Metil Bromida, Penyelamat Umat Manusia dari Serangga

Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Raymond Setiyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Metil Bromida dan Perannya dalam Fumigasi
Metil bromida (CH₃Br) merupakan fumigan berdaya tinggi yang digunakan untuk membasmi hama pada komoditas pertanian, kayu, dan fasilitas penyimpanan. Senyawa ini bekerja dengan menembus jaringan serangga dan menghambat fungsi saraf sehingga menyebabkan kematian cepat, baik pada serangga dewasa, larva, maupun telur.
FAO dan WHO menyatakan metil bromida mampu mengeliminasi lebih dari 99% populasi hama target dalam satu kali perlakuan jika digunakan sesuai dosis dan prosedur keselamatan.
Di sektor ekspor, penggunaan metil bromida memastikan barang bebas hama sehingga lolos persyaratan karantina ketat negara tujuan seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.
Baca Juga Apa itu Metil Bromida
Data Penggunaan Global dan Regulasi
Pada awal 1990-an, konsumsi metil bromida global mencapai 64.000 ton per tahun. Namun, Protokol Montreal 1987 mengatur pembatasan karena sifatnya sebagai gas perusak ozon.
Negara maju mulai menghapus penggunaannya sejak 2005, sementara negara berkembang diberikan transisi hingga 2015, dengan pengecualian untuk Quarantine and Pre-Shipment (QPS).
Saat ini, sekitar 80% penggunaan metil bromida global berasal dari kegiatan QPS, seperti fumigasi kapal, kontainer, dan palet kayu. Di Indonesia, Badan Karantina Pertanian mencatat metil bromida digunakan pada lebih dari 12.000 sertifikasi fumigasi tahun 2023 untuk ekspor komoditas seperti kopi, kakao, dan kayu olahan.
Baca Juga Fumigasi Spesialis Industri Indonesia
Keamanan, Tantangan, dan Alternatif
Meski efektif, metil bromida berisiko tinggi terhadap kesehatan manusia jika terhirup, menyebabkan kerusakan paru, sistem saraf, bahkan kematian.
Karena itu, operator fumigasi wajib bersertifikat dan menggunakan alat pelindung lengkap, termasuk detektor kebocoran gas.
Riset terbaru mendorong penggunaan alternatif ramah lingkungan seperti fosfin (PH₃) atau kombinasi perlakuan panas dan atmosfer terkendali.
Namun, metil bromida tetap menjadi pilihan utama untuk kasus darurat atau komoditas dengan risiko karantina tinggi karena kecepatan dan spektrum pembasmiannya yang luas.
Penulis: Raymond Setiyawan
