Konten dari Pengguna

Orang Awam Takut Filsafat? Pelajaran Pahit Mencoba Menyelamatkan Masyarakat

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber: gemini

Pertemuan Dua Manusia Pilihan: Akal Murni dan Wahyu Ilahi

Kisah perbenturan ini bermula ketika seorang pemuda saleh bernama Absal datang ke Pulau Faq-faq, pulau terpencil tempat Hayy hidup sebatang kara sejak bayi. Absal berasal dari pulau tetangga yang dipimpin oleh sahabatnya, Raja Salaman. Berbeda dengan masyarakat umum yang puas dengan ritual keagamaan lahiriah, Absal menyukai perenungan mendalam dan pencarian makna batiniah (batin).

Ketika Absal dan Hayy pertama kali bertemu, terjadi kecanggokkan luar biasa. Absal yang awalnya ketakutan segera mengajari Hayy bahasa manusia. Begitu Hayy bisa berbicara, keduanya pun bertukar kisah hidup.

Di sinilah terjadi momen eureka yang menakjubkan. Absal menceritakan wahyu Allah, ajaran nabi, kisah surga-neraka, dan syariat agama. Hayy menceritakan pencapaian intelektual dan pengalaman mistisnya (musyahadah) yang ia temukan murni melalui observasi alam dan kesucian kalbu.

Meskipun Absal kagum pada Hayy, Hayy merasa keheranan dengan satu hal dari cerita Absal: Mengapa kitab suci harus menyampaikan kebenaran lewat perumpamaan fisik, simbol-simbol, serta aturan hukum yang rumit? Mengapa manusia perlu diancam neraka atau diiming-imangi surga materi untuk menyembah Tuhan?

Dengan penuh semangat, Hayy percaya bahwa jika masyarakat diberi tahu kebenaran hakiki tanpa perantara kiasan, mereka akan langsung mengerti dan memperoleh kebahagiaan spiritual yang sama. Hayy dan Absal akhirnya berlayar menuju pulau tempat tinggal Raja Salaman dan rakyatnya.

Di sana, Hayy mulai berkhotbah. Ia mengajarkan rahasia filsafat, pengenalan Tuhan secara murni (ma'rifat), dan pentingnya melepaskan diri dari ikatan duniawi. Namun, apa yang terjadi? Masyarakat justru bingung, asing, dan menolak keras.

Tiga Tipe Manusia dan Realita Mentalitas Awam

Masyarakat di bawah kepemimpinan Raja Salaman merasa terganggu dengan ajaran Hayy. Bagi mereka, agama adalah tentang menjalankan perintah hukum lahiriah, menjaga ketertiban sosial, dan berdagang dengan tenang. Ketika diajak berpikir abstrak tentang esensi Ketuhanan dan pembersihan jiwa yang melampaui simbol materi, mereka menjadi cemas dan marah.

Dari kegagalan ini, Ibnu Tufail menyampaikan pesan kritik sosial dan epistemologi yang sangat tajam melalui tiga personifikasi tokoh:

1. Hayy (Tipe Filosofis-Mistis / Akal Murni)

Mewakili segelintir manusia dengan daya intelek (an-nafs an-natiqah) dan kesucian jiwa tertinggi yang sanggup menangkap kebenaran intuitif secara langsung tanpa kiasan.

2. Absal (Tipe Pencari Batin / Esoteris)

Mewakili kelompok terpelajar yang hidup dalam tradisi wahyu, namun mampu melihat makna mendalam di balik teks-teks kitab suci.

3. Salaman dan Masyarakat Awam (Tipe Formalis / Exoteris)

Mewakili mayoritas masyarakat yang akalnya terikat pada benda-benda indrawi dan kepentingan praktis. Bagi mereka, agama harus berbentuk aturan konkret, kisah-kisah simbolis, dan batasan hukum yang jelas.

Hayy akhirnya menyadari sebuah kebenaran besar: Nabi dan syariat agama dihadirkan oleh Allah dengan bahasa perumpamaan karena disesuaikan dengan kadar kemampuan akal mayoritas manusia ('ala qadri 'uqulihim).

Jika masyarakat awam dipaksa membongkar simbol-simbol agama untuk mengejar filsafat murni, mereka bukannya menjadi bijak, melainkan malah bingung, kehilangan pegangan moral, dan jatuh ke dalam kebinasaan. Syariat formal dengan ajaran lahiriahnya adalah "benteng pelindung" yang sangat vital demi menjaga kedamaian hidup manusia.

Keputusan Akhir: Kembali ke Pulau Pengasingan

Menyadari keterbatasan tersebut, Hayy tidak memaksakan kehendaknya. Dengan penuh kerendahan hati, ia meminta maaf kepada Raja Salaman dan pengikutnya. Hayy menasihati mereka agar tetap teguh memegang aturan-aturan lahiriah agama, tidak melampaui batas syariat, serta berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah itu, Hayy mengajak Absal untuk berlayar kembali ke Pulau Faq-faq. Di pulau terpencil yang jauh dari bisingnya peradaban dan prasangka masyarakat, keduanya menghabiskan sisa hidup mereka dalam penyendirian (tafrid), beribadah, dan menyatu dalam kebahagiaan musyahadah bersama Sang Maha Pencipta.

Pelajaran untuk Dunia Modern

Lewat karya abad pertengahan ini, Ibnu Tufail meninggalkan pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa:

  • Tingkat pemahaman manusia berbeda-beda, sehingga cara menyampaikan kebenaran pun tidak bisa diseragamkan.

  • Ritual dan simbol agama lahiriah bukanlah hal sia-sia, melainkan fondasi moral yang menjaga struktur sosial masyarakat dari kekacauan.

  • Filsafat dan ketaatan lahiriah tidak harus berselisih; keduanya menjalankan fungsinya masing-masing dalam menuntun manusia sesuai kapasitas akalnya.