Kesetaraan Gender bagi Perempuan dan Laki-laki

Seorang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya
Tulisan dari Reinata Satriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesetaraan gender menurut United Nations Women merupakan kesetaraan hak, tanggung jawab, dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki dewasa, maupun anak perempuan dan laki-laki. Di mana berdasarkan definisi tersebut, kesetaraan gender berarti di mana perempuan maupun laki-laki memiliki kesetaraan pilihan pada aspek kehidupannya. Kesetaraan gender ini bukan berarti di mana perempuan dan laki-laki menjadi sama dan tidak dibedakan karena pada dasarnya secara biologis perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan, namun gender di sini berarti peran pada masyarakat yang mana berarti kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-laki memiliki peran yang setara pada masyarakat.
Kesetaraan gender ini sangatlah penting untuk diperjuangkan karena bukan hanya merugikan perempuan, namun laki-laki juga dirugikan dengan adanya ketidaksetaraan gender. Menurut data dari UNICEF, anak-anak perempuan mendapat lebih sedikit dukungan edukasi daripada anak-anak laki-laki. Keterbatasan pendidikan dan lapangan kerja bagi perempuan, keterbatasan berekspresi bagi laki-laki, terciptanya lingkungan yang tidak aman bagi perempuan, hingga terciptanya kesenjangan upah bagi laki-laki dan perempuan merupakan bentuk kerugian masyarakat dari ketidaksetaraan gender.
Ketidaksetaraan gender menciptakan stigma dan ekspektasi sosial yang tidak masuk akal bagi perempuan maupun laki-laki. Stigma di mana perempuan tidak perlu berpendidikan terlalu tinggi, perempuan tidak perlu memiliki peran dan jabatan penting dalam dunia pekerjaan, hal ini lama-kelamaan menghambat seorang perempuan untuk berkembang hingga menghambat satu generasi untuk berkembang. Laki-laki tidak boleh mengekspresikan perasaannya dikarenakan menjadi sensitif merupakan ciri perempuan, yang mana hal ini membawa kita kepada persentase data dari WHO di mana tercatat bahwa kematian laki-laki di dominasi dengan kematian akibat bunuh diri.
Dengan inilah kesetaraan gender hanya dapat diraih apabila perempuan dan laki-laki bekerjasama dalam memerangi ketidaksetaraan yang dikonstruksi oleh patriarki. Apabila laki-laki tidak perlu menjadi gender yang dominan, maka perempuan tidak perlu menjadi gender yang submisif. Apabila laki-laki tidak perlu menjadi pihak berkuasa, maka perempuan tidak perlu menjadi pihak yang dikuasai. Apabila perempuan dan laki-laki dapat berhenti mendefinisikan dirinya masing-masing dengan siapa diri mereka dan apa gender mereka, maka setiap gender dapat menjalankan hidupnya dengan lebih bahagia. Sudah saatnya kita semua memandang gender dalam satu spektrum alih-alih dua set cita-cita yang berlawanan.
Bagian yang terpenting adalah hal ini harus dimulai dari kita sebagai generasi penerus bangsa. Di mulai dari hal-hal kecil, seperti berhenti menilai kemampuan seseorang berdasarkan gendernya; mendorong teman laki-laki, saudara laki-laki, dan siapapun untuk mengekspresikan perasaannya; perempuan mendukung perempuan satu sama lain, saling mengingatkan serta menyebarkan kesadaran dan kepedulian atas permasalahan ini, dan lain sebagainya. Dengan usaha-usaha kecil yang dilakukan setiap kesempatan yang ada, perlahan-lahan akan melahirkan kesetaraan gender yang hakikat dan mengubah dunia menjadi lebih baik.
