Konten dari Pengguna

Gengsi Berujung Sakit Hati, Mengapa Gaya Hidup Sering Jadi Pemicu Hutang

Randi Raisan

Randi Raisan

Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Randi Raisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi hutang dan cicilan yang menumpuk(chatGpt image)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi hutang dan cicilan yang menumpuk(chatGpt image)

Di zaman sekarang, gaya hidup sering kali menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang ingin terlihat sukses, mengikuti tren, dan memiliki barang-barang yang sedang populer. Media sosial juga membuat seseorang semakin mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Tanpa disadari, keinginan untuk terlihat mampu dan tidak ingin dianggap tertinggal dapat mendorong seseorang mengeluarkan uang melebihi kemampuan finansialnya.

Gengsi menjadi salah satu alasan seseorang menjalani gaya hidup yang sebenarnya belum sesuai dengan kondisi ekonominya. Ada orang yang membeli pakaian bermerek, mengganti telepon genggam terbaru, makan di restoran mahal, atau berlibur ke tempat populer bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Keinginan untuk terlihat berhasil terkadang lebih besar daripada pertimbangan mengenai kemampuan membayar.

Media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap munculnya gaya hidup konsumtif. Setiap hari seseorang dapat melihat unggahan teman, influencer, atau tokoh terkenal yang menampilkan kehidupan mewah. Foto kendaraan baru, liburan, pakaian mahal, hingga makan di tempat yang sedang tren dapat menciptakan anggapan bahwa kehidupan seperti itu merupakan standar kesuksesan. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang yang sebenarnya.

Masalah muncul ketika seseorang berusaha mengikuti gaya hidup tersebut tanpa memiliki penghasilan yang cukup. Salah satu jalan yang sering dipilih adalah menggunakan kartu kredit, paylater, pinjaman online, atau meminjam uang kepada orang lain. Pada awalnya, utang mungkin terasa seperti solusi yang mudah karena seseorang dapat memperoleh barang atau menikmati sesuatu tanpa harus membayar seluruh biayanya saat itu juga. Namun, kewajiban membayar di kemudian hari dapat menjadi beban apabila dilakukan secara terus-menerus.

Kebiasaan berutang demi memenuhi gengsi dapat menciptakan lingkaran masalah keuangan. Seseorang mungkin mengambil utang baru untuk membayar utang sebelumnya. Akibatnya, jumlah kewajiban semakin bertambah dan penghasilan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari justru habis untuk membayar cicilan. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, seseorang dapat mengalami tekanan finansial yang serius.

Selain berdampak pada kondisi keuangan, utang akibat gaya hidup juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Seseorang yang memiliki banyak cicilan mungkin merasa cemas ketika mendekati tanggal pembayaran. Rasa takut tidak mampu membayar dapat menyebabkan stres, sulit tidur, dan kehilangan ketenangan. Ironisnya, gaya hidup yang awalnya bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan dan pengakuan justru dapat berakhir dengan tekanan dan sakit hati.

Gengsi juga dapat membuat seseorang sulit mengatakan “tidak” kepada lingkungan. Misalnya, ketika teman mengajak makan di restoran mahal, seseorang mungkin merasa malu jika menolak karena takut dianggap tidak mampu. Begitu juga ketika lingkungan pertemanan terbiasa membeli barang mahal atau melakukan perjalanan dengan biaya besar. Demi tetap dianggap setara, seseorang dapat memaksakan diri mengikuti kebiasaan tersebut meskipun kondisi keuangannya tidak memungkinkan.

Padahal, kemampuan finansial setiap orang berbeda. Ada orang yang memiliki penghasilan besar sehingga mampu membeli barang mahal tanpa mengganggu kebutuhan lainnya. Namun, ada juga orang yang penghasilannya masih terbatas sehingga harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Membandingkan kondisi keuangan diri sendiri dengan orang lain tanpa mengetahui keadaan mereka secara keseluruhan hanya akan menimbulkan tekanan dan keputusan finansial yang kurang bijak.

Untuk menghindari utang akibat gaya hidup, seseorang perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk menunjang kehidupan, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Sementara itu, keinginan lebih berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki atau dinikmati, tetapi sebenarnya masih dapat ditunda. Kemampuan membedakan keduanya dapat membantu seseorang membuat keputusan keuangan yang lebih rasional.

Selain itu, membuat anggaran keuangan juga sangat penting. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, seseorang dapat mengetahui ke mana uangnya digunakan setiap bulan. Pengeluaran untuk kebutuhan utama sebaiknya diprioritaskan sebelum mengalokasikan uang untuk hiburan atau membeli barang yang tidak terlalu penting. Jika terdapat sisa penghasilan, sebagian dapat digunakan untuk menabung atau membangun dana darurat.

Kebiasaan menabung dan memiliki dana darurat juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap utang. Ketika terjadi kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan atau perbaikan kendaraan, seseorang tidak harus langsung mencari pinjaman. Dana yang sudah dipersiapkan sebelumnya dapat menjadi perlindungan terhadap kondisi tidak terduga. Dengan begitu, seseorang dapat menjaga kestabilan keuangan sekaligus mengurangi tekanan akibat utang.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang memiliki barang paling mahal atau gaya hidup paling mewah. Kesuksesan tidak hanya dapat diukur dari kendaraan yang digunakan, pakaian yang dikenakan, atau tempat yang dikunjungi. Kemampuan mengelola keuangan, memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan, serta memiliki kehidupan yang tenang juga merupakan bentuk kesuksesan yang jauh lebih berarti.

Gengsi mungkin memberikan kepuasan sesaat, tetapi utang dapat memberikan beban dalam waktu yang panjang. Karena itu, penting bagi setiap orang untuk belajar mengatakan cukup dan tidak memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Lebih baik hidup sederhana tetapi tenang daripada terlihat mewah namun setiap bulan dihantui cicilan.

Dengan mengendalikan gaya hidup, seseorang bukan berarti harus berhenti menikmati kehidupan. Menikmati hasil kerja tetap boleh dilakukan selama sesuai dengan kemampuan finansial. Kuncinya adalah keseimbangan antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan membayar. Jangan sampai keinginan untuk terlihat sukses justru membuat masa depan menjadi penuh masalah.

ilustrasi kebabasan dari hutang dan cicilan (chatGpt image)

Pada akhirnya, gengsi tidak seharusnya menjadi alasan seseorang mengorbankan kondisi keuangannya. Kebahagiaan yang sebenarnya bukan berasal dari penilaian orang lain, melainkan dari kemampuan menjalani hidup dengan tenang dan bertanggung jawab. Sebelum membeli sesuatu hanya karena takut dianggap kurang mampu, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, atau hanya ingin terlihat lebih baik di mata orang lain? Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi langkah awal untuk menghindari utang dan membangun kehidupan finansial yang lebih.