Brownis TRANS TV dan Tantangan Menghadirkan Suara Perempuan di Era Media Digital

mahasiswa Ilmu Komunikasi universitas pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rendy dwi Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: [Rendy dwi setiawan]
Televisi masih menjadi alah satu media yang menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Namun, perkembangan media digital membuat kebiasaan menonton mengalami perubahan. Masyarakat kini tidak hanya memperoleh hiburan dari televisi, tetapi juga melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya.
Perubahan tersebut membuat program televisi perlu beradaptasi agar tetap relevan. Salah satu program yang menarik untuk dilihat dalam kondisi tersebut adalah Brownis (Obrolan Manis) yang tayang di TRANS TV.
Menurut laman resmi TRANS TV, Brownis merupakan program talkshow yang menghadirkan obrolan seputar gosip terbaru, tantangan, perubahan penampilan, serta kejutan. Program ini juga menghadirkan sejumlah figur publik sebagai pembawa acara maupun narasumber. TRANS TV menyediakan tayangan Brownis melalui televisi dan ekosistem digitalnya.
Namun, di balik konsep hiburannya, Brownis dapat dilihat dari persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana program televisi merepresentasikan perempuan dan memberikan ruang bagi suara mereka di tengah perubahan media digital.
Perempuan Terlihat, tetapi Apakah Suaranya Sudah Terwakili?
Perempuan memiliki kehadiran yang cukup kuat dalam industri hiburan Indonesia. Mereka dapat tampil sebagai pembawa acara, bintang tamu, artis, penyanyi, maupun figur publik yang menjadi bahan pembicaraan dalam program televisi.
Brownis sendiri menghadirkan figur perempuan dalam berbagai episode. Pada laman resmi program, misalnya, terdapat episode yang membahas kedekatan Minati dan Chintami Atmanegara, mulai dari bisnis hingga kehidupan sehari-hari. Ada pula episode yang menghadirkan Ayu Ting Ting.
Kehadiran perempuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang untuk tampil dalam program televisi. Namun, visibilitas tidak selalu sama dengan keberdayaan suara.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana pengalaman dan pandangan perempuan dibingkai ketika ditampilkan dalam program hiburan.
Apakah perempuan hanya ditempatkan sebagai objek pembicaraan mengenai kehidupan pribadi, penampilan, hubungan, dan gosip? Atau mereka juga diberikan ruang untuk berbicara mengenai pengalaman, pekerjaan, prestasi, pandangan, dan persoalan sosial yang mereka hadapi?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena media bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Media juga dapat membentuk cara masyarakat melihat perempuan dan memahami posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Melihat Brownis melalui Teori Sudut Pandang Feminis
Persoalan tersebut dapat dianalisis menggunakan Teori Sudut Pandang Feminis (Feminist Standpoint Theory)yang dibahas dalam Modul .
Dalam modul, teori ini menjelaskan bahwa pengetahuan dan pemahaman mengenai realitas dipengaruhi oleh posisi sosial seseorang. Perempuan yang berada dalam posisi yang kurang diuntungkan dalam struktur kekuasaan dapat memiliki pengalaman tertentu yang tidak selalu terlihat dari sudut pandang kelompok dominan. Karena itu, pengalaman perempuan dapat memberikan pemahaman penting mengenai ketidaksetaraan dan dinamika kekuasaan.
Jika teori tersebut diterapkan pada Brownis, maka perempuan yang menjadi pembawa acara maupun narasumber seharusnya tidak hanya dipandang sebagai bagian dari hiburan.
Mereka juga mempunyai pengalaman dan sudut pandang yang dapat menjadi sumber pengetahuan bagi penonton.
Sebagai contoh, ketika seorang perempuan yang bekerja sebagai artis, penyanyi, pengusaha, atau figur publik dihadirkan dalam sebuah program, pembicaraan tidak harus berhenti pada kehidupan pribadi atau penampilannya. Pengalaman profesional, perjuangan karier, tekanan pekerjaan, pengalaman menghadapi komentar publik, serta pandangannya mengenai kehidupan juga dapat menjadi bagian penting dari percakapan.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi objek yang dibicarakan, tetapi juga menjadi subjek yang berbicara.
Ketika Hiburan Berhadapan dengan Stereotip Gender
Program variety show tentu mempunyai karakter hiburan. Brownis sendiri secara resmi menjelaskan bahwa programnya menghadirkan obrolan, tantangan, perubahan penampilan, dan kejutan untuk menghibur penonton.
Karena itu, pembahasan mengenai gender dalam Brownis tidak berarti bahwa seluruh isi program harus berubah menjadi pembahasan serius.
Persoalannya adalah bagaimana unsur hiburan tetap dapat berjalan tanpa memperkuat stereotip tertentu mengenai perempuan.
Modul 7 menjelaskan bahwa dalam representasi media, perempuan dapat ditempatkan dalam peran yang terbatas, misalnya sebagai ibu yang berkorban atau objek yang harus memenuhi standar kecantikan. Pengalaman perempuan yang lebih kompleks, seperti perempuan karier, perempuan yang memilih jalan hidup berbeda, atau perempuan yang berjuang secara mandiri, dapat kurang mendapatkan representasi yang autentik.
Karena itu, Brownis dapat menjadi ruang yang lebih luas untuk menghadirkan pengalaman perempuan dalam berbagai posisi.
Perempuan tidak hanya menarik untuk dibicarakan karena penampilan atau kehidupan percintaannya. Mereka juga dapat dibicarakan melalui karya, karier, pendidikan, bisnis, keluarga, pengalaman sosial, dan keputusan yang mereka ambil dalam kehidupannya.
Masalah Kualitas Tayangan Juga Perlu Diperhatikan
Selain persoalan representasi, Brownis juga pernah menghadapi persoalan yang berkaitan dengan isi siaran.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada Januari 2024 memberikan teguran tertulis pertama kepada Brownis terkait tayangan 30 Oktober 2023 yang menurut KPI menampilkan adegan yang mengarah pada penormalan laki-laki bergaya perempuan.
Pada September 2024, KPI juga menetapkan sanksi berupa pembatasan durasi dan waktu siaran Brownis atas tayangan 18 Juli 2024. Dalam keputusan tersebut, KPI menyatakan program Brownis yang diklasifikasikan sebagai program R menampilkan seorang pria dengan bahasa tubuh yang dinilai menyerupai gaya perempuan dan menyatakan tayangan tersebut melanggar ketentuan P3SPS yang digunakan KPI saat itu.
Fakta tersebut penting untuk dibahas secara hati-hati.
Sanksi tersebut menunjukkan bahwa program hiburan tetap mempunyai tanggung jawab dalam memilih cara menampilkan identitas, tubuh, perilaku, dan gender di layar. Namun, keberadaan sanksi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh representasi gender dalam Brownis bermasalah.
Justru, hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi mengenai bagaimana sebuah program hiburan menentukan batas antara komedi, hiburan, representasi, dan penghormatan terhadap kelompok yang ditampilkan.
Teori Kelompok Terbungkam dan Pentingnya Ruang Bicara
Selain Teori Sudut Pandang Feminis, persoalan Brownis juga dapat dilihat melalui Teori Kelompok Terbungkam (Muted Group Theory).
Modul menjelaskan bahwa teori yang dikembangkan Cheris Kramarae ini melihat hubungan antara kekuasaan dan bahasa. Kelompok yang memiliki kekuasaan lebih besar memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan bahasa dan bentuk komunikasi yang digunakan di ruang publik. Akibatnya, pengalaman kelompok yang kurang berkuasa dapat sulit disampaikan atau kurang mendapatkan ruang.
Jika diterapkan pada program hiburan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang muncul di layar, tetapi juga siapa yang menentukan topik, bagaimana seseorang dibicarakan, dan pengalaman siapa yang dianggap penting.
Misalnya, seorang perempuan yang datang sebagai bintang tamu tidak hanya perlu diberi kesempatan menjawab pertanyaan mengenai kehidupan pribadi. Ia juga dapat diberikan ruang untuk menjelaskan pengalaman dan pemikirannya sendiri.
Dengan demikian, program tidak hanya membuat cerita tentang perempuan, tetapi memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menceritakan dirinya sendiri.
Media Sosial Menjadi Tantangan Sekaligus Kesempatan
Perubahan media digital semakin memperbesar persoalan tersebut.
Saat ini, perempuan dapat membangun ruang komunikasi sendiri melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan platform lainnya. Modul 7 juga menjelaskan bahwa media sosial dapat memberikan ruang bagi kelompok yang sebelumnya terbungkam untuk menyampaikan pengalaman mereka. Namun, ruang digital juga dapat menghadirkan berbagai bentuk pelecehan dan tekanan terhadap perempuan.
Situasi ini memberikan peluang bagi Brownis.
Program televisi dapat menggunakan media sosial bukan hanya sebagai tempat mempromosikan potongan tayangan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengetahui topik dan pengalaman yang sedang dibicarakan masyarakat.
Dengan cara tersebut, Brownis dapat mengembangkan percakapan di televisi berdasarkan isu yang memang dekat dengan kehidupan penonton.
Apa yang Bisa Dilakukan Brownis?
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar Brownis tetap menjadi program hiburan sekaligus memiliki representasi perempuan yang lebih beragam.
Pertama, memperluas topik pembicaraan mengenai perempuan. Pembahasan tidak harus selalu berpusat pada penampilan, hubungan asmara, atau kehidupan pribadi. Pengalaman kerja, pendidikan, bisnis, prestasi, dan persoalan sosial juga dapat menjadi bagian dari obrolan.
Kedua, memberikan ruang yang lebih besar kepada narasumber untuk menyampaikan sudut pandangnya sendiri. Hal ini sesuai dengan Teori Sudut Pandang Feminis yang menekankan pentingnya pengalaman kelompok yang berada pada posisi kurang dominan dalam memahami realitas sosial.
Ketiga, menghindari penggunaan stereotip sebagai satu-satunya sumber humor. Komedi tetap dapat digunakan, tetapi tidak harus bergantung pada penggambaran gender tertentu sebagai bahan lelucon.
Keempat, memanfaatkan media sosial sebagai ruang interaksi. Pertanyaan dan pengalaman penonton dapat menjadi bahan diskusi dalam program sehingga hubungan antara televisi dan penonton menjadi lebih interaktif.
Kelima, meningkatkan perhatian terhadap standar penyiaran. Catatan dan sanksi KPI terhadap Brownis dapat menjadi bahan evaluasi agar produksi program semakin memperhatikan konteks usia penonton, cara menampilkan identitas, serta dampak dari isi tayangan.
Brownis dan Tantangan Menjadi Program Hiburan yang Lebih Responsif Gender
Brownis berada dalam situasi yang menarik. Di satu sisi, program ini merupakan tayangan hiburan yang harus mengikuti perkembangan tren dan mempertahankan perhatian penonton. Di sisi lain, televisi memiliki tanggung jawab dalam membentuk representasi yang ditampilkan kepada masyarakat.
Melalui Teori Sudut Pandang Feminis, persoalan tersebut dapat dilihat dari pentingnya memberikan ruang kepada perempuan untuk menyampaikan pengalaman dan perspektifnya sendiri. Sementara Teori Kelompok Terbungkam membantu melihat apakah kelompok tertentu hanya menjadi objek pembicaraan atau benar-benar memiliki kesempatan untuk menentukan cara dirinya direpresentasikan.
Dengan demikian, tantangan Brownis bukan hanya bagaimana membuat acara yang menghibur, tetapi juga bagaimana menghadirkan percakapan yang lebih beragam.
Televisi memang harus mengikuti perkembangan zaman. Namun, mengikuti perkembangan zaman tidak selalu berarti mengejar setiap tren yang muncul di media sosial. Program televisi juga dapat memberikan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam konten singkat di media digital: percakapan yang lebih utuh, pengalaman yang lebih beragam, dan ruang bagi narasumber untuk menyampaikan ceritanya sendiri.
Pada akhirnya, Brownis dapat tetap menjadi program hiburan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sosial media. Justru melalui pengembangan representasi yang lebih beragam dan ruang bicara yang lebih luas, program hiburan dapat menjadi tempat bagi penonton untuk tidak hanya tertawa, tetapi juga melihat pengalaman masyarakat dari berbagai sudut pandang.
