Konten dari Pengguna

Sleep Paralysis: Mistis atau Sains?

RAZITA RANA HUWAIDAH

RAZITA RANA HUWAIDAH

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RAZITA RANA HUWAIDAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sleep paralysis. Source : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sleep paralysis. Source : Pixabay

A. Pentingnya Tidur bagi Manusia

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia yang wajib dipenuhi serta memegang peranan yang tidak kalah penting dalam keberlangsungan aktivitas yang dilakukan manusia sehari-hari. Seperti kebutuhan makan, minum, bernapas, dan kebutuhan tubuh lainnya, tubuh manusia memerlukan tidur untuk memelihara kesehatan (metabolisme tubuh) dan menjaga kualitas hidup. Seseorang yang dalam keadaan tidur akan ditandai dengan gerakan tubuh dan tingkat kewaspadaan terhadap lingkungan yang perlahan-lahan berkurang.

Tidur juga mempunyai efek yang sangat besar terhadap kesehatan fisik, mental, emosi, proses belajar, dan sistem imunitas tubuh. Ketika seseorang dalam posisi tidur, tubuh mereka akan mengalami proses penyimpanan energi atau stamina, melakukan proses restorasi atau pemulihan otak dan juga tubuh, membersihkan tubuh dari racun, serta memproduksi hormon yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh. Tidur tidak hanya berupa keadaan tidak sadar yang berkepanjangan karena ada berbagai tahapan yang dilalui ketika tidur dan dapat diidentifikasi melalui aktivitas gelombang listrik otak seseorang yang tertidur menggunakan pengukuran Elektroensefalografi (EEG).

B. Tahapan Tidur Manusia

Menurut Perry dan Potter (sebagaimana disitasi oleh Permata & Widiasavitri, 2019, halaman 2) tahapan tidur normal terbagi menjadi 2 fase, yaitu tidur tenang atau non rapid eye movement (non-REM) dimana aktivitas korteks berfrekuensi rendah dan tidur aktif atau rapid eye movement (REM) di mana aktivitas korteks cukup intensif. Fase non-REM dibagi lagi menjadi non-REM 1 berupa tahap tidur paling ringan yang mana kita masih terjaga, non-REM 2 berupa tahap tidur yang lebih dalam, dan non-REM 3 berupa tahap tidur paling dalam yang mana sudah memasuki fase terlelap. Sedangkan REM adalah fase di mana setiap orang akan terhindar dari hal yang mengganggu karena disinilah mimpi terjadi.

C. Gangguan Tidur

Seseorang sering kali lupa akan pentingnya memiliki pola tidur yang teratur dan kualitas tidur yang baik sehingga mereka cenderung lebih mudah terserang penyakit, seperti anemia, hipertensi, diabetes, bahkan serangan jantung. Salah satu penyebab pola tidur dan kualitas tidur yang tidak baik adalah gangguan tidur yang dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Menurut American Psychiatric Association, gangguan tidur adalah gangguan utama pola tidur normal yang menyebabkan seseorang mengalami distress dan mengacaukan fungsi tubuhnya pada siang hari. Gangguan tidur dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain pengaruh konsumsi obat-obatan, gaya hidup, tidak stabilnya emosi, pola tidur, lingkungan yang tidak nyaman, dan asupan gizi dalam tubuh. Salah satu gangguan tidur tersebut adalah sleep paralysis atau kelumpuhan tidur (ketindihan).

D. Sleep Paralysis

Sleep paralysis menurut The American Sleep Disorder Association (1990) adalah keadaan transisi yang terjadi di dalam tubuh ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak, dan berbicara ketika ingin tertidur (hypnagogic) ataupun saat bangun dari tidur (hypnopompic). Durasi terjadinya sleep paralysis biasanya berlangsung dalam hitungan detik hingga 20 menit. Sleep paralysis terjadi pertama kali saat berusia rata-rata 14-18 tahun. Sleep paralysis bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan dan hampir setiap orang pernah mengalaminya. Sleep paralysis juga sering dikaitkan dengan ketakutan, panik, dan tidak jarang mimpi yang terjadi adalah mimpi buruk. Seseorang yang mengalami gangguan tidur ini juga merasakan seolah-olah mereka sadar dan menganggap kejadian yang dilihat bersifat nyata, padahal kejadian tersebut bercampur dengan halusinasi mereka ketika tertidur. Hal tersebut yang menyebabkan sleep paralysis di beberapa budaya dan masyarakat sering dikaitkan dengan kejadian supernatural dan metafisik.

E. Tipe-tipe Sleep Paralysis

Menurut Cheyne dkk. (1999, sebagaimana disitasi oleh Jonathan & Gillian, 2016, halaman 97), sleep paralysis dikembangkan menjadi tiga tipe menggunakan Waterloo Unusual Sensory Experiences Survey, antara lain:

1. Tipe pertama disebut dengan “intruder”. Pada tipe ini seseorang akan merasakan ketakutan, merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya, serta mengalami halusinasi visual dan auditori.

2. Tipe kedua disebut dengan “incubus”. Pada tipe kedua seseorang akan merasakan kesulitan bernapas dan merasakan tekanan pada dada yang diikuti dengan penyerangan fisik. Baik intruder maupun incubus memiliki korelasi yang sama berkaitan dengan terjadinya ketakutan yang intens.

3. Tipe ketiga disebut dengan “Unusual Bodily Experiences”. Pada tipe ketiga seseorang akan merasakan dirinya keluar dari tubuhnya ketika tertidur dan merasakan floating experiences.

F. Penyebab Terjadinya Sleep Paralysis

Siddiqui dkk. (2019) berpendapat bahwa sleep paralysis dapat terjadi karena beberapa alasan medis dan kondisi neurologis, seperti seseorang yang mengidap hipertensi, idiopathic hypersomnia, narkolepsi, obstructive sleep apnea, migrain, bipolar, gangguan kecemasan, stress, penggunaan obat-obatan, dan penggunaan alkohol. Akan tetapi, kebanyakan kasus sleep paralysis terjadi tanpa adanya alasan medis maupun kondisi neurologis. Sleep paralysis juga bisa disebabkan oleh kualitas dan pola tidur yang buruk. Hal ini biasanya dialami oleh orang-orang yang mengalami gangguan pada jam biologis tidurnya sehingga memunculkan pola tidur yang berantakan. Kepribadian seseorang juga termasuk faktor yang mempengaruhi terjadinya sleep paralysis. Seseorang yang imajinatif cenderung akan lebih sering mengalami sleep paralysis.

G. Mengatasi Sleep Paralysis

Sebagian besar orang-orang yang mengalami sleep paralysis tidak menyadari sedang mengalami gangguan tidur tersebut. Namun, jika sleep paralysis sering terjadi, seseorang perlu mendapatkan pengobatan atau penanganan lebih lanjut. Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk sleep paralysis, tetapi biasanya kondisi ini didasari oleh permasalahan psikologis sehingga pengobatan akan memfokuskan kepada masalah psikologis yang dialami. Sleep paralysis juga bisa diatasi dengan beberapa cara, yaitu memperbaiki kualitas dan pola tidur dengan waktu tidur 6-8 jam bagi orang dewasa, memastikan tempat tidur nyaman, menghindari konsumsi kafein saat malam hari, mengurangi konsumsi alkohol, serta melakukan meditasi atau terapi relaksasi otot.

Referensi

Murphy, G., & Egan, J. (2010). Sleep paralysis and hallucinations: What clinicians need to know. The Irish Psychologist, 36(5), 95-8. http://hdl.handle.net/10147/111896

Permata, K. A., & Widiasavitri, P. N. (2019). Hubungan antara kecemasan akademik dan sleep paralysis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tahun pertama. Jurnal Psikologi Udayana, 6(01), 1-10.

Siddiqui, J. A., Qureshi, S. F., Alghamdi, A. K., & Marei, W. M. (2019). Sleep Paralysis-Cultural Significance and Its Management. Psychosomatic Medicine, 1(2), 19.