Konten dari Pengguna

Sosok Inspiratif, Konsisten Berjualan Tahu di Masa Pandemi

Ria Rahma Sukmawardani

Ria Rahma Sukmawardani

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ria Rahma Sukmawardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penampakan kios Wasiyati di Pasar Sentul Yogyakarta.
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan kios Wasiyati di Pasar Sentul Yogyakarta.

Yogyakarta-Kisah kehidupan Wasiyati (53), seorang ibu tunggal yang berjualan tahu murni di Pasar Sentul Yogyakarta. Tak seberuntung para pekerja yang Work From Home (WFH), dimasa pandemi ini ia tetap harus berjualan setiap hari. Berangkat dari rumahnya sesaat sebelum adzan subuh. Ketika semua orang masih terlelap, Ia tetap bersemangat demi menghidupi keluarganya.

Para pelanggan biasa menyebut kiosnya “Tahu Bu Atmo” diambil dari nama orang tua Ibu Wasiyati. Karena usaha ini merupakan usaha milik orang tuanya yang ia teruskan. Ia menggantikan ibunya berjualan di pasar karena beliau sudah sakit tua. Pabriknya berada di Srandakan, Bantul. Kiosnya sendiri terdiri dari dua area yakni miliknya dan juga bersebelahan dengan kios kakaknya yang berjualan sembako.

Kios sembako milik kakak beliau.

“Tahu yang akan dijual hari ini diantar ke pasar oleh adik saya. Sekitar pukul 02.00 pagi berangkat dari pabrik di Bantul dengan mobil. Jadi saya harus sudah di pasar saat tahu sudah datang yaitu pukul 03.00 pagi,” jelas Wasiyati.

Hadirnya Covid-19 sangat memengaruhi kehidupan semua orang dalam segala aspek. Terutama di dalam aspek ekonomi. Hal ini juga dialami Wasiyati, dimana usahanya mengalami penurunan omzet yang cukup tinggi. Menurutnya, pengaruh terbesar adalah karena sekolah diadakan secara online. Sehingga penjual makanan mengurangi jumlah bahan pokok mereka saat berbelanja. Karena mayoritas pembeli makanan adalah pelajar.

“Sebenarnya saya punya banyak langganan tetap. Namun karena sekolah tutup, mereka jadi sedikit belanjanya tidak seperti dulu sebelum pandemi. Dalam sehari tahu yang saya jual belum tentu habis semua. Penghasilan jadi menurun separuh lebih,” keluhnya.

Saat ditemui pada Rabu (28/10) kemarin, Wasiyati mengaku sangat terdampak dengan adanya pandemi. Ia mengatakan bahwa banyak pedagang mengalami kerugian besar karena kondisi pasar yang sangat sepi. Mahasiswa dan pelajar banyak yang pulang ke daerah mereka masing-masing. Tak jarang pedagang mengambil uang tabungan mereka untuk menutup uang modal agar tetap bisa berjualan seperti biasa. Meski begitu, kualitas tahu tetap terjaga karena selalu baru. Hanya saja produksi tahu menjadi sedikit karena bahan baku yang juga tidak murah.

“Kalau dibilang takut, saya takut. Tetapi demi untuk makan saya sekeluarga saya tetap berjualan. Yang penting saya mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, selalu cuci tangan, dan jaga jarak. Ini juga di kios saya sediakan hand sanitizer,” tuturnya.

Wasiyati berharap agar pandemi wabah virus corona ini segera berakhir meghilang dari bumi agar semua dapat normal kembali. Omzet naik dan produksi kembali berjalan lancar. Balik modal lagi agar tidak terus-terusan menombok. Yang terpenting ia ingin seluruh masyarakat mematuhi protokol kesehatan agar setidaknya satu sama lain merasa aman saat diluar rumah. Ia juga akan tetap konsisten berjualan agar tetap bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kisah Wasiyati sangat menginspirasi kita untuk selalu bersabar dan berusaha apapun kondisinya. Jika kita pantang menyerah tujuan yang kita tuju pasti perlahan dapat tercapai. Baginya, hidup tidak untuk mengeluh karena rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Jika Anda tertarik membeli dagangan Ibu Wasiyati bisa datang ke Pasar Sentul, Yogyakarta. Ia buka dari pukul 05.00 – 10.00 WIB.