Konten dari Pengguna

MBTI vs Psikodiagnostik: Apa Bedanya dengan Tes Psikologi Asli?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayhan Dipo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi MBTI. Foto: valiantsin suprunovich/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi MBTI. Foto: valiantsin suprunovich/Shutterstock

Pernahkah kamu iseng ikut kuis MBTI yang viral di media sosial dan langsung merasa, "Wah, ini gue banget!"? Lalu hasilnya kamu bagikan ke story, lengkap dengan template warna-warni bertuliskan ENFP, INFJ, atau ISTJ. Rasanya seru ya? seolah-olah baru saja menemukan "kotak" yang pas buat mendeskripsikan diri sendiri.

Tapi, apa benar tes viral semacam itu bisa disamakan dengan tes psikolog yang dilakukan oleh psikolog profesional? Apakah hasil MBTI yang kamu dapat dari internet cukup valid untuk dijadikan acuan dalam memahami kepribadian, apalagi untuk keputusan penting seperti karier atau kesehatan mental?

Artikel ini akan mengupas perbedaan mendasar antara kuis kepribadian viral seperti MBTI dengan psikodiagnostik—yaitu proses asesmen psikologis yang dilakukan secara ilmiah oleh tenaga profesional.

Apa Itu MBTI dan Mengapa Ia Begitu Populer?

Gambar Emosi diambil dari https://www.pexels.com/photo/the-word-emotion-spelled-out-in-scrabble-letters-19835649/

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah tes kepribadian yang dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, pada era Perang Dunia II. Tes ini terinspirasi dari teori tipologi kepribadian Carl Gustav Jung dalam bukunya Psychological Type (1921).

MBTI membagi kepribadian manusia ke dalam 16 tipe berdasarkan empat dimensi preferensi: Ekstrovert (E) vs Introvert (I), Sensing (S) vs Intuition (N), Thinking (T) vs Feeling (F), serta Judging (J) vs Perceiving (P). Hasilnya berupa kode empat huruf seperti ENFP atau ISTJ yang diklaim mewakili cara seseorang memproses informasi, membuat keputusan, dan berinteraksi dengan dunia.

Mengapa MBTI begitu populer? Jawabannya sederhana: tes ini mudah dipahami, gratis di internet, dan hasilnya disampaikan dengan bahasa yang positif dan mudah dicerna. Setiap orang senang merasa "dimengerti", dan MBTI menawarkan itu dalam format yang ringan dan menyenangkan.

Mengapa Psikolog Meragukan Validitas MBTI?

Asesmen diambil dari https://www.pexels.com/photo/student-taking-exam-in-classroom-setting-31115182/

Meskipun popularitasnya luar biasa—lebih dari dua juta orang mengikuti tes ini setiap tahunnya dan 88% perusahaan Fortune 500 pernah menggunakannya—MBTI tidak mendapat tempat yang baik di kalangan psikolog akademis.

Ada beberapa alasan utama mengapa MBTI diragukan secara ilmiah:

1. Reliabilitas Tes Ulang yang Rendah

Reliabilitas berarti konsistensi hasil tes dari waktu ke waktu. Dalam psikologi, alat ukur yang baik seharusnya menunjukkan hasil yang relatif stabil. Namun, studi menunjukkan bahwa 39% hingga 76% orang mendapatkan tipe MBTI yang berbeda ketika mengulang tes hanya dalam jeda lima minggu. Profesor psikologi Dr. David J. Pittenger dalam jurnalnya juga menemukan bahwa 50% peserta memperoleh hasil berbeda pada tes ulang dalam periode yang sama singkatnya.

2. Pendekatan Tipologi yang Terlalu Kaku

MBTI membagi orang ke dalam kategori biner: kamu ekstrovert atau introvert, thinking atau feeling, dan seterusnya. Padahal, kepribadian manusia dalam realitasnya bersifat spektrum dan tidak sesederhana itu. Kebanyakan orang justru berada di tengah-tengah, tidak sepenuhnya ekstrovert maupun introvert. Pakar psikologi Gordon Allport dalam bukunya Personality: A Psychological Interpretation (1937) menegaskan bahwa seseorang tidak bisa dimasukkan ke dalam tipe kepribadian yang kaku karena setiap individu memiliki keunikan yang tidak dapat diseragamkan.

3. Tidak Dirancang untuk Diagnosis Klinis

MBTI tidak mengukur aspek emosional secara mendalam dan tidak dirancang untuk mendeteksi gangguan psikologis. Oleh karena itu, MBTI tidak cocok digunakan untuk diagnosis klinis atau kebutuhan psikoterapi. Berbeda dari alat psikodiagnostik resmi, MBTI hanya mengukur preferensi yang bukan kapasitas, tingkat keparahan gejala, atau kondisi psikopatologis.

4. Tidak Dikembangkan oleh Psikolog Profesional

Briggs dan Myers bukanlah psikolog profesional dan tidak memiliki pelatihan formal dalam bidang psikologi. Pendekatan mereka bersifat deskriptif dan intuitif, bukan berbasis metode ilmiah seperti alat tes psikologi formal.

5. Validitas Prediktif yang Lemah

MBTI belum terbukti mampu memprediksi secara akurat hal-hal seperti performa kerja, kepuasan hidup, atau keberhasilan hubungan interpersonal. Psikolog organisasi terkemuka Adam Grant dari University of Pennsylvania bahkan menyebut MBTI sebagai "tren yang tak kunjung mati" dan menilai bahwa sifat-sifat yang diukur oleh tes ini hampir tidak memiliki kekuatan prediktif untuk hasil seperti kepuasan kerja atau keberhasilan hubungan.

Apa Itu Psikodiagnostik? Inilah Cara Kerja Psikolog Profesional

Terapi diambil dari https://images.pexels.com/photos/23496452/pexels-photo-23496452.jpeg

Psikodiagnostik adalah cabang ilmu psikologi yang membahas konsep, prinsip, dan teknik dalam pelaksanaan serta interpretasi tes-tes psikologi secara ilmiah. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik psikologis individu secara komprehensif, mencakup fungsi kognitif, kepribadian, emosi, hingga dinamika psikopatologis.

Inilah beberapa perbedaan mendasar antara kuis viral dan psikodiagnostik profesional:

1. Alat Ukur yang Terstandarisasi

Dalam psikodiagnostik, psikolog menggunakan alat ukur yang telah melalui proses validasi dan standarisasi yang ketat. Beberapa alat yang sering digunakan antara lain Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), yang terdiri dari 567 item pertanyaan benar-salah dan dirancang untuk menilai ciri-ciri kepribadian serta psikopatologi. Selain itu, ada Big Five Personality Test yang mengukur kepribadian dalam lima dimensi pada spektrum kontinu—bukan kategori kotak-kotak—dan terbukti sekitar dua kali lebih akurat dibanding MBTI dalam memprediksi hasil kehidupan.

2. Dilakukan oleh Profesional Berwenang

Siapa yang berhak melakukan tes psikologi? Menurut kode etik HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), penyelenggaraan tes psikologi tidak boleh dilakukan sembarangan. Tes psikologi sebagai alat diagnostik harus dilaksanakan oleh psikolog atau mereka yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan khusus untuk itu. Di tangan profesional yang kompeten, tes psikologi sangat bermanfaat. Namun di tangan yang bukan ahlinya, hasil tes justru bisa mendatangkan bahaya dan kesimpulan yang menyesatkan.

3. Proses Multi-Metode, Bukan Cuma Satu Tes

Psikolog profesional tidak pernah mendasarkan kesimpulan hanya pada satu tes semata. Menurut Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, kondisi mental seseorang dapat diketahui melalui kombinasi wawancara psikiatri terstruktur dan instrumen pemeriksaan psikologis seperti MMPI. Wawancara klinis, observasi perilaku, riwayat hidup, serta data pendukung lainnya juga menjadi bagian integral dari psikodiagnostik. Sebagaimana ditekankan dalam panduan psikodiagnostik modern, tidak ada satu tes pun yang bisa mendiagnosis kondisi kesehatan mental. Psikolog mengandalkan berbagai alat sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan keluhan individu yang diperiksa.

4. Tujuan Berbeda: Preferensi vs Diagnosis

MBTI mengukur preferensi, kecenderungan alami seseorang. Sementara psikodiagnostik bertujuan untuk memahami, mendeskripsikan, dan memprediksi kondisi psikologis seseorang secara ilmiah, termasuk mengidentifikasi gangguan klinis jika ada. Inilah sebabnya mengapa MBTI tidak cocok untuk diagnosis klinis atau kebutuhan psikoterapi.

Bagaimana Menyikapi Tes Kepribadian Viral?

Apakah ini berarti MBTI sama sekali tidak berguna? Tidak juga. MBTI bisa menjadi alat yang menyenangkan untuk refleksi awal dan bahan obrolan ringan dengan teman. Asalkan kamu menyadari batasannya, MBTI masih bisa digunakan untuk eksplorasi diri yang normal.

Namun, ketika kamu menghadapi persoalan serius—seperti kebingungan menentukan arah karier, masalah relasi yang mengganggu, atau gejala kecemasan dan stres yang berkepanjangan—berkonsultasilah langsung dengan psikolog profesional. Jangan mengandalkan kuis viral yang hanya memakan waktu lima menit untuk memahami kompleksitas dirimu.

Kepribadian manusia terlalu rumit untuk disederhanakan menjadi 16 tipe saja. Dan kesehatan mentalmu terlalu berharga untuk didiagnosis oleh internet.

________________________________________________

Oleh Rayhan Dipo Virnadi Wirawan dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si. Psikolog.