Bola & Sports
·
14 April 2021 10:31

Iri dan Dengki di Antara Suporter Sepak Bola

Konten ini diproduksi oleh Rega Afri Setya
Iri dan Dengki di Antara Suporter Sepak Bola (3571)
Ilustrasi Penggemar Sepak Bola. (Foto: Tembela Bohle/pexels.com)
Hasil El Clasico pada Minggu dini hari (11/4) cukup membuat saya penasaran. Bukan mengenai siapa pencetak golnya atau bagaimana proses gol demi gol terjadi, melainkan tentang bagaimana serbuan fans Real Madrid yang melihat timnya sukses menumbangkan rival abadi, FC Barcelona.
ADVERTISEMENT
Benar saja, salah satu akun bola di Twitter yang mem-posting hasil pertandingi dibanjiri komentar. Tentu saja karena Los Blancos yang kali ini lebih unggul, olok-olok Madridista kepada Cules mengalir deras di balasan posting itu.
Fenomena seperti ini rasanya menggelitik saya. Sebagai penikmat sepak bola sejak lama, bagi saya rivalitas antara fans Madrid dan Barca adalah sebuah perseteruan yang tak pernah reda. Sampai-sampai suporter mereka di Indonesia saling punya panggilan “kesayangan” satu sama lain. Fans Barcelona kerap dipanggil “Decul” oleh para Madridista, yang artinya “Dedek Cules” atau adik Cules, sebab banyak Cules yang masih anak anak. Sebaliknya, para Cules juga sering menyebut fans rivalnya itu Dedek Madridista yang disingkat “Dedemit”, juga karena pendukung mereka kebanyakan anak-anak.
ADVERTISEMENT
Tidak sampai di situ saja, Rivalitas Decul dan Dedemit ini juga dibawa-bawa ke perbandingan bintang andalannya masing-masing, Messi dan Ronaldo. Meski Ronaldo tidak lagi berseragam Real Madrid, perdebatan tentang siapa yang terbaik di antara keduanya itu sepertinya masih tertinggal. Sungguh rivalitas yang romantis.
Momen Cules yang menjadi bulan-bulanan mengingatkan saya betapa dunia suporter bola ini penuh iri dan dengki. Memori saya tertarik kembali ke hampir satu tahun lalu, saat Liverpool berhasil menjadi kampiun Liga Inggris. Saya masih mengingat bagaimana Mancunian - fans Manchester United menyindir pedas Kopites yang terlewat bahagia melihat The Reds juara.
Senang dan bangga atas torehan itu adalah hal yang sangat wajar. Kegirangan apalagi, juga sudah tentu terjadi di antara penggemar-penggemar Liverpool ini. Bukannya apa, setelah 30 tahun lamanya tim kesayangannya ini akhirnya juara liga. Bahkan seseorang yang saya baca komentarnya di sebuah media sosial, mengaku sudah mendukung Liverpool sejak masih “bocah” dan baru melihat timnya juara liga saat ia sudah punya “bocah”. Gila bukan? 30 tahun itu lama sekali, bung.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya olok-olokan di antara fans sepak bola sudah menjadi hal yang sangat biasa. Di seluruh dunia, pasti ada saja orang-orang yang bak kebakaran jenggot ketika melihat klub lain juara, apalagi musuh bebuyutan klub kesayangannya. Jurus-jurus andalan pembelaan kemudian dilontarkan orang-orang itu. Sebut saja jurus “cerita sejarah” atau “mereka cuma beruntung”.
Ketika si Liverpool ini baru juara, para pengikut United mulai menjadi guru-guru sejarah yang membanggakan 13 gelar Premier League-nya, dibanding si Merah Merseyside yang baru punya satu (meskipun faktanya 19 secara keseluruhan gelar liga). Para pendukung Liverpool juga tak kalah hebat jurusnya, mereka akan langsung berkilah “We won it six times!”, merujuk pada 6 gelar Liga Champions.
ADVERTISEMENT
Persoalan iri dan dengki di dunia suporter bola belakangan ini berputar-putar di kepala saya. Bukan buat pusing, tapi justru ini hal yang lucu. Jika per-gosip-an dikaitkan dengan gender perempuan, sepak bola adalah wadah gosipnya kaum laki-laki. Maka sebenarnya mau perempuan atau laki-laki, urusan gosip dan mencibir itu tidak berkaitan dengan gender, bukan?
Namanya orang senang, selalu saja ada iri-dengki di kalangan siapa-siapa yang melihatnya. Tak terkecuali di dunianya para suporter sepak bola. Saat sebuah klub menang, ada saja yang tidak senang. Pun saat sebuah klub kalah, ada juga yang malah senang. Bagaimanapun juga, inilah warna-warni dari dunia suporter bola. Rivalitas tetaplah bumbu yang penting di dalam sepak bola, termasuk di antara penggemarnya.
ADVERTISEMENT