Konten dari Pengguna

Anak Tumbuh, Ibu Juga Harus Ikut Bertumbuh

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dok. Pribadi, diolah menjadi ilustrasi dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dok. Pribadi, diolah menjadi ilustrasi dengan AI

Belajar dari Anak yang Belajar Berdiri

Beberapa minggu lalu aku duduk di lantai ruang tamu, menyaksikan anakku mencoba berdiri sendiri untuk pertama kalinya tanpa berpegangan. Dia goyah, jatuh, lalu mencoba lagi. Berkali-kali, sampai akhirnya berhasil berdiri beberapa detik sebelum jatuh duduk sambil tertawa bangga pada dirinya sendiri. Aku ikut tepuk tangan seperti orang gila, padahal dia cuma berhasil berdiri beberapa detik. Tapi buatku, itu tetap sebuah pencapaian besar.

Sejak punya anak, aku jadi sering memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Cara dia belajar bicara, dari suara-suara acak sampai akhirnya bisa menyebut satu atau dua kata dengan jelas. Cara dia bermain, mencoba memahami benda di sekitarnya, memasukkan sesuatu ke tempat yang salah berkali-kali sebelum akhirnya menemukan cara yang benar.

Dia menjalani semuanya dengan santai. Jatuh, mencoba lagi. Salah, mencoba lagi. Dia nggak pernah terlihat merasa gagal hanya karena belum berhasil.

Suatu malam, setelah dia tidur, aku duduk sendirian sambil berpikir. Anakku setiap hari belajar sesuatu yang baru. Lalu aku bertanya pada diri sendiri, aku sendiri sedang belajar apa?

Aku Juga Sedang Belajar

Pertanyaan itu terasa lebih dalam buatku karena aku sedang kembali menjalani kuliah setelah sempat berhenti selama satu tahun. Aku cuti karena menikah, kemudian hamil dan akhirnya punya anak.

Waktu itu aku merasa keputusan untuk berhenti sementara memang bagian dari perjalanan hidup yang harus aku jalani. Ada masa ketika aku perlu memprioritaskan hal lain. Tapi di sisi lain, aku juga sempat khawatir. Takut kalau setelah setahun berhenti, semangat belajarku ikut hilang. Takut tertinggal dari teman-teman yang sudah lebih dulu melanjutkan kuliah.

Ketika akhirnya kembali aktif, rasanya memang sedikit berbeda. Aku harus kembali menyesuaikan diri dengan kegiatan perkuliahan sambil mengurus anak yang masih kecil. Ada tugas kuliah, ada kelas, ada urusan rumah, dan ada anak yang tetap membutuhkan perhatian.

Tapi semakin aku jalani, semakin aku sadar bahwa aku sebenarnya sedang belajar lagi.

Bukan hanya belajar tentang materi kuliah, tetapi belajar mengatur waktu, belajar menentukan prioritas, belajar meminta bantuan ketika memang membutuhkan, dan belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri ketika semuanya tidak bisa berjalan sempurna.

Bertumbuh Tidak Harus Selalu Besar

Dari situ aku mulai memahami lagi arti bertumbuh.

Bertumbuh ternyata nggak selalu berarti mendapatkan pencapaian besar yang langsung bisa dilihat orang lain. Kadang bentuknya sederhana. Kembali duduk di kelas setelah satu tahun berhenti. Membuka lagi buku-buku kuliah. Menyelesaikan satu tugas. Membaca beberapa halaman. Atau sekadar tetap mencoba ketika hari itu rasanya sulit untuk fokus.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa saja, tetapi buat seseorang yang sedang menjalani beberapa peran sekaligus, semuanya tetap berarti.

Aku juga mulai melihat pendidikan dari sudut pandang yang berbeda.

Dulu aku mungkin melihat kuliah sebagai sesuatu yang harus diselesaikan untuk mendapatkan gelar. Sekarang, setelah menjadi ibu, aku melihatnya sebagai salah satu proses untuk terus mengembangkan diri.

Menjadi ibu bukan berarti aku harus berhenti belajar.

Aku tetap bisa mengurus anak sekaligus punya sesuatu yang ingin aku capai untuk diriku sendiri.

Anak yang Melihat Ibunya Belajar

Anakku memang belum mengerti kenapa ibunya sering membuka laptop, membaca buku, atau mengerjakan tugas. Baginya, mungkin itu hanya bagian dari kegiatan sehari-hari.

Tapi aku percaya, anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ajarkan lewat kata-kata. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.

Aku ingin suatu hari nanti anakku melihat bahwa belajar adalah sesuatu yang bisa dilakukan siapa saja, bahkan setelah seseorang menjadi ibu.

Aku nggak ingin dia melihat pendidikan sebagai sesuatu yang hanya penting ketika masih kecil. Aku ingin dia tahu bahwa belajar bisa terus dilakukan sepanjang hidup.

Kalau nanti dia punya sesuatu yang ingin dicapai, aku ingin dia tumbuh dengan keyakinan bahwa mencoba adalah hal yang layak dilakukan, meskipun prosesnya tidak selalu cepat.

Mungkin aku juga sedang belajar memberikan contoh itu dari sekarang.

Menjalani Peran Tanpa Berhenti Bertumbuh

Menjalani kuliah sambil mengurus anak tentu membuatku harus lebih pintar membagi waktu. Aku belajar memanfaatkan waktu ketika anak tidur, menyelesaikan tugas sedikit demi sedikit, dan menerima bahwa ada hari ketika rencana yang sudah dibuat ternyata tidak berjalan sesuai keinginan.

Dulu aku mungkin menganggap waktu belajar harus selalu panjang supaya bisa produktif. Sekarang aku justru belajar bahwa beberapa puluh menit yang benar-benar digunakan dengan baik juga tetap berarti.

Aku nggak lagi terlalu memikirkan apakah caraku sama dengan orang lain.

Setiap orang punya keadaan dan jalannya masing-masing.

Ada yang bisa menyelesaikan kuliah tanpa jeda. Ada juga yang harus berhenti sementara karena punya tanggung jawab lain. Ada yang bisa belajar berjam-jam, ada yang hanya punya waktu sedikit ketika anak sedang tidur.

Menurutku, yang penting bukan seberapa cepat kita berjalan, tetapi apakah kita masih mau berjalan.

Tumbuh Bersama, Bukan Berhenti di Tempat

Cuti selama satu tahun bukan sesuatu yang ingin aku sesali. Itu bagian dari perjalanan hidup yang membawaku sampai di titik sekarang.

Aku memang sempat berhenti kuliah, tetapi bukan berarti aku berhenti tumbuh.

Justru setelah menjadi ibu, aku menemukan alasan baru untuk terus berkembang. Bukan hanya untuk mengejar sebuah gelar, tetapi juga untuk membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku masih bisa menyelesaikan sesuatu yang sudah aku mulai.

Setiap kali melihat anakku mencoba melakukan sesuatu yang baru, aku seperti diingatkan untuk melakukan hal yang sama.

Dia belajar berdiri meskipun berkali-kali jatuh.

Aku juga belajar melangkah lagi meskipun sempat berhenti.

Dia nggak memikirkan apakah orang lain sudah bisa berjalan lebih dulu. Dia hanya terus mencoba sampai akhirnya bisa.

Mungkin aku juga perlu belajar seperti itu.

Nggak terlalu sibuk membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain. Nggak terlalu takut kalau prosesku sedikit lebih panjang. Dan nggak menganggap jeda sebagai kegagalan.

Anakku akan terus tumbuh, itu pasti.

Dan aku, sebagai ibunya, juga berhak untuk terus tumbuh bersamanya.

Bukan untuk mengejar siapa-siapa, tetapi untuk menjadi versi diriku yang lebih baik dan menyelesaikan apa yang sempat tertunda.

Karena ternyata, selama ini bukan cuma anakku yang sedang belajar berdiri.

Aku juga sedang belajar untuk berdiri lagi, melangkah lagi, dan terus bertumbuh bersamanya.