangnya, masyarakat sekitar memiliki pendapat berbeda. Apabila tidak melaksanakan tahlilan, maka akan menjadi bahan pembicaraan dan cibiran. Kalimat seperti “Masa keluarganya meninggal ngga didoain?” menjadi pisau yang dapat menusuk tuan rumah. Alhasil, karena pengaruh masyarakat itulah, kegiatan tahlilan yang pada dasarnya mubah (boleh) menjadi wajib atas dasar gengsi.

Pernyataan – pernyataan di atas merupakan segelintir contoh dari banyaknya fenomena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar yang terjadi di berbagai aspek kehidupan. Saya pribadi turut prihatin dengan pandangan masyarakat sekarang yang mulai kehilangan nilai moral dan refleksi. Mereka menormalisasikan hal – hal yang tidak seharusnya normal dan mengabnormalkan hal – hal yang seharusnya normal. Batas antara benar dan salah mulai kabur, bukan karena tidak tahu, tapi karena memilih untuk tidak tahu.