Konten dari Pengguna

Petani 'Green Habit', Kunci Piring Kita Aman!

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: gemini
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: gemini

Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, di mana isi buminya sangat diperhitungkan secara internasional dan menjadi tumpuan pengembangan ekonomi nasional. Namun, di balik potensi besar tersebut, ketahanan pangan global maupun nasional saat ini berada di persimpangan jalan.

Setelah krisis ekonomi menimpa banyak negara berkembang, pembangunan sektor pertanian kini menjadi harapan baru untuk bangkit secara bertahap. Sayangnya, para petani kita sering dihadapkan pada dilema berat. Tuntutan produksi pangan yang tinggi terbentur langsung oleh krisis ekologi akibat praktik pertanian intensif konvensional.

Lantas, bagaimana caranya agar piring nasi kita tetap aman tanpa harus mengorbankan kelestarian alam? Jawabannya ada pada revolusi perilaku petani melalui pembentukan green habit.

Kesadaran Lingkungan Saja Tidak Cukup!

Secara teoretis, manusia adalah makhluk sadar lingkungan. Menurut ahli filsafat Konrad Kebung (2008), setiap manusia dibekali kesadaran, kebebasan, dan nalar kritis untuk melihat apa yang baik bagi dirinya, orang lain, maupun ekosistem sekitarnya. Petani pun sebenarnya sadar akan bahaya racun kimia dan kerusakan tanah.

Namun masalahnya, kesadaran kognitif tidak otomatis melahirkan aksi nyata. Dalam realitas di sawah, nalar kritis sering kali kalah oleh rutinitas bertani yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada mekanisme kerja otak manusia. Secara ilmiah, dari 11.000 sinyal yang diterima otak setiap detik, hanya 40 sinyal yang diproses secara sadar, sementara sisanya diolah secara otomatis di luar kesadaran kita.

95% Perilaku Manusia Itu Otomatis: Pandangan Felix Siauw

Fakta mekanisme otak ini dipertegas oleh Felix Siauw (2014) dalam bukunya yang berjudul Habits. Ia menjelaskan bahwa setidaknya 95% dari respons manusia terhadap kondisi tertentu terjadi secara alamiah atau otomatis. Respons otomatis tersebut dapat berupa pemikiran, perasaan, maupun perbuatan yang timbul dari kebiasaan (habit) yang telah terbentuk dalam diri kita.

Melihat fakta tersebut, niat baik untuk menjaga alam tidak akan membalas krisis ekologi jika hanya berhenti di tingkat kesadaran. Kesadaran lingkungan harus ditransformasikan menjadi green habit, yaitu kebiasaan hijau bertani yang berjalan secara refleks dan otomatis dalam keseharian.

Ilmu Pertanian dan 'Green Habit' di Lapangan

Untuk mengubah niat baik menjadi kebiasaan otomatis, para petani membutuhkan landasan ilmu pertanian terapan dan manajemen perlindungan tanaman yang konkret.

Pertanian sendiri merupakan kebudayaan tertua manusia untuk menjawab tantangan kelangsungan hidup. Anwas Adiwilaga (1972) mendefinisikan pertanian sebagai kegiatan memelihara tanaman dan ternak pada sebidang tanah tanpa menyebabkan tanah tersebut rusak untuk masa produksi berikutnya.

Manajemen perlindungan tanaman hadir sebagai kerangka kerja logis untuk menggantikan rutinitas merusak dengan praktik ekologis:

  1. Perbaikan Biofisik & Tanah: Mengolah tanah secara bijak, membenahi tata air, serta menyeimbangkan pemupukan organik dan anorganik guna mencegah erosi.

  2. Pengendalian Hama Terpadu (PHT): Mengelola populasi hama secara alami dan terpadu tanpa bergantung penuh pada racun kimia berbahaya.

  3. Efisiensi Iklim Mikro & Nutrisi: Memaksimalkan pemanfaatan radiasi matahari, merawat hara tanah, menggunakan mulsa, serta menata pola tanam.

  4. Benih Unggul & Proteksi Dini: Memilih bibit bergenotipe unggul dan melakukan proteksi tanaman secara konsisten dari awal tanam hingga panen.

Pengesahan Kelompok Tani: Mengubah Kebiasaan Individu Menjadi Norma Bersama

Mengubah kebiasaan bertani tidak bisa dilakukan sendirian. Dari sudut pandang sosiologi pembangunan pertanian, green habit ini harus disahkan dan didukung oleh kelompok tani di tingkat lokal.

Ketika kelompok tani menyepakati dan mempraktikkan manajemen perlindungan tanaman secara bersama-sama, mekanik kebiasaan (habit mechanics) tersebut akan menjadi standar baru yang diakui bersama. Niat baik yang tadinya sebatas kesadaran individu pun berubah menjadi gerakan kolektif yang efisien dan logis secara agronomi.

Pangan Aman, Indonesia Bebas Krisis Masa Depan

Penerapan green habit di tingkat petani bukan sekadar gaya-gayaan atau tren lingkungan sesaat, melainkan prasyarat mutlak untuk menjaga stabilitas bangsa.

Ketika kebiasaan hijau ini mengakar luas, dampak positifnya sangat terasa:

  • Tanah Subur & Ekosistem Resilien: Kesehatan tanah terjaga dan tanaman jauh lebih tahan terhadap perubahan iklim maupun serangan hama.

  • Hemat Biaya Produksi: Petani dapat menekan biaya pengeluaran untuk bahan kimia berbiaya tinggi yang tidak efisien.

  • Pangan Sehat untuk Konsumen: Menghasilkan produk pertanian yang cukup, aman, serta bergizi secara berkelanjutan.

Dengan mendorong green habit pada petani kita, Indonesia secara proaktif sedang membangun benteng ketahanan pangan yang kokoh guna melindungi seluruh masyarakat dari ancaman krisis ekonomi global di masa depan.