TDA Ingatkan Ancaman AI dan Perlambatan Global
·waktu baca 4 menit
Bagi Bisnis yang Tak Mampu Bertransformasi

Jakarta - Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) mengingatkan, pelaku usaha di Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perubahan dalam lanskap ekonomi global. Perlambatan ekonomi dunia yang masih berlangsung, ditambah disrupsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dinilai dapat menjadi ancaman serius bagi bisnis yang tidak mampu bertransformasi.
Presiden TDA 8.0, Eko Desriyanto, mengatakan saat ini dunia usaha tengah menghadapi dua gelombang besar sekaligus, yakni ketidakpastian ekonomi global dan percepatan adopsi teknologi AI yang mengubah cara bisnis dijalankan.
Menurutnya, perubahan tersebut bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi dan dirasakan oleh banyak sektor usaha.
“Kita sedang memasuki era baru. Perlambatan ekonomi global membuat daya beli masyarakat di banyak negara melemah, sementara AI berkembang sangat cepat dan mengubah cara perusahaan beroperasi. Bisnis yang tidak bertransformasi akan semakin sulit bersaing,” ujar Eko, Rabu (3/6/2026).
Eko yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Idea Indonesia Akademi Tbk menjelaskan, perkembangan AI telah mengubah berbagai aspek bisnis, mulai dari pemasaran, layanan pelanggan, operasional, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Menurutnya, perusahaan yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan dari sisi efisiensi, produktivitas, serta kecepatan dalam merespons kebutuhan pasar.
“Dulu perusahaan bersaing karena modal dan jaringan. Hari ini perusahaan juga harus bersaing melalui pemanfaatan data dan teknologi. AI bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan,” tegasnya.
UMKM Berisiko Tertinggal
Di sisi lain, Eko menilai kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang paling rentan tertinggal apabila tidak segera melakukan transformasi digital.
Padahal, selama ini UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menurutnya, masih banyak pelaku UMKM yang menganggap teknologi sebagai sesuatu yang rumit dan mahal. Akibatnya, mereka kesulitan meningkatkan daya saing ketika berhadapan dengan perubahan perilaku konsumen serta model bisnis baru yang semakin berbasis teknologi.
“Ancaman terbesar bagi UMKM bukan hanya kompetitor baru, tetapi perubahan zaman yang bergerak lebih cepat dari kemampuan mereka beradaptasi. Karena itu edukasi dan pendampingan menjadi sangat penting,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan AI sebenarnya tidak selalu membutuhkan investasi besar. Saat ini telah tersedia banyak platform dan aplikasi berbasis AI yang dapat membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, mulai dari pembuatan konten pemasaran, analisis pelanggan, hingga otomatisasi administrasi bisnis.
Pengusaha Harus Menjadi Pembelajar
Menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu, Eko mengajak para pengusaha Indonesia untuk memperkuat kapasitas diri dan membangun pola pikir sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Menurutnya, kecepatan belajar dan kemampuan beradaptasi akan menjadi faktor pembeda antara bisnis yang mampu bertahan dan bisnis yang tertinggal.
“Yang paling berbahaya bukan perubahan itu sendiri, tetapi ketika kita merasa tidak perlu berubah. Dunia usaha hari ini menuntut para pengusaha untuk terus belajar, berkolaborasi, dan berinovasi,” ujarnya.
PWN TDA 2026 Jadi Ruang Diskusi dan Solusi
Sebagai respons terhadap berbagai tantangan tersebut, Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) akan menggelar Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026 pada 20-21 Juni 2026 di JICC Jakarta dengan mengusung tema “Dua Dekade: The Next Level Legacy”.
Eko menjelaskan, PWN TDA 2026 tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya para pelaku usaha dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ruang diskusi, pembelajaran, dan pencarian solusi atas berbagai tantangan yang sedang dihadapi dunia bisnis.
Dalam kegiatan tersebut, peserta akan mendapatkan wawasan mengenai tren ekonomi global, transformasi digital, pemanfaatan AI dalam bisnis, strategi pengembangan UMKM, hingga peluang kolaborasi antarwirausaha.
“Kami ingin PWN TDA 2026 menjadi jawaban atas kegelisahan para pengusaha saat ini. Di sana akan hadir para praktisi, mentor, pelaku usaha, investor, dan pemimpin industri yang siap berbagi pengalaman serta solusi nyata menghadapi perubahan zaman,” ungkapnya.
Menurut Eko, momentum dua dekade perjalanan TDA menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan Indonesia agar lebih adaptif, inovatif, dan siap menghadapi persaingan global.
“Kami percaya masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan para pengusahanya dalam bertransformasi. Karena itu PWN TDA 2026 kami hadirkan sebagai wadah untuk belajar, bertumbuh, dan naik kelas bersama,” pungkasnya.
