Konten dari Pengguna

MSG Tak Selalu Seperti yang Kita Kira: Pelajaran dari Kunjungan ke PT Ajinomoto

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Retno Putri kinanthi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi penulis saat kunjungan industri ke PT Ajinomoto Indonesia di Karawang.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi penulis saat kunjungan industri ke PT Ajinomoto Indonesia di Karawang.

Selama Ini Takut Micin, Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Ketahui tentang MSG?

Kalau mendengar kata MSG, mungkin sebagian dari kita langsung teringat dengan micin dan berbagai anggapan tentang dampaknya bagi kesehatan. Ada yang memilih menghindarinya, ada juga yang menggunakannya hampir setiap hari saat memasak. Namun, seberapa banyak dari kita yang benar-benar tahu apa itu MSG dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh?

Pertanyaan itu membuat saya tertarik untuk mengenal MSG lebih jauh ketika berkesempatan berkunjung ke Ajinomoto. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk memahami lebih banyak tentang bahan yang cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari, tetapi masih sering menimbulkan pertanyaan.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa membicarakan MSG tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa bahan ini berbahaya atau aman. Ada beberapa hal yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan.

Ternyata, Glutamat Tidak Hanya Ada dalam Micin

Salah satu hal menarik ketika membahas MSG adalah kandungan glutamat di dalamnya. MSG merupakan singkatan dari monosodium glutamate, yaitu bahan penguat rasa yang memberikan sensasi gurih atau umami pada makanan.

Yang mungkin belum banyak diketahui, glutamat sebenarnya juga terdapat secara alami dalam berbagai makanan yang kita konsumsi. Tomat, keju, daging, dan ikan merupakan beberapa contohnya. Glutamat juga merupakan bagian dari protein dalam tubuh manusia.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), glutamat dalam MSG secara kimiawi sama dengan glutamat yang terdapat secara alami dalam makanan. Tubuh memproses glutamat dari kedua sumber tersebut dengan cara yang sama.

Informasi ini membuat saya melihat pembahasan tentang MSG dari sudut pandang yang lebih luas. Selama ini, kita mungkin lebih sering mendengar kata micin dalam konteks negatif, tanpa benar-benar memahami zat yang terkandung di dalamnya.

Tentu saja, hal ini bukan berarti semua makanan yang mengandung glutamat otomatis sehat. Kandungan gizi makanan tetap perlu dilihat secara keseluruhan. Namun, setidaknya kita bisa memahami bahwa glutamat bukanlah zat yang hanya ditemukan dalam MSG.

Jadi, Apakah MSG Aman untuk Tubuh?

Ini mungkin menjadi pertanyaan yang paling sering muncul ketika membahas MSG. Wajar jika kita ingin mengetahui keamanan bahan yang dikonsumsi sehari-hari, terlebih ketika ada banyak informasi berbeda yang beredar di masyarakat.

Untuk menjawabnya, kita bisa melihat penjelasan dari lembaga yang melakukan evaluasi keamanan pangan.

FDA mengategorikan MSG sebagai bahan yang secara umum diakui aman untuk digunakan dalam pangan. Sementara itu, Komite Ahli Gabungan FAO/WHO tentang Bahan Tambahan Pangan (JECFA) juga telah mengevaluasi keamanan glutamat dan garam-garamnya, termasuk MSG.

JECFA menetapkan status acceptable daily intake (ADI) kelompok tersebut sebagai not specified. Secara sederhana, status ini berarti bahwa berdasarkan evaluasi yang dilakukan, batas asupan harian dalam bentuk angka tertentu tidak dianggap perlu ditetapkan untuk kelompok tersebut dalam kondisi penggunaan yang sesuai.

Meski begitu, bukan berarti MSG boleh dikonsumsi tanpa batas. Penggunaannya tetap perlu mengikuti ketentuan yang berlaku dan menjadi bagian dari pola makan yang seimbang.

FDA juga menjelaskan bahwa penelitian pada orang yang menganggap dirinya sensitif terhadap MSG belum secara konsisten menunjukkan bahwa MSG menyebabkan keluhan yang dilaporkan. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa setiap keluhan setelah makan pasti disebabkan oleh MSG.

Dari sini, saya memahami bahwa persoalan keamanan pangan sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan kabar yang sering didengar. Penjelasan ilmiah juga perlu diperhatikan agar kita bisa membedakan antara anggapan, pengalaman pribadi, dan hasil penelitian.

Dok. Istimewa

Di Balik MSG yang Kita Gunakan Sehari-hari

Selain membahas kandungannya, mengenal MSG juga bisa dimulai dengan memahami bagaimana produk ini dibuat.

Berdasarkan informasi resmi Ajinomoto Indonesia, produksi MSG AJINOMOTO menggunakan bahan baku seperti tetes tebu dan singkong. Proses pembuatannya melibatkan fermentasi dengan bantuan mikroorganisme untuk menghasilkan asam glutamat. Setelah itu, bahan diproses lebih lanjut hingga menghasilkan kristal MSG.

Proses tersebut menunjukkan bahwa produk yang terlihat sederhana ketika digunakan untuk memasak ternyata memiliki tahapan pengolahan tersendiri. Dalam industri pangan, proses produksi perlu dikendalikan agar produk memenuhi standar yang ditetapkan. Karena itu, pembahasan mengenai MSG juga berkaitan dengan pengolahan bahan baku, proses produksi, dan keamanan produk yang dihasilkan.

Bagi saya, mengenal proses di balik suatu produk merupakan tambahan wawasan yang menarik. Kita tidak hanya mengetahui kegunaannya, tetapi juga bisa memahami bahwa ada proses pengolahan yang perlu diperhatikan sebelum produk sampai ke tangan konsumen.

Belajar Melihat MSG dengan Sudut Pandang Berbeda

Kunjungan ke Ajinomoto menjadi pengingat bagi saya bahwa sesuatu yang sering ditemui sehari-hari masih bisa menyimpan banyak hal untuk dipelajari.

MSG mungkin sudah akrab di dapur, tetapi pemahaman kita tentang kandungan dan keamanannya belum tentu lengkap. Ada informasi tentang glutamat dan evaluasi keamanan pangan yang bisa membantu kita melihatnya secara lebih utuh.

Bukan berarti setelah mengetahui fakta-fakta tersebut kita harus menganggap MSG sebagai bahan yang menyehatkan tubuh. Kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa MSG dinilai aman untuk penggunaan pangan sesuai ketentuan, sementara kualitas pola makan tetap ditentukan oleh banyak faktor.

Kita tetap perlu memperhatikan konsumsi garam dan natrium, memilih makanan yang beragam, serta menjaga keseimbangan gizi sehari-hari.

Pada akhirnya, hal yang paling berkesan dari mempelajari MSG adalah pentingnya memeriksa kembali informasi yang selama ini dipercaya. Saya belajar bahwa memahami sesuatu tidak cukup hanya dengan mengikuti anggapan yang beredar, tetapi juga perlu disertai kemauan untuk mencari tahu dan melihat bukti yang tersedia.

Sebab, terkadang pengetahuan baru bukan hanya menambah informasi, tetapi juga membantu kita memahami sesuatu yang selama ini kita anggap sudah kita ketahui.