Konten dari Pengguna

Potensi Daun Seledri (Apium graveolens L.) sebagai Antihipertensi Alami

Ratu Nayla Fatiha

Ratu Nayla Fatiha

Mahasiswa Prodi Farmasi UIN Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratu Nayla Fatiha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Daun Seledri (https://pixabay.com/images/search/daun%20seledri/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Daun Seledri (https://pixabay.com/images/search/daun%20seledri/)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang melebihi angka 140 mmHg untuk tekanan darah sistole dan 90 mmHg untuk tekanan darah diastole (Handono, 2024). Hipertensi terjadi karena adanya ketidakseimbangan hemodinamik multifaktor pada sistem kardiovaskular. Secara umum, keseimbangan antara jumlah darah yang dipompa jantung per menit atau cardiac output dan hambatan aliran darah dalam pembuluh darah perifer atau total peripheral resistance menjadi penentu besar kecilnya tekanan darah. Namun, pada penderita penyakit hipertensi, terjadi peningkatan yang tidak wajar pada salah satu atau kedua bagian tersebut. Peningkatan yang tidak lazim tersebut menyebabkan jantung memompa lebih keras dan menghasilkan kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi yang konstan.

Hipertensi sering kali hadir tanpa tanda. Sebagian besar orang tidak merasakan gejala apa pun saat penyakit ini mulai hinggap pada tubuhnya. Keadaan ini terus menerus terjadi hingga tanpa disadari penyakit hipertensi sudah pada kondisi darurat dan menyebabkan sejumlah komplikasi yang serius seperti penyakit jantung, stroke, atau masalah ginjal. Maka tak heran jika hipertensi menjadi salah satu penyakit yang banyak diidap manusia di usia senja. Itulah sebabnya hipertensi kerap dijuluki sebagai the silent killer atau pembunuh dalam diam.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia, prevalensi hipertensi usia ≤ 18 tahun di Indonesia mencapai 31,1% dengan perkiraan jumlah kasus sebanyak 566.883 orang (Badan Kebijakan Pembangunan & Kementrian Kesehatan RI, 2023). Kasus hipertensi tertinggi berdasarkan pengukuran diraih oleh Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah kasus 108.082 orang. Menurut American Heart Association (AHA), sebanyak 19 Juta lebih kasus kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. World Health Organtization atau WHO (2023) menyebutkan bahwa penderita penyakit hipertensi menyentuh angka 1,28 milliar kasus pada rentang usia 30–79 tahun dan 46% diantaranya tidak menyadari kondisi mereka. Selain itu, WHO menyebutkan bahwa hipertensi termasuk salah satu penyebab kematian terbesar di dunia (WHO, 2023).

Terapi farmakologi merupakan salah satu penanganan yang acapkali dokter lakukan pada pasien penyakit hipertensi. Tindakannya berupa pemberian obat-obatan kimia golongan diuretik, penghambat adrenergik, penghambat enzim konversi angiotensin (penghambat ACE), penghambat reseptor angiotensin, dan antagonis kalsium (Mather dkk., 2024). Namun, perlu diketahui bahwa semua obat-obatan kimia sintesis memiliki sejumlah efek samping. Penggunaannnya yang terus menerus dapat menyebabkan sejumlah efek buruk pada tubuh. Contohnya, obat candesartan dapat menimbulkan gangguan paru-paru, infeksi saluran pernapasan bagian bawah hingga gangguan fungsi ginjal (Jayanti dkk., 2023). Tiyas (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa amlodipin, obat yang populer dikonsumsi pasien hipertensi, dapat menyebabkan edema kaki perifer dan sakit kepala (Tiyas, 2021). Oleh karena itu, terapi nonfarmakologi melalui pengobatan tradisional atau herbal dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi hipertensi. Dalam hal ini, daun seledri termasuk satu di antara sekian tanaman herbal yang dapat dijadikan alternatif terapi pengobatan hipertensi (Istichomah & Ambarwati, 2024).

Morfologi dan Fitokimia Daun Seledri

Apium graveolens L. atau seledri merupakan salah satu tanaman sayuran yang populer di Indonesia karena kehadirannya yang sering digunakan dalam berbagai olahan. Tanaman seledri berakar kerucut dengan akar serabut yang pendek. Daun seledri menjari, melekuk-lekuk tidak teratur dan tangkai daunnya panjang (Sunarjono, 2013, hlm. 100). Seledri dapat tumbuh hingga ketinggian 1 meter. Batangnya beralus, tidak berkayu, dan bercabang. Selain itu, aroma harum yang khas menjadi salah satu karakteristik unik seledri. Aroma yang khas ini berasal dari senyawa ftalida yang ada di dalam akar (57,7-79,7%), daun (74,6- 76,6%), dan batang seledri (56,8-74,1%) (Sellami dkk., 2012).

Berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh ada di dalam seledri. Hubungan antara tanaman seledri dengan tekanan darah tinggi terletak pada kandungan senyawa dalam daun seledri yang mampu meningkatkan ekskresi urin dan memicu dilatasi pembuluh darah (vasodilatasi). Selain ftalida, daun seledri juga mengandung vitamin (A, B dan C), senyawa-senyawa fitokimia berupa alkaloid, flavonoid, flavoglukosida (apiin), apigenin, saponin, minyak atsiri, kolin, tanin, ftalida, fitosterol, asparagin serta senyawa mineral seperti potassium dan magnesium (Handono, 2024; Mauliza & Mouliansyah, 2024; Rivany, 2021). Pada konteks penyakit hipertensi, tekanan darah pengidap penyakit tersebut dapat menurun dengan bantuan senyawa-senyawa bioaktif dalam seledri seperti apiin, apigenin, potassium, dan ftlalida (Hidayati, 2019).

Penelitian Aktivitas Antihipertensi Daun Seledri

Penelitian yang dilakukan oleh Handono (2024) menunjukkan bahwa rebusan air daun seledri dapat berpengaruh pada tekanan darah sistole dan diastole responden. Responden merupakan 30 orang pengidap penyakit hipertensi grade 2 di Desa Lebak Pracimantoro. Pada saat sebelum diberikan rebusan air daun seledri, rata-rata tekanan darah responden sebesar 178/91,2 mmHg. Hasil tersebut menunjukkan tekanan darah yang tidak normal sebab tekanan darah yang normal berada pada angka ≤ 140 mmHg untuk tekanan darah sistole dan ≤ 90 mmHg untuk tekanan diastole. Penelitian dilakukan dengan menyajikan rebusan air daun seledri kepada responden dua kali sehari selama 3 hari. Setelah 3 hari pemberian rebusan air daun seledri, tekanan darah sebagian besar responden mengalami penurunan. Mulanya sebesar 178/91,2 mmHg, kemudian turun menjadi sebesar 139/81,9 mmHg. Kesimpulannya, rebusan air daun seledri terbukti mampu mengendalikan tekanan darah penderita hipertensi grade 2 (Handono, 2024).

Daun seledri bekerja sebagai diuretik dalam menurunkan tekanan darah. Kandungan apigenin dalam seledri memiliki aktivitas sebagai beta blocker yang mampu mengurangi kekuatan kontraksi jantung sehingga tekanan darah dapat menurun karena volume darah yang dipompa jantung berkurang. Kandungan senyawa flavonoid quercetin dalam seledri dapat bertindak sebagai antioksidan yang mampu menghindari penumpukkan plak pada dinding pembuluh darah akibat reaksi pelepasan elektron yang dilakukan oleh kolestrol jahat (LDL) yang memicu pengentalan darah. Flavonoid quercetin akan berperan sebagai penstabil oksigen single. Senyawa ini akan bekerja menstabilkan radikal bebas peroksi dengan cara melepas atau menyubangkan ion hidrogen. Senyawa apiin dalam seledri dapat membantu ginjal dalam diuresis dan membuang cairan yang berlebih. Saat cairan dalam darah berkurang, maka tekanan darah dalam tubuh sesorang akan menurun. Selain itu, kandungan ftalida dan potassium yang terkandung dalam seledri juga membantu mengatasi penyempitan pembuluh darah arteri dengan melemaskan atau merelaksasi otot-otot yang ada pada pembuluh darah arteri. (Mather dkk., 2024; Rivany, 2021)

Potensi Pengembangan Obat Herbal

Daun seledri dapat menjadi salah satu bahan aktif pengembangan formulasi obat herbal di Indonesia. Senyawa apiin dan apigeninnya dapat diekstrak dan diolah ke dalam berbagai bentuk sediaan farmasi oral. Selain itu, senyawa flavonoid serta minyak atsiri yang terkandung dalam daun seledri dapat dimanfaatkan sebagai agen antibakteri dan antiinflamasi (Utami, 2020). Pengembangan sediaan farmasi ini dapat dikreasikan menjadi berbagai sediaan topikal seperti sediaan krim, gel, masker peel-off, dan masih banyak lagi. Hal ini dapat membuka peluang besar dalam dunia industri farmasi, khususnya sebagai bahan dasar utama formulasi sediaan farmasi lainnya.