Konten dari Pengguna

Papua, Jangan Ada Duka di Tanah Surga

Ressa RnD

Ressa RnD

ASN Kementan, Univ. Yapis Papua

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ressa RnD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Elegi ASN yang Gugur di Jalan Pengabdian

Aparatur Sipil Negara di Tanah Papua

“Hujan, tak kunjung reda dari semalam; Bersama angin yang sungguh kencang; Gemuruh langit bagai genderang; Air mata pun menjelma.”

Penggalan lirik lagu “Lalu Bersama Angin” dari Vinale, ditemani secangkir kopi Papua Moanemani, menemani sa menulis. Langit mendung dengan hujan bersua gemuruh pesawat pagi ini, kontras dengan kekeringan El Nino yang melanda seantero negeri. Gemuruh dengan resonansi yang sama di dalam hati. Sa unggah gundah ini, tuk menggugah hati anak-anak Ibu Pertiwi.

Sebelas tahun lamanya sa mengabdi sebagai ASN Kementerian Pertanian di Papua. Menjalani sepertiga kehidupan dengan damai disini, hati ini su “Tatinggal di Papua”.

Dalam tulisan kisah perjuangan ASN kali ini, sa ingin menulis untuk rekan-rekan yang melayani masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, serta memastikan bantuan pangan sampai ke masyarakat pesisir dan pegunungan. Bukan hanya berkorban jauh dari keluarga dan kampung halaman, beberapa di antaranya bahkan sampai meregang nyawa.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DdIRVbvT_Pp/?stkn=bDdramFjemVsYXE5

Tiga ASN Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Jayawijaya, Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Willi Mbuik, gugur saat menjalankan tugas mulia di Muliama, 9 September 2026. Pahlawan pangan yang mungkin dalam hitungan satu-dua bulan ke depan akan hilang dari memori kolektif negeri, hanya karena dorang warga biasa.

Kasus ini bukan kali pertama. Publik bahkan mungkin sudah lupa dengan Gabriella Meilani, gadis Toraja–Jawa yang lima tahun silam, 13 September 2021, tewas di Papua Pegunungan saat menjalankan tugas. Ella, perawat muda dan anak bungsu Bapak Musidi dan Ibu Martina Rinding. Sepasang orang tua yang hingga usia senjanya tetap setia mengabdikan diri sebagai penyuluh pertanian di tanah Papua.

Tragedi serupa bukan cuman sekali-dua kali. September bagi negeri ini juga menyimpan ingatan kelam tentang G30S, sebuah peristiwa yang hingga puluhan tahun kemudian masih lekat dalam memori kolektif bangsa. Bukan untuk menyandingkan kedua tragedi, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap nyawa yang hilang selalu memiliki cerita dengan orang-orang yang menunggunya pulang.

Sejarah mungkin mencatat nama-nama besar. Tetapi mereka yang gugur dalam sunyi pengabdian pun semestinya tidak kehilangan tempat dalam ingatan hanya karena bukan jenderal, bukan pejabat, dan bukan orang besar. Nyawa setiap warga negara amat sangat berharga. Tidak memandang ia jenderal atau kopral, Orang Asli Papua maupun pendatang. Tidak boleh ada lagi nyawa anak negeri yang melayang percuma.

Berita ini tentu sampai ke Jakarta. Biasanya diiringi dering telepon dan notifikasi WhatsApp yang menyala tanpa henti. Dari seberang pulau Jawa, suara parau Bapak subuh dini hari bertanya, “Apa yang terjadi di Papua?” Lebih cemas lagi karena ini bersinggungan dengan dunia pertanian.

“Di sini kami tinggal dengan damai” adalah makna Sentani yang khas. Menjelaskan jarak Jayapura–Jayawijaya seperti Jakarta–Solo, atau Jayapura–Merauke seperti Jakarta–Surabaya, tak cukup menenangkan hati yang cemas.

Sa hanyalah satu dari sekian banyak ASN yang menjalani pengabdian dengan jarak. Sebagai ASN non-homebase, biaya menabung rindu kami tidak terlihat. Perjalanan pulang kampung bagi kami adalah menabung selama bertahun-tahun. Selembar tiket pesawat dihargai 4-5 juta. Kami keluarga kecil, tentu tidak bisa pulang semaunya. Celengan rindu sukar penuh karena tergerus mahalnya harga Papua.

Di bumi Priangan, ada keluarga yang ditinggalkan, ada rindu kepada Bapak-Ibu yang dipendam. Karena itu, semoga selalu ada perhatian bagi kami yang mengabdi di daerah perbatasan. Papua bukan sekadar tempat bekerja. Papua adalah tanah tempat jutaan manusia menggantungkan hidup dan masa depan yang berhak atas rasa aman, pendidikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Berhentilah menumpahkan darah saudara sendiri. Berulang kali narasi “Gabriella terakhir”, “Willi Mbuik terakhir” dikumandangkan. Rakyat sipil terus menjadi korban. Sebagai hamba Tuhan yang beriman, kita patut hidup damai dan sejahtera di tanah ini.

“Barang siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (I.S. Kijne, 1925).

Kami yang datang dari jauh meninggalkan tanah kelahiran, ikut menanam harapan di tanah ini. Hidup berdampingan dengan damai, berbagi rezeki, mimpi, dan masa depan. Papua bukan hanya tanah mengabdi, melainkan tanah kehidupan bersama.

Perjuangan sa mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga Bapak Musidi dan keluarga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya. Bagi banyak orang, gemuruh pesawat setiap pagi mungkin hanya perjalanan biasa. Bagi sa, ada harga tinggi yang harus dibayar untuk bertemu keluarga. Namun ada yang jauh lebih tinggi dari itu: mereka yang berjalan melaksanakan tugas, tetapi tidak pernah kembali.

Pesawat yang setiap hari membawa orang pergi dan pulang, tidak sempat membawa mereka dalam keadaan hidup.

Semoga keluarga diberikan hati yang lapang dan rekan-rekan sejawat yang gugur mendapatkan kedamaiannya. Aamiin.

“Pagi akan datang, membawa kabar dari Tuan; Tuan akan datang; Membawa pagi lebih terang.”

Tulisan ini sa mulai dan tutup dengan penggalan lirik Vinale. Ada harapan agar negara akhirnya hadir memberikan rasa aman, damai dan bahagia. Keutuhan dan bermartabatnya NKRI dilihat negara lain dari beranda terdepan negeri, dari kesejahteraan masyarakat Papua.

Semoga kisah perjuangan dan pengorbanan ASN di atas tidak hanya ber-Lalu Bersama Angin.

Papua itu katanya Surga Kecil Jatuh Ke Bumi. Karenanya, jangan sampai ada duka di tanah surga ini. (RnD)