Longlife Learning vs Longlife Scrolling: Mampukah Gen Z Menyeimbangkan Keduanya?

Dosen dan Ketua Program Studi PPKn Kampus STKIP PGRI NGANJUK dengan passion filosofi teaching and educated, serta pengamat politik, pendidikan, dan hukum.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rengga Yudha Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital saat ini, mereka yang saat ini mendapatkan spotlight (lampu sorot) adalah Gen Z. Gen Z dihadapkan dengan dua dunia yang saling bertentangan namun sama-sama menarik: "longlife learning" dan "longlife scrolling". Longlife learning merupakan effort untuk terus belajar dan mengembangkan diri sepanjang hayat, sedangkan longlife scrolling merupakan kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial. Pertanyaannya, mampukah Gen Z menyeimbangkan keduanya?

Perbedaan ini sangat jauh dibandingkan para generasi milenial yang lahir di era resistensi hingga transisi struktur pemerintahan Negara. Secara singkat generasi milenial terbiasa dengan literasi cetak, dan konvensional, sedangkan mereka para Gen Z yang lahir di era digital memang memiliki keunggulan yaitu "melek teknologi" serta sangat cepat beradaptasi.
Mereka "terlalu terbiasa" dengan multitasking dan lebih mengutamakan kecepatan (kuantitas) daripada ketepatan (kualitas) (Mandasari et al., 2021). Namun, di sisi lain, kebiasaan "scrolling" ini memicu adiksi atau kecanduan terhadap digital yang mempunyai dampak negatif bagi mereka. Seperti dipaparkan dalam penelitian (Goldbach & Hamza-Lup, 2020) yaitu:
95% Gen Z memiliki smartphone, 55% di antaranya menggunakan ponsel selama 5 - 9 jam per hari;
26% menghabiskan lebih dari 10 jam per hari online.
Disisi lain, dalam hal literasi media, Gen Z juga memerlukan perhatian khusus. Mereka sering terpapar dengan konten-konten yang tidak akurat, seperti berita hoaks dan tren yang dipromosikan oleh para influencer di media sosial. Hal ini menjadi kerentanan mereka, dan mudah terjebak serta salah tangkap akan informasi yang berdampak pada pemembentukan pola pikir dan persepsi yang keliru.
Perubahan Pola Literasi Gen-Z
Kita buat sebuah pertanyaan sederhana, "Apakah kelemahan Gen-Z adalah malas dalam membaca literasi?". Mari kita analisis bersama dan dalam hal ini ada beberapa standing point yang perlu dipertimbangkan:
Generalisasi: Kita harus berhati-hati dalam menggeneralisasi seluruh generasi. Gen-Z sangat beragam, dengan minat dan kebiasaan yang berbeda-beda;
Perubahan bentuk literasi: Gen-Z mungkin membaca dalam bentuk yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung mengonsumsi konten digital seperti artikel online, e-book, atau media sosial;
Multitasking: Penggunaan smartphone yang tinggi tidak selalu berarti kurangnya minat baca. Banyak yang menggunakan smartphone untuk membaca berita, artikel, atau buku digital;
Preferensi format: Gen-Z mungkin lebih suka format visual atau audio, seperti video atau podcast, yang juga bisa menjadi sumber informasi dan pengetahuan.
Akses informasi: Smartphone memberikan akses cepat ke berbagai informasi, yang bisa mendorong atau menghambat kebiasaan membaca tergantung bagaimana digunakan.
Tantangan konsentrasi: Penggunaan smartphone yang berlebihan memang bisa mempengaruhi kemampuan konsentrasi untuk membaca teks panjang.
Kemudian "apakah pernyataan ini sebuah solusi yang bisa dipertimbankan?". Pertanyaan seperti ini muncul secara sadar dan memang dapat dianggap sebagai perspektif yang lebih bernuansa terhadap kebiasaan literasi Gen-Z, Namun, mari kita analisis secara ilmiah terlebih dahulu menggunakan beberapa referensi yang saya temukan:
Dalam sebuah penelitian lama di bidang literasi digital menunjukkan bahwa konsep literasi itu sendiri telah berevolusi. Menurut Lankshear dan Knobel (2008), literasi di era digital tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis teks tradisional, tetapi juga meliputi kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan memproduksi berbagai bentuk media digital.
Studi yang dilakukan oleh Seemiller dan Grace (2016) mengenai karakteristik Gen-Z menemukan bahwa "generasi ini cenderung lebih nyaman dengan format informasi yang ringkas, visual, dan interaktif". Argumen ini bagi saya bukan berarti mereka malas, namun lebih kepada preferensi gaya belajar yang berbeda.
Penelitian tentang neurosains yang dilakukan oleh Rothbart dan Posner (2015) menunjukkan "bahwa paparan terus-menerus terhadap berbagai stimulus digital dapat mempengaruhi kemampuan fokus untuk membaca teks panjang". Namun menurut analisis saya, hal ini juga menurut saya dibutuhkan juga sebagai pengembangan kompetensi multitasking yang lebih baik pada Gen-Z.
Menurut hasil studi Sparrow et al. (2011) dalam penelitiannya di jurnal Science menemukan "bahwa akses cepat ke informasi melalui internet mengubah cara otak kita memproses dan menyimpan informasi". Hal demikian bagi saya terhadap para Gen-Z malah akan cenderung lebih mahir dalam mencari dan memfilter informasi daripada menghafal.
Small et al. (2009) dalam studi neuroimaging menemukan "bahwa penggunaan teknologi digital secara intensif dapat mengubah struktur dan fungsi otak, terutama dalam hal pemrosesan informasi visual dan kecepatan pengambilan keputusan". Kondisi demikian terjadi karena polarisasi pola literasi Gen Z yang mengalami transformasi signifikan sebagai respons adaptif terhadap ekosistem informasi digital. Fenomena ini bukan merupakan indikasi kemalasan, melainkan mencerminkan evolusi kapabilitas kognitif dalam mengakses, memproses, dan mengintegrasikan informasi multimoda. Meskipun demikian, pergeseran paradigmatik ini menghadirkan tantangan pedagogis yang memerlukan rekalibrasi pendekatan edukatif untuk mengoptimalkan potensi literasi digital generasi tersebut.
Longlife Learning: Sebagai Investasi Masa Depan
Longlife learning merupakan kunci untuk terus berkembang dan beradaptasi di tengah perubahan zaman yang pesat. Melalui pembelajaran sepanjang hayat, Gen Z dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang relevan dengan dunia kerja yang terus berubah. Selain itu, longlife learning juga dapat meningkatkan daya saing, membuka peluang karier yang lebih luas, dan memberikan kepuasan pribadi.
Longlife Scrolling: Sebagai Jebakan "Dopamin Digital"
Di sisi lain, longlife scrolling menawarkan godaan berupa hiburan instan dan koneksi sosial yang seolah tak terbatas. Namun, di balik itu semua, terdapat jebakan "dopamin digital" yang dapat membuat Gen Z kecanduan dan terjebak dalam lingkaran scrolling yang tidak produktif. Longlife scrolling yang berlebihan justru dapat menghambat produktivitas, mengganggu konsentrasi, dan bahkan berdampak negatif pada kesehatan mental.
Menyeimbangkan Keduanya: Tantangan dan Peluang
Menyeimbangkan longlife learning dan longlife scrolling merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Gen Z. Tantangannya terletak pada bagaimana Gen Z dapat memanfaatkan teknologi secara bijak dan menghindari jebakan "dopamin digital".
Peluangnya adalah Gen Z dapat memanfaatkan teknologi untuk mendukung longlife learning, seperti mengakses kursus online, mengikuti webinar, atau bergabung dengan komunitas belajar daring.
Strategi Menyeimbangkan Longlife Learning dan Longlife Scrolling
Berikut beberapa strategi yang dapat membantu Gen Z menyeimbangkan longlife learning dan longlife scrolling:
Menetapkan Tujuan dan Prioritas: menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan membuat daftar prioritas kegiatan (membuat outline agar tidak bingung hal mana saja yang bagian primer, sekunder, tersier).
Pengaturan Waktu Dengan Bijaksana: mengatur hingga mengalokasikan waktu khusus untuk longlife learning dan membatasi waktu untuk longlife scrolling.
Menggunakan Aplikasi Pendukung: memanfaatkan aplikasi yang dapat membantu mengatur waktu, memblokir situs web yang mengganggu, atau mengingatkan untuk beristirahat dari layar (hal demikian adalah usaha parenting atau lingkungan keluarga).
Mencari Komunitas Belajar: menggabungkan diri dengan komunitas belajar daring atau luring untuk saling mendukung dan memotivasi sebagai bagian dari membiasakan dengan rasa ingin tahu yang kuat (curious).
Menjadi Pelaku Diantaranya Konten Kreator Positif: menggunakan sarana berupa media sosial untuk berbagi pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman belajar yang bermanfaat bagi orang lain dan jangan berpikirian kearah profit, namun lebih kepada bagaimana apa yang kita temukan bisa didesiminasikan.
Kesimpulan
Longlife learning dan longlife scrolling merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan di era digital. Gen Z memiliki potensi besar untuk menyeimbangkan keduanya dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, menetapkan tujuan yang jelas, mengatur waktu dengan baik, dan mencari dukungan dari komunitas belajar. Dengan demikian, Gen Z dapat meraih kesuksesan di masa depan tanpa mengorbankan kesejahteraan dan kesehatan mental.
Sumber referensi jurnal ilmiah (semua open access):
Lankshear, C., & Knobel, M. (2008). Digital literacies: Concepts, policies and practices. Peter Lang.
Seemiller, C., & Grace, M. (2016). Generation Z goes to college. John Wiley & Sons.
Rothbart, M. K., & Posner, M. I. (2015). The developing brain in a multitasking world. Developmental Review, 35, 42-63.
Sparrow, B., Liu, J., & Wegner, D. M. (2011). Google effects on memory: Cognitive consequences of having information at our fingertips. Science, 333(6043), 776-778.
Small, G. W., Moody, T. D., Siddarth, P., & Bookheimer, S. Y. (2009). Your brain on Google: Patterns of cerebral activation during internet searching. The American Journal of Geriatric Psychiatry, 17(2), 116-126.
