Cinta Ketiga

Salah satu mahasiswi jurusan Mass Communication.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Drie Agyaparel Soewongso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Aku akan menikah,” ujar Wanda di hadapanku.
“Apaa? Dengan Doni?”, aku yang sedang makan ini langsung tersedak dan menatapnya lekat-lekat. “Kamu baru kenal 6 bulan dan sudah memutuskan untuk menikah?”
“Bukan… Bukan dengan Doni, tapi dengan sepupuku, Sena.” Wanda menjawab dengan mata berbinar. “Aku memang jarang bertemu karena usia kami yang berbeda jauh. Tetapi karena ayah kami bersaudara kandung, paling tidak satu tahun sekali berjumpa di Hari Raya Idul Fitri. Dia terlalu sibuk dengan perusahaan travel miliknya, jadi memang jarang berkumpul. Apalagi dia tinggal di Jakarta, aku di Jambi.”
Kalau dilihat balik ke belakang, saat di mana aku memperkenalkan Wanda dan Doni, mereka berdua tampak serasi, dan memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu menikah dan berkeluarga secepatnya, karena umur pun sudah sama-sama matang. Tapi sayangnya mereka belum berjodoh. Dan nampaknya aku paham sekarang, bahwa Wanda lebih memilih sepupunya karena jauh lebih mapan jika dibandingkan dengan Doni, yang baru memulai dari nol dalam pekerjaannya.
“Kami akan bulan madu dengan menjalani ibadah umrah dan lanjut jalan-jalan ke Turki. Lalu bulan depannya kami akan ke Maldives,” lanjutnya.
“Ya.. Ya.. Ya…,” ujarku sekenanya.
Percakapan malam itu diakhiri dengan pikiranku yang sibuk mempertanyakan apakah benar temanku itu mencintai sepupunya atau hanya karena apa yang dimilikinya sehingga tergiur karena selama ini dia belum pernah memiliki paspor dalam hidupnya.
Setelah pernikahan yang lumayan mewah di kota kelahiran Wanda, dia sangat jarang menghubungiku. Dimaklumi, pengantin baru, mungkin sibuk menata apartemen baru di kawasan Cawang, lalu beradaptasi dengan hidupnya. Aku hanya melihat foto-foto di sosial media, saat mereka sedang ibadah umrah dan berjalan-jalan di Turki dengan banyak bunga di sekelilingnya.
Sampai suatu saat aku mendengar berita bahwa Wanda hamil. Sempat kuucapkan selamat, namun ia tidak bercerita banyak. Aku hanya mendengar bahwa dia hidup seperti burung di dalam sangkar, segalanya dicukupkan namun mendapat keterbatasan dalam bepergian sendiri.
Hingga kemudian, kami duduk berhadapan lagi di sebuah kafe setelah sekian bulan tidak bersua. Wajahnya mendung dan tidak ada senyum menghias bibirnya. Perutnya sudah cukup besar, nampaknya tinggal menunggu hari saja. Aku tidak banyak bertanya, biar saja nanti mengalir dengan sendirinya jika memang dia ingin bercerita.
Dan benar saja….
“Kamu tahun baru kemarin ke mana?”
“Di rumah saja, nonton televisi. Malas aku sekarang pergi-pergi karena pasti macet di jalan. Beberapa teman datang ke rumah dan kami bikin BBQ lalu mencari film saja yang bisa ditonton bersama-sama di televisi”, sahutku. “Kamu pergi ke mana?”
Bayanganku, aku akan mendengar kehebohan ceritanya tentang tahun baru di luar kota atau menginap di suatu hotel, namun Wanda hanya tertunduk diam.
“Aku di apartemen saja, jam 8 malam abang (Sena, suaminya) pamit izin keluar, pergi sebentar setelah menerima telepon. Aku tanya, mau ke mana dan dia menjawab dengan agak terburu-buru, bahwa dia mau ke Bogor…”, suaranya mengambang.
“Mau apa ke Bogor? Bukannya Jagorawi macet total karena banyak yang pergi tahun baruan di Puncak?”
“Abang mau menemani wanita yang akan melahirkan..,” suaranya tercekat. “Ternyata abang memiliki istri lain sebelum aku, dan dia melahirkan tahun baru kemarin. Dia tinggal di Bogor, makanya abang menaruhku di Cawang agar mudah mondar-mandirinya selama ini. Dan kamu tahu? Aku ini istri ketiganya. Istri pertama tinggal di Bekasi dan memiliki dua anak. Bagaimana aku bisa tidak sadar selama ini? Cawang ke Bekasi dan Cawang ke Bogor? Benar-benar aku di tengah supaya memudahkan perjalanannya menengok kami bertiga.
Pekerjaannya yang memiliki agen travel membuat aku tidak curiga karena abang sering mengantar jemaah umrah, sehingga ku pikir abang sedang bekerja jika seminggu tidak pulang, ternyata saat itulah abang menginap di Bekasi atau Bogor, bergantian,” tangisnya mulai pecah dan emosinya terlihat. “Bagaimana mungkin ayahnya tidak tahu, saat aku mengadu ke ayahku dan ayahku marah ke kakaknya karena dianggap menyembunyikan semua ini. Tetapi ternyata ayahnya memang tidak tahu karena tinggal di Jambi juga, tidak bisa mengikuti perkembangan kehidupan anaknya. Ributlah kami saat itu, ayahku tidak terima tetapi ayahnya abang juga tidak mau disalahkan. Aku hanya bisa menangis bingung tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin pisah saja rasanya, tetapi abang menenangkanku dan berjanji akan mengurusku dan memenuhi kebutuhan anaknya yang akan lahir ini..”
“Dan bagaimana keputusanmu?”, aku menatap nanar gelas di hadapan. Aku bertanya padanya walau aku yakin sudah tahu jawabannya.
“Aku akan meneruskan pernikahan ini selama abang mau bertanggung jawab. Bagaimanapun, anakku butuh ayahnya, apalagi di awal usianya.”
Obrolan kami ditutup dengan peluk erat dan banyak kalimat afirmasi untuk mendukung agar Wanda semangat dalam menjalani hidupnya.
Anak pertamanya lahir, dan disusul tujuh bulan kemudian dengan kehamilan keduanya. Aku tidak sempat menengoknya langsung karena kesibukanku sehingga aku baru bisa menemuinya saat Wanda hamil 3 bulan anak keduanya. Wajahnya tetap tidak seceria biasanya, cenderung lelah, dan lagi-lagi aku tidak bertanya. Mungkin lelah mengurus anaknya dalam keadaan hamil.
“Anakmu lucu sekali, Wanda. Nyenyak tidurnya nya setelah makan biskuit barusan..,” aku menatap gemas ke bayi yang sedang tidur di kereta dorong pada sisi Wanda. “Bagaimana kehidupanmu? Semarak pasti, dengan kehadiran si kecil ini.”
Wanda tertunduk.
“Lelah dengan kehamilan keduamu ya, sedangkan bayimu sedang aktif minta duduk dan merangkak serta digendong?”
“Abang kemarin bercerita ingin menikah lagi. Yang ke-empat,” mengalir begitu saja ceritanya tanpa menghiraukan pertanyaanku. “Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Selama ini berbagi dengan dua wanita saja ternyata membuatku berantakan. Tetapi ini harus tiga? Ada satu lagi? Pas sebulan terdiri dari empat minggu dan kami ditengok abang seminggu dalam sebulan? Apa aku mampu? Wanita ini lebih muda dari diriku, pasti akan menuntut waktu yang lebih banyak. Sudah kuucapkan ingin berpisah, tetapi kondisiku lagi hamil muda. Harus menunggu sampai aku melahirkan dulu baru bisa proses cerai kalau keputusan kami sudah bulat. Cemburu rasanya hati ini membayangkan akan ada wanita lain setelah aku..”
“Ya itu yang dirasakan dua istri pertamanya saat tahu ada kamu yang ketiga, Wan… Kalian sama-sama tidak tahu jadi memang saling merasa tidak memperebutkan abang. Abang bermain cantik di belakang kalian semua,” aku berkata sejujurnya dan ku lihat Wanda menatapku lekat-lekat seakan baru menyadari keadaan yang sesungguhnya, bahwa dua istri terdahulunya juga mengalami rasa yang serupa dengannya saat mengetahui abang akan menikah lagi.
“Semoga aku diberi kekuatan dalam mengambil keputusan setelah bayiku lahir, yang terbaik buat aku dan kedua anakku. Doakan agar aku tabah dan sabar dalam menjalani semua ini,” Wanda menghapus air mata yang mengalir di pipinya. “Ternyata harta tidak selamanya membuatku bahagia, ada rasa yang harus dijaga, dan aku mencapai titik sakitku yang terdalam saat ini, yaitu membagi seseorang yang aku cintai…”
Aku mengusap pipi bayi yang terlelap di keretanya. “Semoga kamu menjadi anak kuat yang bisa menjaga ibu dan adikmu, apapun hasil keputusan nanti,” bisikku lirih di sela udara AC yang berhembus ringan.
