Konten dari Pengguna

Apakah Semua Hal yang Penting dalam Hidup Bisa Diuji dengan Ujian?

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Setiap kali mendekati minggu UTS atau UAS, suasana kelas biasanya berubah. Grup WhatsApp mulai ramai membahas kisi-kisi, perpustakaan lebih penuh dari biasanya, dan banyak mahasiswa yang tiba-tiba kembali rajin membuka catatan.

Setelah nilai keluar, reaksinya pun bermacam-macam. Ada yang lega karena nilainya sesuai harapan, ada yang kecewa, dan ada juga yang akhirnya hanya bisa bilang, “Yang penting lulus.”

Tapi pernah nggak sih kita berpikir, apakah angka-angka itu benar-benar bisa menggambarkan diri kita sebagai mahasiswa?

Apakah IPK bisa mewakili semua hal yang sudah kita pelajari, lakukan, dan alami selama kuliah?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tapi kalau dipikir-pikir, kita menghabiskan beberapa tahun dalam pendidikan untuk mengejar nilai, menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, dan memenuhi berbagai persyaratan akademik. Kadang kita begitu sibuk mengejar angka sampai lupa bertanya, sebenarnya angka itu sedang mengukur apa?

Ujian Tetap Penting, Bukan Berarti Tidak Berguna

Sebelum membahas lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa tulisan ini bukan berarti menganggap ujian dan nilai tidak penting.

Ujian tetap punya fungsi. Dari ujian, dosen bisa melihat sejauh mana mahasiswa memahami materi yang sudah dipelajari. Tugas juga memiliki peran dalam melatih mahasiswa memahami materi, mengikuti instruksi, menyelesaikan pekerjaan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan.

Jadi, ujian dan tugas bukan sesuatu yang salah.

Yang menjadi pertanyaan adalah ketika nilai dari ujian, tugas, dan berbagai bentuk penilaian akademik dianggap mampu menggambarkan seseorang secara keseluruhan.

Padahal, kehidupan mahasiswa tidak hanya terjadi di dalam lembar soal.

Ada Banyak Hal yang Tidak Muncul di Transkrip Nilai

Selama kuliah, sebenarnya ada banyak hal yang kita pelajari tanpa pernah tertulis di transkrip nilai.

Misalnya kemampuan berkomunikasi.

Ada mahasiswa yang sangat nyaman menyampaikan pendapat di depan kelas. Ada juga yang lebih mudah menuangkan pikirannya melalui tulisan. Keduanya punya cara yang berbeda dalam menyampaikan sesuatu.

Begitu juga dengan kerja sama.

Dalam tugas kelompok, kita belajar berkomunikasi dengan orang yang memiliki cara berpikir berbeda, membagi pekerjaan, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan bertanggung jawab terhadap bagian masing-masing.

Bahkan ada kalanya kita harus menghadapi anggota kelompok yang sulit dihubungi menjelang deadline.

Pengalaman seperti itu mungkin tidak menghasilkan nilai khusus di KHS, tetapi tetap menjadi bagian dari proses belajar.

Kemampuan mengatur waktu juga begitu.

Ada mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, pekerjaan, keluarga, atau berbagai tanggung jawab lainnya. Mereka belajar menentukan mana yang harus diselesaikan lebih dulu dan mana yang bisa menunggu.

Hal-hal seperti itu mungkin tidak pernah muncul sebagai angka di transkrip, tetapi tetap menjadi kemampuan yang akan dibawa setelah seseorang lulus.

Menghadapi Kegagalan Juga Bagian dari Belajar

Kuliah juga tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ada tugas yang nilainya tidak sesuai harapan. Ada presentasi yang ternyata tidak berjalan lancar. Ada proposal yang harus diperbaiki berkali-kali. Ada mata kuliah yang mungkin harus diulang.

Semua itu bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi sebenarnya tetap bagian dari proses belajar.

Karena dari kegagalan, seseorang bisa belajar mengevaluasi diri, mencoba lagi, dan mencari cara yang berbeda.

Sayangnya, hasil akhir biasanya lebih mudah dicatat daripada proses di belakangnya.

Transkrip nilai bisa menunjukkan seseorang mendapatkan nilai A atau B. Tapi transkrip tidak bisa menunjukkan berapa kali seseorang mencoba sebelum akhirnya berhasil.

Padahal, proses tersebut juga membentuk seseorang.

Bisa Mengerjakan Soal Belum Tentu Sama dengan Bisa Menghadapi Masalah

Ada perbedaan antara mampu menjawab soal dan mampu menghadapi masalah di kehidupan nyata.

Dalam ujian, biasanya kita diberikan pertanyaan dan diminta mencari jawaban berdasarkan materi yang sudah dipelajari.

Di kehidupan nyata, masalah tidak selalu datang dengan pilihan jawaban yang jelas.

Kadang kita harus menentukan sendiri apa masalahnya, mencari informasi, mempertimbangkan beberapa pilihan, lalu mengambil keputusan.

Kemampuan seperti ini tidak selalu terlihat dari hasil ujian.

Bukan berarti orang yang mendapat nilai tinggi tidak memiliki kemampuan tersebut. Justru ilmu yang dipelajari di bangku kuliah bisa menjadi dasar untuk menghadapinya.

Hanya saja, kemampuan seseorang memang tidak berhenti pada seberapa baik ia menjawab soal.

Ketika Ilmu Harus Dipakai di Dunia Nyata

Hal yang sama berlaku ketika kita mencoba menerapkan ilmu yang sudah dipelajari.

Di kelas, kita bisa mempelajari berbagai teori dan konsep. Tapi ketika teori tersebut bertemu dengan kondisi nyata, situasinya bisa menjadi berbeda.

Ada hal yang ternyata mudah dipahami ketika membaca buku, tetapi lebih sulit ketika harus diterapkan.

Di situlah pengalaman menjadi penting.

Kuliah seharusnya bukan hanya tentang mengumpulkan nilai, tetapi juga tentang mendapatkan bekal untuk menghadapi situasi yang mungkin tidak pernah dibahas secara persis di ruang kelas.

Nilai Tetap Berarti, Tapi Bukan Segalanya

Menurutku, nilai tetap penting.

Nilai bisa menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap usaha belajar. Nilai juga masih dibutuhkan untuk berbagai keperluan, seperti beasiswa, melanjutkan pendidikan, atau persyaratan tertentu setelah lulus.

Jadi, bukan berarti kita tidak perlu mengejar nilai.

Hanya saja, mungkin kita perlu melihatnya secara lebih proporsional.

Nilai adalah salah satu bagian dari perjalanan pendidikan, bukan keseluruhan perjalanan itu sendiri.

Karena di luar angka tersebut, ada pengalaman bekerja sama, belajar berbicara, mengatur waktu, menghadapi kegagalan, mengambil keputusan, dan mencoba lagi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Semua itu juga merupakan bagian dari proses menjadi seseorang yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah kuliah.

Yang Tidak Tertulis di KHS

Pada akhirnya, ujian memang akan selalu menjadi bagian dari dunia pendidikan. Kita tetap perlu belajar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan berusaha mendapatkan hasil yang baik.

Tapi mungkin kita juga perlu mengingat bahwa perjalanan kuliah tidak hanya tentang nilai yang kita dapatkan.

Ada pengalaman ketika harus bekerja sama dengan orang lain, belajar menyampaikan pendapat, mengatur waktu, menghadapi kesalahan, mencoba lagi setelah gagal, sampai belajar mengambil keputusan sendiri.

Hal-hal seperti itu mungkin tidak tercatat di KHS, tetapi tetap menjadi bagian dari proses kita selama menjadi mahasiswa.

Jadi, mendapatkan nilai yang baik tentu merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Tapi ketika hasilnya belum sesuai harapan, bukan berarti semua usaha yang sudah dilakukan menjadi sia-sia.

Karena pada akhirnya, kuliah bukan hanya tentang bagaimana kita menyelesaikan ujian, tetapi juga tentang apa yang kita bawa dari semua proses yang kita jalani setelahnya.