Like dan View Bukan Ukuran Nilai Sebuah Gagasan

mahasiswa aktif jurnalistik Islam universitas Islam UIN Sultan Thaha Saifudin Jambi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reza Valevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di media sosial, sebuah gagasan dapat menjadi viral hanya dalam hitungan jam. Jumlah tanda suka, komentar, dan penayangan sering kali menjadi perhatian utama. Semakin tinggi angkanya, semakin banyak pula orang yang menganggap sebuah konten menarik dan layak diperhatikan.
Namun, popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas. Sebuah gagasan bisa mendapatkan jutaan penayangan karena menghibur, kontroversial, atau mengikuti tren, sementara tulisan yang berisi pemikiran mendalam justru hanya dibaca oleh sedikit orang. Di sinilah kita perlu membedakan antara sesuatu yang populer dan sesuatu yang bernilai.
Persoalannya, masyarakat digital semakin terbiasa menggunakan angka sebagai ukuran keberhasilan. Konten dengan sedikit interaksi mudah dianggap tidak menarik, sedangkan konten yang ramai langsung dipandang penting. Padahal, jumlah orang yang melihat sebuah gagasan tidak otomatis menentukan seberapa baik gagasan tersebut.
Fenomena ini juga memengaruhi cara orang menyampaikan pendapat. Sebagian pengguna media sosial akhirnya lebih memilih membuat konten yang berpotensi mendapatkan perhatian daripada menyampaikan gagasan yang benar-benar mereka anggap penting. Judul dibuat semakin sensasional, pernyataan dipersingkat, dan persoalan kompleks sering dipaksa menjadi sederhana agar mudah dikonsumsi.
Akibatnya, ruang digital berisiko dipenuhi gagasan yang mengejar perhatian, bukan gagasan yang menawarkan pemahaman. Sesuatu yang memancing emosi sering lebih cepat menyebar dibandingkan penjelasan yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Masyarakat pun semakin terbiasa bereaksi sebelum benar-benar memahami.
Padahal, sebuah gagasan tidak selalu harus menjadi viral untuk memiliki manfaat. Pemikiran yang hanya dibaca oleh puluhan orang tetap dapat memberikan perubahan jika mampu membuat seseorang berpikir, mempertanyakan sesuatu, atau melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam dunia pendidikan dan intelektual, ukuran seperti itu menjadi semakin penting. Sebuah penelitian, buku, atau tulisan tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak mendapatkan banyak tanda suka. Nilai sebuah gagasan seharusnya dilihat dari kekuatan argumennya, manfaatnya, serta kemampuannya memberikan pemahaman baru.
Hal yang sama berlaku bagi para penulis dan pembuat konten. Tidak semua gagasan harus dibuat untuk mengejar algoritma. Ada kalanya sebuah tulisan memang membutuhkan ketenangan, kedalaman, dan waktu agar dapat dipahami. Jika setiap karya hanya dibuat berdasarkan apa yang paling banyak disukai, kreativitas dan keberanian menyampaikan gagasan berbeda justru bisa semakin terbatas.
Karena itu, masyarakat perlu belajar melihat media sosial secara lebih kritis. Jumlah like dan view memang dapat menunjukkan tingkat perhatian, tetapi tidak cukup untuk menentukan kualitas sebuah gagasan. Angka menunjukkan berapa banyak orang yang melihat, bukan seberapa dalam mereka memahami.
Di sinilah pentingnya mengubah cara kita memandang keberhasilan sebuah gagasan. Sebuah tulisan tidak harus mendapatkan ribuan tanda suka untuk dianggap bermakna. Jika tulisan tersebut mampu membuat pembaca berpikir, memahami persoalan, atau bahkan mengubah cara pandangnya, maka gagasan itu telah mencapai sesuatu yang lebih penting daripada sekadar angka.
Media sosial memang memiliki peran besar dalam memperluas jangkauan sebuah gagasan. Namun, algoritma platform digital bekerja berdasarkan pola interaksi pengguna. Konten yang banyak mendapat perhatian cenderung lebih sering ditampilkan. Kondisi ini membuat popularitas semakin mudah dianggap sebagai ukuran kualitas, meskipun keduanya merupakan hal yang berbeda.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap kebiasaan mengikuti apa yang sedang ramai. Ketika sebuah pendapat memiliki jutaan penonton, bukan berarti pendapat tersebut otomatis benar. Sebaliknya, gagasan yang belum banyak dikenal juga tidak berarti salah atau tidak penting. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang menekan tombol suka.
Budaya digital seharusnya mendorong masyarakat untuk lebih banyak membaca, memahami, dan mempertanyakan. Sebelum memberikan penilaian terhadap sebuah gagasan, kita perlu melihat alasan yang digunakan, bukti yang disampaikan, serta konteks persoalan yang dibahas. Dengan begitu, kita tidak mudah terbawa arus popularitas.
Bagi generasi muda, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Mereka tumbuh di tengah lingkungan yang dipenuhi informasi dan berbagai bentuk konten. Jika tidak memiliki kemampuan berpikir kritis, seseorang akan mudah menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang membicarakannya.
Pada akhirnya, angka memang memiliki tempatnya sendiri. Jumlah like dan view dapat membantu melihat seberapa luas sebuah konten mendapatkan perhatian. Namun, angka tersebut seharusnya menjadi data, bukan penentu tunggal nilai sebuah gagasan. Perhatian publik dan kualitas pemikiran adalah dua hal yang berbeda.
Kita membutuhkan ruang digital yang tidak hanya ramai, tetapi juga sehat. Ruang yang memberikan kesempatan bagi gagasan yang berbeda untuk didengar, bagi tulisan yang mendalam untuk dibaca, dan bagi masyarakat untuk berdiskusi tanpa harus mengejar popularitas. Sebab, tidak semua hal yang penting harus menjadi viral.
Pada akhirnya, like dan view hanyalah angka, sedangkan gagasan memiliki nilai yang jauh lebih panjang daripada angka tersebut. Sebuah pemikiran mungkin tidak langsung mendapatkan perhatian besar, tetapi dapat tinggal dalam pikiran seseorang dan mendorong perubahan. Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar jumlah penonton hingga lupa bertanya: apakah yang kita sampaikan benar-benar memiliki makna?
