Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja? Ini Obatnya Menurut Al-Farabi

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keberlangsungan hidup manusia dan keutuhan bumi di dunia ini tengah berada dalam krisis yang mengancam. Fenomena perubahan iklim, tidak hanya wacana ilmiah, akan tetapi realitas katasrofik yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil yang menjadi sebab meningkatnya konsentrasi karbondioksida (CO₂) dan pengalihan fungsi lahan.
Sejalan dengan krisis iklim, polusi udara menjadi “pembunuh senyum” global yang merusak kesehatan sistem pernafasan dan kardiovaskular (pembuluh darah) jutaan penduduk di kota-kota besar dunia, dikarenakan polusi udara mengandung substansi kompenen berbahaya seperti particulate matter (PM 2.5), nitrogen dioksida (NO₂), dan ozon troposferik (O₃).
Mengalami situasi degrasi ekologis ini, jurang kesenjangan sosial semakin meluas. Terciptanya sekat ekonomi antar kasta di golongan masyarakat dunia yang bergulat dengan kemiskinan ekstrem. Bukan hanya masalah ekonomi, kekhawatiran lain seperti ada kemungkinan timbunya kriminalitas, penyalahgunaan narkotika, kerusakan psikologi dan ketidaksamarataan hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang setara. https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=++Mochamad+Syawie%2C+Kemiskinan+dan+Kesenjangan+Sosial%2C+2011%2C+Vol.+16+No.+03%2C+hal.+213-215.+++&btnG=#d=gs_qabs&t=1791095108148&u=%23p%3DeM1boSJA8bAJ
Ironinya, untuk menghadapi krisis isu global ini, dunia sangat membutuhkan kompas moral, esensi pendidikan justru mengalami reduksi makna yang mengkhawatirkan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tahapan transformasi nilai dan landasan pembentukan karakter manusia seutuhnya, kini sering kali dipersempit menjadi pembelajaran tekstual dan teknokratis atau hanya instruksi prosedural yang berorientasi pada tingkat pencapaian materi dan administrasi akademis semata. Krisis moralitas menunjukan hilangnya nilai-nilai filosofis dan transendental dalam pendidikan menjadikan manusia kehilangan sensitivitas terhadap kerusakan alam dan penderitaan sesama.
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar pertama di dunia dan menempati peringkat keempat dunia yang memiliki populasi terbanyak dan terus melonjak secara signifikan. Hal ini tentu menghadapkan Indonesia pada krisis global yang nyata.
Melansir dari data World Population Review, pada 27 April 2026 jumlah penduduk dunia mencapai 8,3 miliar. Sedangkan Indonesia menyumbang angka 287, 89 juta jiwa yang diproyeksi naik 0,76 % dari tahun 2025.https://share.google/CNhM54utAn7mtTGiZ
Peningkatan jumlah penduduk yang masif setiap tahunnya memicu terjadinya kemacetan, sebagai rutinitas merugikan secara ekonomi dan kesehatan, di mana Indonesia berada dalam indeks kemacetan tertinggi di dunia. Lalu jumlah penduduk yang meningkat itu memicu eksploitasi lahan tak terkendali. Alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan pemukiman dan industri secara sporadis, menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, terancamnya ketahanan pangan nasional, mudah diserang banjir, serta polusi udara yang melonjak tinggi. Khususnya di wilayah perkotaan, Indonesia menghadapi kompleksitas polusi, misalnya, Jakarta pernah tembus 4,5 kali dari ambang ketetapan WHO (World Health Organization), lalu melampaui tiga kali lebih besar dari standar ketetapan pemerintah Indonesia.
Tantangan ini diperumit dengan fenomena gentrifikasi. Revitalisasi ruang kota berujung pada penyingkiran paksa kelompok marjinal untuk kepentingan pasar dan estetika kelas menengah, anti terhadap elemen kotor perkumuhan yang erat kaitannya dalam pembangunan kawasan urban.
Kasus konkret bisa dilihat pada sterilisasi kawasan Kota Tua Jakarta dan penggusuran pemukiman di bantaran sungai. Walaupun bertujuan memperbaiki lingkungan menjadi lebih berkualitas, namun sering kali menciptakan ketidakadilan dan masalah baru.
Melalui penggabungan etika ekologis dengan filsafat politik, konsep negara utama yang diusung Al-Farabi pada karyanya Al-Madinah Al-Fadhilah menawarkan fondasi untuk memahami tatanan semesta, mewujudkan negara paripurna, diibaratkan tubuh yang sempurna dan sehat, seluruh organ (rakyat dan pemerintah) saling bekerja sama untuk memelihara keberlangsungan hidupnya, mencapai kebahagiaan sejati. Harus diintegrasikan dengan pradigma kota regeneratif yang berakar pada alam semesta yang hidup.
Entitas alam yang memiliki jiwa intrinsik harus segara dipulihkan. Menuntut transformasi dari ekonomi linear (ambil-pakai-buang) menuju ekonomi sirkular yang lebih menghormati siklus hidup seluruh makhluk.
Di Indonesia dapat diimplementasikan dengan cara memperkuat hak atas kota bagi seluruh lapisan warga tanpa diskriminasi yang bertujuan untuk melawan dampak negatif gentrifikasi. Cara lain diperlukan kriteria pemimpin ideal menurut Al-Farabi tentang penguatan kepemimpinan arif yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mempunyai integritas moral spiritual seperti jujur, amanah, dan cinta keadilan.
Melalui perpaduan antara keteraturan sosial Al-Madinah Al-Fadhilah dan pemulihan aktif ekosistem menuju kota regeneratif, Indonesia memiliki peluang untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang mampu menghadirkan kebahagiaan sejati dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
