Seharian di Rumah, Memangnya Tidak Sibuk?

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau mendengar seseorang berkata, “Aku seharian di rumah,” mungkin yang terbayang adalah hari yang santai. Tidak perlu berangkat pagi-pagi, tidak terjebak macet, dan tidak harus duduk di kantor selama berjam-jam.
Aku juga pernah berpikir bahwa berada di rumah berarti punya lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Ternyata, setelah menjalaninya sendiri, anggapan itu tidak selalu benar.
Seharian berada di rumah bukan berarti seharian tidak melakukan apa-apa.
Pekerjaan Rumah yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Ada pekerjaan rumah yang mungkin terlihat sederhana kalau hanya dilihat dari hasil akhirnya.
Memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, merapikan rumah, menyiapkan makanan, atau membereskan barang-barang yang kembali berantakan.
Masalahnya, pekerjaan tersebut sering kali tidak berhenti setelah selesai dikerjakan.
Piring yang sudah dicuci akan kembali kotor. Pakaian yang sudah dilipat akan kembali dipakai. Rumah yang sudah dirapikan bisa kembali berantakan beberapa jam kemudian.
Karena itu, pekerjaan rumah terasa berbeda dengan pekerjaan yang punya tanda “selesai” yang jelas.
Kita mungkin sudah menghabiskan waktu berjam-jam mengerjakannya, tetapi keesokan harinya pekerjaan yang sama sudah menunggu lagi.
Mengurus Anak Juga Membutuhkan Waktu dan Perhatian
Selain pekerjaan rumah, ada juga urusan mengurus anak.
Sebagai seorang ibu, aku menikmati waktu bersama anak. Melihat perkembangan kecilnya dari hari ke hari justru menjadi salah satu hal yang membuat kehidupan di rumah terasa berarti.
Tapi menikmati peran sebagai ibu bukan berarti semua kegiatannya selalu mudah.
Ada waktu untuk menyiapkan makanan, menemani bermain, membersihkan setelah makan, membantu ketika anak rewel, sampai memastikan kebutuhan kecilnya terpenuhi.
Kadang ada pekerjaan rumah yang belum selesai karena perhatian harus dialihkan kepada anak.
Jadi, ketika seseorang melihat seorang ibu berada di rumah sepanjang hari, belum tentu ia sedang memiliki banyak waktu luang.
Kenapa Kesibukan di Rumah Sering Tidak Terlihat?
Mungkin salah satu alasannya karena pekerjaan rumah tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bisa langsung diukur.
Orang yang bekerja di kantor memiliki jam kerja, tugas, rapat, dan target yang bisa terlihat.
Sementara itu, pekerjaan di rumah sering berjalan bersamaan.
Sambil menyiapkan makanan, mungkin harus memperhatikan anak. Sambil membereskan rumah, ada pakaian yang harus dicuci. Ketika baru ingin duduk sebentar, ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.
Kesibukannya ada, hanya bentuknya berbeda.
Bukan berarti pekerjaan di rumah lebih berat daripada pekerjaan di luar rumah. Begitu juga sebaliknya.
Setiap pekerjaan memiliki tantangannya masing-masing.
Yang menurutku penting adalah tidak menganggap seseorang yang berada di rumah otomatis memiliki banyak waktu luang.
Tapi Bukan Berarti Aku Tidak Menikmatinya
Meski begitu, aku tidak ingin menggambarkan kehidupan di rumah sebagai sesuatu yang menyedihkan.
Aku justru bersyukur bisa menikmati banyak momen bersama anak.
Ada hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa, tetapi terasa berharga ketika dijalani sendiri. Melihat anak belajar sesuatu yang baru, mendengar kata-kata barunya, atau sekadar melihat tingkahnya setiap hari.
Menjadi ibu juga membuatku belajar banyak hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan.
Aku belajar lebih sabar, belajar mengatur waktu, dan belajar bahwa rencana tidak selalu bisa berjalan sesuai keinginan.
Jadi, persoalannya bukan apakah berada di rumah itu menyenangkan atau melelahkan.
Keduanya bisa terjadi pada hari yang sama.
Tetap Perlu Punya Waktu untuk Diri Sendiri
Di tengah kesibukan mengurus rumah dan anak, aku juga mulai memahami bahwa seorang ibu tetap membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Bukan berarti ingin meninggalkan tanggung jawab.
Kadang hanya ingin membaca sesuatu, menonton sebentar, belajar, menulis, atau melakukan hal sederhana yang disukai.
Waktu untuk diri sendiri bukan berarti kita tidak bersyukur dengan kehidupan yang dimiliki.
Justru menurutku, memiliki sedikit ruang untuk diri sendiri bisa membuat kita kembali menjalani rutinitas dengan pikiran yang lebih tenang.
Karena menjadi ibu memang merupakan bagian penting dari hidup, tetapi bukan berarti seluruh identitas seorang perempuan harus berhenti sampai di situ.
Kesibukan Tidak Selalu Terlihat dari Luar
Pada akhirnya, mungkin kita memang perlu berhenti mengukur kesibukan seseorang hanya dari tempat mereka bekerja.
Ada orang yang sibuk di kantor. Ada yang sibuk menjalankan usaha. Ada yang sibuk kuliah. Ada juga yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah.
Semua memiliki bentuk kesibukan yang berbeda.
Seharian di rumah tidak otomatis berarti seharian santai. Begitu juga menjadi ibu bukan berarti kehilangan kesempatan untuk memiliki mimpi, minat, dan waktu untuk diri sendiri.
Menurutku, yang paling penting bukan membandingkan siapa yang paling sibuk.
Kita hanya perlu belajar menghargai bahwa setiap orang mungkin sedang menjalani banyak hal yang tidak terlihat dari luar.
