Konten dari Pengguna

Digitalisasi Pendidikan: Canggih di Permukaan, Timpang di Kenyataan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rendi Akbar Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekelompok siswi sedang belajar di laboratorium komputer sumber: https://unsplash.com/photos/a-group-of-people-sitting-at-desk-with-laptops-LKySOH0mr38
zoom-in-whitePerbesar
Sekelompok siswi sedang belajar di laboratorium komputer sumber: https://unsplash.com/photos/a-group-of-people-sitting-at-desk-with-laptops-LKySOH0mr38

Ketika pandemi memaksa seluruh proses belajar berpindah ke ruang digital, kita sempat percaya bahwa teknologi adalah jawaban dari segala persoalan pendidikan. LMS, aplikasi ujian online, hingga pelatihan digital untuk guru menjamur dalam waktu singkat. Tapi setelah euforianya mereda, muncul pertanyaan: apakah semua ini benar-benar membawa perubahan yang berarti?

Di banyak sekolah, digitalisasi hanya sebatas mengganti media: buku cetak menjadi PDF, ujian kertas menjadi Google Form. Padahal, esensi dari digitalisasi seharusnya menyentuh cara berpikir dan belajar secara menyeluruh. Dalam praktiknya, budaya belajar masih stagnan—guru berbagi materi, siswa mengumpulkan tugas—tapi dialog kritis dan kreativitas tetap minim.

Digitalisasi menjadi simbol kemajuan, bukan solusi mendalam.

Salah satu hal yang paling sering luput dari sorotan adalah adanya kesenjangan—baik secara struktural maupun psikologis. Banyak guru yang merasa "dipaksa" untuk mengadopsi teknologi demi memenuhi tuntutan administratif, bukan karena dorongan pedagogis. Di sisi lain, siswa menjadi pasif dan hanya mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk mengeksplorasi pengetahuan secara kritis.

Lebih dari itu, tidak semua sekolah memiliki akses setara terhadap teknologi. Di banyak daerah, internet lambat atau bahkan tidak ada, perangkat terbatas, dan pelatihan tidak merata. Hasilnya? Alih-alih menyatukan, digitalisasi justru memperlebar jurang ketimpangan pendidikan.

Jika kita ingin perubahan yang nyata, digitalisasi harus dimaknai sebagai pembangunan ekosistem pembelajaran.

Ini mencakup pelatihan guru yang berbasis kebutuhan nyata, kurikulum yang adaptif dan menumbuhkan literasi digital, serta infrastruktur inklusif—bukan hanya proyek kota besar.

Bukan sekadar tahu cara pakai aplikasi, siswa juga perlu dibekali dengan pemahaman tentang etika digital, keamanan data pribadi, dan kemampuan memilah informasi. Pendidikan digital yang bermakna harus membentuk karakter, bukan sekadar kecakapan teknis.

Akhirnya, kita harus berhenti bertanya, “seberapa modern teknologi di kelas?” dan mulai bertanya, “apakah teknologi ini benar-benar memperbaiki proses belajar?”

Tanpa arah dan keberpihakan yang jelas, digitalisasi hanya akan menjadi satu lagi proyek pendidikan yang gemerlap di permukaan, namun kosong di dalam.